
~Malam hari~
Zia berjalan mendekat kearah meja makan untuk melaksanakan makan malam dengan para kakaknya,sejujurnya saat ini ia merasa gugup dan takut karena untuk pertama kalinya selama tinggal disini Zia hanya makan berlima dengan kakak kakaknya tanpa ada kedua orang tuanya.
"Selamat malam"sapanya berusaha bersikap biasa saja.
"Malam dek"balas kakak pertama dan terakhirnya Zia yaitu Arga dan Liona.
"Kalau gak niat makan malam bilang,kita capek nungguin lo dari tadi"ujar saudari tertuanya Zia sesaat setelah ia duduk dikursi sebelah Liona.
"Maaf kak"ucap Zia.
"Gak usah minta maaf dek,lagian kakak sama yang lain juga baru datang juga"ujar Arga pada adik bungsunya itu,matanya berpindah pada sang kembaran yang terus menatap sinis Zia.Baru saja mulutnya hendak mengeluarkan suara untuk menegur sang kembaran tapi setelah mndengar suara dari adik keduanya,Arga langsung mengurungkan niatnya tersebut.
"Jangan brisik,ayo makan"ujar Lyn terkesan dingin ditelinga orang yang mendengarnya dan tentu saja suasana disekitar langsung hening seketika dan kelima anak keturunan keluarga Antara itu segera memulai makan malamnya.
Begitu juga dengan Zia,gadis itu terlihat sangat fokus pada piring. Zia makan secepat mungkin,ia tak bisa terlalu lama berada dimeja makan itu.Aura dan tatapan saudari tertuanya masih saja sama seperti tadi ia bisa merasakannya,oleh karena itu ia berusaha untuk jangan sampai menatap kearah depan tempat dimana saudari tertuanya itu duduk.
Gia yang berada diseberang meja tepat duduk sejajar dengan Zia,gadis 21 tahun itu dengan sengaja menikmati makanannya sekambat mungkin sambil sesekali terus memberikan tatapan penuh intimidasi pada gadis SMA yang duduk didepannya itu.Perempuan itu tau pasti kalau remaja SMA yang berstatus saudarinya dari beda ibu itu sedang menghindari interaksi mata dengannya,terbukti gadis itu terlihat sengaja menunduk dari tadi.
*Cih!kemana perginya keberaniannya yang tadi?*ujar Gia dalam hatinya.
Lyn yang duduk disamping Gia selesai menghabiskan sendokan maknan terakhirny,setelah itu gadis berwajah dingin itu meraih gelas berisi air putih dan meneguknya sampai habis.Gadis itu sudah menyelesaikan makan malamnya,Lyn menoleh kearah samping dimana kakak perempuannya duduk.Keningnya sedikit menyergit menyadari tatapan yang dilayanhkan Gia kepada Zia,sedangkan sibunggu yang menjadi sasaran tatapan itu terlihat sengaja hanya menunduk sambil memainkan sendok dan garpu diatas piringnya yang sudah kosong.
*Anak itu sudah selesai makan juga*pikir Lyn,setelah mengamati lebih lama akhirnya ia bisa membaca keadaan.
Kriet...suara kursi bergesekan dengan lantai terdengar saat Lyn berdiri dari kursinya,membuat atensi yang lain langsung terfokus padanya
"Aku sudah selesai,selamat malam" ujar Lyn dingin langsung meninggal kan meja makan,tak peduli dengan tanggapan kakak dan adiknya.
Kriet...suara gesekan kursi dan lantai kembali terdengar,kali ini berasal dari Zia.
"Kak Arga,kak Gia,dan Lio.Zia pamit duluan kekamar ya"ucap gadis itu.
"Loh kok lo cepet banget dek, selesainya?lo cuma makan dikit"tanya Liona melihat piring dan gelas adiknya itu sudah kosong.
"Enggak kok"jawab Zia.
"Yaudah sana,kamu boleh kekamar"ujar Arga memberi izin untuk Zia yang ingin meninggalkan meja makan terlebih dahulu.
Brak..Zia menutup pintu kamarnya terburu buru kemudian langsung masuk kedalam kamar mandi,ia manyalakan kran air dan langsung membasuh hidungnya yang sejak tadi ia tutup dengan salah satu telapak tangannya.
Air kran yang ada didalam wastafel terlihat bercampur dengan warna kemerahan yang berasal dari darah yang mengalir dari hidung Zia.
Setelah darah yang mengalir dari hidungnya sudah selesai ia bersihkan,Zia menghela nafas sambil menatap pantulan dirinya pada cermin dihadapannya.
Tadi setelah meninggalakan meja makan dan menaiki anak tangga,Zia tiba tiba merasa ada sesuatu yang mengalir dari lubang hidungnya. Tangannya refleks memeriksa apa itu dan ternyata itu darah dia mimisan, ia langsung menyumpal hidungnya dengan telapak tangannya kemudian langsung mempercepat langkahnya segera langsung menuju kekamarnya.
"Untung aja mimisannya datang pas gue udah pergi dari meja makan" gumam Zia tersenyum lega,tapi
*Emang bakal ada yang peduli kalau lo mimisan didepan mereka?*
sebuah pertanyaan langsung muncul dipikiran gadis itu,senyuman dan wajah leganya yang tadi langsung berubah menjadi datar.
"Mungkin enggak,tapi setidaknya lo gak menimbulkan rasa kasian atas kelemahan lo Zia"gumam Zia kembali untuk menjawab pertanyaan yang muncul dari pikirannya sendiri.
Sekeluarnya Zia dari kamar mandi, gadis itu langsung meneguk beberapa pil obat miliknya untuk mencegah penyakitnya kambuh.Apalagi ia mulai merasa sakit kepala dan nafasnya mulai sedikit sesak setelah mimisan tadi,Zia tak mau mengambil resiko akan hal itu.
"Mending gue tidur,besok harus masuk sekolah lagi"gumam Zia,ia langsung berbaring diatas tempat tidurnya kemudian menyelimuti dirinya dengan selimut tebal dan mulai menutup matanya untuk tidur.
~Dikamar Liona~
Liona berbaring tengkurap diatas tempat tidurnya sambil sibuk memandangi room chatnya dengan Ken yang entah kenapa sudah tiga hari ini sepi tak ada satupun chat yang masuk dari cowok yang telah berhasil mencuri hatinya itu,padahal biasanya setidaknya ada tiga sampai lima chat dari Ken untuknya dalam sehari.
Meskipun terkadang isi chattan itu hanya berisi percakapan bacic seperti menanyakan kabar hari itu?, apakah dia sudah makan?atau percakapan dengan topik random yang selalu dimulai oleh cowok itu.
"Ken kok tumben gak chat gue sih?" Liona bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa dia lagi sibuk sama tim basketnya ya,tapi masa gara gara itu aja gak sempat sih?biasanya juga sempat"
"Hari ini gue harus libur segala sih,padahal gue kangen banget sama dia"oceh Liona tak jelas,gadis itu membenamkan mukanya pada bantal untuk beberapa saat.
Liona mengubah posisinya menjadi telentang menatap langit langit kamarnya,ia sedang memikirkan sesuatu bukan tentang Ken yang tak kunjung mengirim chat padanya lagi tapi memikirkan hal lain.
Ini tentang interaksi kakaknya Gia dengan adiknya Zia saat dimeja makan tadi,tidak bukan hanya itu tapi juga dibeberapa kesempatan lain sebelumnya.Liona bukan tidak peka atau tidak peduli bagaimana interaksi kedua saudarinya itu sejak dulu yang bisa dibilang bukan interaksi yang cocok sebagai saudara tapi lebih terlihat sebagai musuh.Atau lebih tepatnya kakaknyalah yang menganggap adiknya seperti itu,saudari tertuanya itu seperti memiliki dan menyimpan dendam,rasa tak suka,dan mungkin kebencian kepada Zia.