
"Mana ada,lo aja yang terlalu berprasangka buruk ke gue"bantah Gia.
"Gue bukan berprasangka buruk Gia, tapi gue tau banget apa aja yang lo lakuin kalau lo benci sama seseorang.Ingat meski lo gak mau mengakuinya,Zia itu tetap saudari sedarah dengan kita meski beda ibu.
Gue gak bisa maksa atau larang lo buat ngelakuin apapun rencana yang ada didalam otak lo itu,tapi ingat jangan melakukan hal hal yang kelewat batas.Ada istilah yang namanya senjata makan tuan,wahai kembaranku sayang"ujar Arga.
Laki laki itu mencoba menasehati kembarannya itu untuk tak bertingkah berlebihan.
"Istilah senjata makan tuan itu memang ada Ga,tapi itu gak bakal berlaku sama gue"ujar Gia dengan penuh percaya diri.
"Terserah lo lah Gia,gue cuma nasehatin lo aja.Karena gue gak mau sekaligus khawatir kembaran gue malah terjebak dan terperangkap dalam jebakan yang dipasang sendiri" ujar Arga.
"hahaha...lo lagi nyoba buat nasehatin gue karena gak mau gue kenapa napa atau takut adik bungsu kesayangan lo itu terusik,wahai tuan muda Arga Antara?"tanya Gia dengan sebuah tawa diawal,Gia kini menatap kembarannya itu dengan pandangan yang sedikit berbeda.
"Lo tau satu hal Ga,dikeluarga ini pada dasarnya cuma gue yang bersifat realistis dan apa adanya sesuai yang gue rasain selama ini ke Zia. Sedangkan kalian semua itu gak ada satupun yang benar benar bersikap sesuai dengan apa yang kalian rasain,hampir kalian semua itu adalah kumpulan manusia munafik tau gak"ujar Gia yang entah kenapa berhasil membuat Arga sedikit tersentak.
"Apa maksud lo?!kita semua bersikap sesuai apa yang kita rasain ke Zia kok"ujar Arga.
"Oh ya?"tanya Gia sambil tersenyum alis lebih tepatnya sebuah semirik.
"Kalau bener bener gitu sesuai apa adanya,sekarang gue tanya sama lo Ga.Lo tahu sekarang kalau gue punya rencana tersembunyi buat nyakitin anak itu,tapi kenapa lo cuma nasehatin gue dengan omong kosong lo itu?kenapa lo gak menyusun rencana juga buat hentiin niat gue?" pertanyaan Gia membuat Arga langsung terdiam.Perempuan itu tersenyum melihat kembarannya hanya diam tak bersuara.
"Gak bisa jawabkan lo"ujar Gia.
"Itu karena lo kembaran gue dan gue gak mungkin nyakitin lo"jawab Arga terlihat sedikit raut keraguan diwajah laki laki itu.
Hahaha...suara tawa Gia langsung pecah seketika mendengar jawaban dari kembarannya itu.
"Itu bukan karena gue kembaran lo jadi lo gak mau nyakitin gue Ga,tapi itu terjadi karena didalam hati lo masih ada sisi dimana lo belum bisa nerima anak itu juga sama kayak gue.
Kalau misalnya lo emang udah nerima anak itu sepenuhnya,lo gak mungkin bela gue yang udah jelas berada didalam pihak yang bersalah tapi lo bakal berlaku adil"ujar Gia yang lagi lagi berhasil membuat Arga merasa tersentak mendengarnya.
*Apa bener yang dibilang Gia?*sebuah pertanyaan seketika muncul dalam benak putra sulung Renal itu.
"Lo pasti pengen tahu dari mana gue bisa tau hal itukan?ingat kita itu terlahir sebagai anak kembar Ga,bukan cuma lo aja yang bisa dengan mudah tau apa isi otak gue tapi sebaliknya gue juga tau isi otak lo"ujar Gia,skakmat Arga sepertinya tak bisa berkutik lagi sekarang.
"Ayo keluar,yang lain pasti sudah menunggu untuk makan malam"ajak Gia melangkah terlebih dahulu dari sana.
Arga tersadar dari pemikirannya,laki laki itu ikut berdiri dari tempatnya kemudian segera menyusul sang kembaran yang akan pergi keruang makan untuk melaksanakan makan malam.
Meja makan_
Liona melihat kearah satu persatu kakak kakak dan adiknya,ini bukan hanya perasaannya saja tapi susana makan malam kali ini terasa sangat suram tak seperti malam malam sebelumnya.Kak Arga yang biasanya sering kali menjadi yang pertama membuka obrolan dan sering bertanya tentang kegiatan yang dilakukan yang lain seharian,kali ini Liona perhatikan sang kakak terlihat lebih banyak termenung.Liona bergerak memperhatikan sang adik yang duduk disebelahnya,raut wajah Zia terlihat sedikit murung dan Liona bisa merasakan kalau pikiran adiknya itu tidak sedang berada disana.Kak Lyn dan kak Gia sendiri sebenarnya tak terlalu berbeda dari malam malam sebelumnya,Kak Lyn yang seperti biasa terlibat tanpa ekspresi dan minim kata dan kak Liona yang terlihat santai menikmati makanannya sambil sesekali melakukan kebiasaannya yaitu melirik lirik tak suka kearah adik bungsu mereka.
Liona yang sebenarnya sejak awal ingin bertanya atau berbicara menjadi ragu untuk melakukannya,ia akhirnya memilih untuk ikut diam saja dan fokus pada makan malamnya.
Arga sejak tadi sering tak sengaja termenung karena memikirkan perbincangannya dengan Gia diruangan kembarannya itu,pria itu sebenarnya tak mau memikirkan hal itu tapi pembicaraan itu tak pernah bisa hilang dari benaknya.
"Aku sudah selesai,selamat malam"Zia berdiri dan menjadi yang pertama kali,semua orang memerhatikan kepergian gadis itu dari sana dengan tatapan yang sarat dengan arti yang berbeda serta isi pikiran yang berbeda beda pula.
*Apa benar,kalau aku sebenarnya belum bisa menerima keberadaan Zia dirumah ini?*batin Arga menatap punggung adiknya yang sudah menjauh itu.
*Tebakan gue benerkan Ga*batin Gia yang sejak tadi memperhatikan sikap kembarannya itu.
*Ada apa dengan anak itu,pasti terjadi sesuatu yang gak beres.Aku akan bertanya nanti*batin Lyn.
*Gak biasanya Zia menjadi yang pertama meninggalkan meja makan saat makan malam*batin Liona.
Lyn mempercepat menyelesaikan makan malamnya,ia menghabikan makanannya dan meminum sampai habis air yang ada digelasnya.Kemudian melap mulutnya dengan tisu,gadis itu bangkit dari kursi tempatnya duduk.
"Aku juga selesai,permisi"ujar gadis berwajah dingin itu kepada adik dan ketiga kakaknya,baru setelah itu ia segera beranjak dari meja makan meninggalkan yang lain yang masih makan malam.
Lyn melangkahkan kakinya menuju kearah belakang kediaman keluarganya atau lebih tepatnya taman belakang, gadis itu kesana karena merasa akan dapat menemukan seseorang yang hendak ia susul ditempat itu.Dan benar saja tebakan Lyn,dari kejauhan ia bisa melihat punggung seorang gadis yang lebih muda darinya sedang duduk dibangku taman dan tengah mendongakkan kepala memandang kearah langit malam yang gelap.
"Langit malam hari ini gelap,tak cerah dan tak berbintang.Untuk apa memandanginya seperti itu?"tanya Lyn dengan nada datar khasnya berjalan menghampiri Zia.
"Aku tau hal itu kak,tapi langitnya seperti mewakili suasana hatiku saat ini"saut Zia tanpa menoleh kearah sang kakak,karena Zia tahu pasti siapa yang mengajaknya bicara itu.