
"Jadi Lio harus bagaimana sekarang?"
tanya Liona kembali,soalnya dirinya belum mendapatkan pencerahan atas pertanyaannya.
"Emangnya lo punya niatan buat terjun didunia perusahaan atau setidaknya udah punya ketertarikan gitu?"Zia tiba tiba mengajukan pertanyaan kepada saudarinya itu.
"Belum sih,dan dimasa depan juga kayaknya gak terlalu yakin"jawab Liona.
"Ya udah ngapain lo pusing mikirin itu"ujar Zia.
"Tapi nama guekan ada.."
Belum selesai Liona dengan kalimat perkataannya tapi Zia sudah memotong
"Adanya nama lo didaftar kandidat bukanlah memiliki artian lo harus ikut dalam persaingan.Sebagai kandidat,lo punya hak untuk memutuskan maju kalau lo mau dan sanggup tapi lo juga bisa memilih buat gak lanjut maju"jelas Zia kepada Liona.
"Tapi kalau kakak mundur,bukannya kayak pengecut ya karena mengalah sebelum berperang?"ujar Liona
"Gak selamanya mengalah itu disebut pengecut.Lagi pula itu lebih baik dari pada lo maksain ikut padahal lo sendiri gak punya keinginan dan ketertarikan ataupun gak punya kekuatan mengemban hal yang akan lo mau perebutkan itu,jatuhnya jadi fomo"jawab Zia dengan lugas.
(Gia terus memerhatikan Zia yang sedang berbicara kepada Liona,dalam hati ia berharap semoga bocah itu bisa membuat Liona memutuskan untuk mengundurkan diri dari kandidat pewaris utama.Jujur saja Gia saat ini memang memiliki ambisi yang kuat untuk menjadi penerus utama setelah namanya masuk dalam daftar kandidat,
ambisi yang dulu selalu berusaha dia redam karena sang papa dulu awalnya lebih mengutamakan Arga kembarannya sebagai pewaris utama namun kini tak lagi.Gia mungkin dengan senang hati bersaing dengan Arga,tapi sebagai seorang kakak tentu ia masih punya hati untuk bersaing dengan adik tersayangnya)
(Senyum tipis sangat tipis langsung terbit dibibir Gia dan sebuah sorakan penuh rasa senang didalam batinnya)
"Yakin,gak nyesel kamu?atau pertimbangin dulu aja,sekalinya mundur gak bisa maju lagi loh"Sang papa memastikan keputusan yang diambil oleh Liona itu.
"Iya pa,Lio mundur aja.Males Lio tuh kalau udah bahas hal hal yang berkaitan dengan perusahaan" nampaknya Liona telah mengambil keputusan.
"Kalau begitu sekarang kamu mulai deh cari cari apa cita cita kamu atau tujuan kamu nanti kalau beneran gak mau ikut terlibat dengan urusan perusahaan,cari bidang lain aja supaya bisa dijadiin acuan masuk jurusan kuliah nanti.Contohnya kayak Lyn kakak kamu tuh yang ambil kedokteran,kamu udah kelas tiga loh"ujar sang papa kepada Liona.
"Bener tuh Lio yang dibilang papa kamu"saut sang mama pula.
"Tau,tapi Liona masih bingung punya minat dibidang apa.Kayaknya Lio gak pernah punya cita cita yang jelas juga dari dulu"jawab Liona kini terdengar seperti orang bingung dan putus asa.
"Masa kamu gak punya ketertarikan atau condong kearah suatu bidang apapun Lio?"tanya sang kakak Arga.
"Gak tau kak"jawab Liona.
"Yaudah deh,coba tanya temen temen kamu aja mereka punya minat dibidang apa.Siapa tau pas denger jawaban mereka,ada yang nyantol ke kamu salah satu jawaban mereka"usul kak Gia memberikan saran kepada sang adik.
"Iya deh kak,nanti Lio coba nanya temen temen sekelasnya Lio dulu"ujar Liona menerima saran dari sang kakak.