One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 213



"Liona!Zia!Jangan Berlarian Seperti Itu Nak,Nanti Kalian Jatuh!"seru tuan Renal kepada dua putri termudanya itu.


"Hais dari mana kejahilan anak kelima-ku itu berasal?"gumam Laki laki paruh baya itu,melihati kedua putrinya itu.


"Tentu saja darimu Pa,apa kamu tidak sadar akan hal itu?"saut sang istri disebelahnya.


Kembali ke Liona yang terus berlari berusaha sejauh mungkin dari Zia yang mengejarnya dari belakang, ponsel adiknya itu masih ada digenggamannya.


"LIO,KEMBALIIN PONSELNYA!"Seru Zia dibelakangnya terus berlari kearahnya,adiknya itu terus berteriak memanggilnya.


"GAK MAU,KEJAR AJA GUE SAMPAI DAPAT KALAU MAU"balas Liona dalam posisi masih berlari.


Zia terus memacu larinya untuk mengejar Liona yang semakin dekat didepannya,ia harus mendapatkan ponselnya kembali sebelum saudarinya itu bisa membaca sebuah pesan disana.


GING...


Tapi tiba tiba telinga Zia mendengung seiring dengan melambatnya pergerakan kakinya, membuat Liona yang tadinya sudah hampir dapat ia susul semakin jauh jaraknya dari posisinya sekarang. Entah kenapa sorot cahaya matahari terasa semakin menusuk menurut Zia, kemudian pandangannya mulai berbayang.


Liona berhenti berlari saat sudah tidak merasakan ada orang yang mengejarnya lagi,bahkan suara Zia yang terus memnggilnya sejak tadi juga sudah tak terdengar lagi.


Gadis itu langsung menoleh kebelakang dan menemukan Zia terdiam berdiri dijarak yang lumayan jauh dari tempatnya sekarang,Liona mengira kalau adiknya itu tengah mengambek padanya.


"Dek kok lo berhenti sih,ayo kejar lagi dong"ujar Liona.


"Kok gak nyaut,ngambek ya.Ini ponsel lo gue liat isinya ya"lanjut Liona masih berusaha mengajak Zia bicara.


Kening Liona langsung berkerut merasakan ada yang tidak beres,ia segera melangkahkan kakinya mendekati posisi Zia berada saat melihat adiknya itu memukul mukul kepala sendiri.


"Dek are you okay?hei jawab dong.


Jangan bikin kakak khawatir"ujar Liona yang terlihat mulai panik.


Bruk...


Disisi lain ditempat anggota keluarga Antara lain berkumpul,Lyn tiba tiba langsung berdiri dari tempatnya.


"Ada apa sayang?"tanya sang mama melihat pergerakan tiba tiba putri ketiganya itu.


"Ada yang tidak beres dengan mereka"ujar Lyn langsung berlari dengan cepat kearah dimana kedua adiknya berada.


Kedua orang tua dan kakak kakaknya yang menyadari arah tujuannya itupun langsung dengan cepat menyusul.


"Dek,lo kenapa?jangan becanda woi!ini ponsel lo gue balikin deh"ujar Liona sambil menepuk nepuk pipi Zia,


mencoba meyakini kalau adiknya itu sedang bercanda.


"ZIA!"suara Lyn kakaknya membuat Liona menoleh.


"Kak Lyn,Zia.Dia tiba tiba ambruk trus jatuh pingsan kak"ujar Liona yang mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah,padahal air matanya sudah mengalir cukup deras dipipinya.


Lyn segera mengambil alih Zia,ia menempelkan dua jarinya didepan hidung adiknya itu dan juga memeriksa denyut nadinya.


"Ada ap...Ya Ampun Zia,Kamu Kenapa Sayang?"Renal tampak panik melihat kondisi putri bungsunya yang tidak sadarkan diri.


"Arga cepat panggil dokter"ujar tuan Renal memberi perintah kepada putra tertuanya,kemudian segera mengangkat tubuh anak bungsunya kegendongannya lalu segera membawanya menuju Villa disusul oleh sang istri dan Lyn anak ketiganya dibelakangnya.


Arga yang mendapat perintah dari papanya segera berlari terlebih dahulu secepat yang ia bisa untuk memanggil bantuan medis,sedangkan Gia menenangkan Liona adiknya yang sudah menangis sesegukan karena merasa bersalah.Menurut Liona ini semua salahnya,karena jika ia tidak memancing adiknya untuk berlari mengejarnya seperti tadi maka Zia tidak akan pingsan.


"Tenanglah,dia bakal baik baik saja Lio"ujar Gia menenangkan Liona.


"Tapi kak.."


"Gak pakai tapi tapi,berhenti menangis dan ayo kembali ke Villa"ujar Gia menuntun adiknya itu berjalan pergi dari sana,namun sebelum pergi dia sempatkan mengambil sebuah ponsel yang tampak familiar tergeletak dipasir.


*Menyusahkan!*batin Gia.