One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 160



Setelah kak Anna pergi meninggalkan ruangannya,Zia langsung bergerak menuju meja kerjanya kembali.Gadis muda itu duduk bersandar dikursi kebesarannya sambil menunggu seseorang yang akan datang menjadi tamunya sebentar lagi.


Tok...tok...tok...suara ketukan dari bagian luar pintu ruangannya terdengar,Zia tersenyum mendengar ketukan itu.


"Masuk!"ujar Zia kepada tamunya yang baru datang itu.


Disisi lain Juna yang mengetuk pintu ruangan CEO beberapa kali,tak lama setelah ia mengetuk pintu itu terdengar suara seseorang yang mempersilahkannya masuk kedalam.


Pemuda itu memegang knop pintu memutar dan membuka pintu itu,kaki kanannya melangkah pertama kali maduk keruangan itu disusul kakinya yang lain.


"Permisi"ucap Pemuda itu.


"Selamat Datang keruangan saya,Juna" sambut seseorang yang Juna cukup kenali,ia mendongak dan langsung dapat melihat Zia yang duduk dibalik meja kerja yang diatasnya terdapat sebuah papan kecil bertulis petanda itu adalah meja kerja CEO perusahaan itu.


"Zia"ujar Juna yang terlihat kaget dengan keberadaan gadis itu disana.


Zia menaikkan satu alisnya,gadis itu nampak santai duduk dikursi kebesarannya dan kemudian ia tampak tersenyum.


"Ternyata tebakan gue bener,lo bukan tipe orang yang bodoh karena menolak penawaran gue yang tadi pagi"ujar gadis itu dengan tenang.


"Apa yang lo lakuin disini?bukannya ini ruangan CEO ya?"tanya Juna penasaran.


"Ruangan ini emang ruangan CEO dan apa yang gue lakuin disini?jawabannya karena ruangan ini punya gue dan tentu lo bisa tau siapa gue diperusahaan ini"jawab Zia.


"Lo CEO-nya?"tanya Juna masih kurang percaya dengan tebakan diotaknya.


"Yap"jawab Zia membenarkan.


"Btw sebelum lo nanya hal lain,ayo silahkan duduk"ujar Zia mempersilahkan Zia duduk dikursi didepannya.


Meski masih dalam keadaan yang bingung namun Juna langsung menuruti perkataan Zia untuk duduk dikursi yang ditunjuk oleh Zia,lagi pula ia juga sudah mulai merasa pegal dikakinya karena berdiri terus.


"Jadi bagaimana bisa lo jadi CEO diperisahaan ini,padahal lo masih jadi anak SMA dan apalagi ini perusahaan gede?"tanya Juna kepada Zia.


"Jawabannya simple,karena perusahaan ini dibangun oleh mendiang kakek gue dan dilanjutin sama anaknya yang merupakan mendiang mama gue.Trus sebagai anak satu satunya,tentu sejak mama gue gak ada itu artinya gue adalah pemilik dari perusahaan ini.Lagian gue dari kecil juga belajar bisnis dari ortu papa gue,jadi gak usah terlalu heran gitu"jelas Zia.


Juna menganggukkan kepalanya mengerti,pemuda itu bisa menyimpulkan kalau gadis didepannya itu mewarisi perusahaan keluarga mamanya.


"Khem,jadi apa maksud perkataan lo tadi pagi tentang lo punya pekerjaan bagus buat ayah gue?"tanya Juna mengingat kembali tujuannya untuk datang keperusahan itu.


"Kayaknya lo lumayan tau tentang perusahaan gue ini,jadi gue gak perlu jelasin banyak hal dan langsung aja kepoin utamanya"ujar Zia.


"Lo tau,perusahaan ini baru aja buka kantor cabang baru yang terletak dikota sebelah dan bakal diresmiin bula depan.Tentunya setiap ada kantor cabang baru,pasti ada seseorang yang harus cukup kompeten untuk bertugas memimpinnya.Dan disitulah ayah lo diperluin"lanjut Zia.


"Ma-maksud lo,ayah gue bakal lo jadiin pimpinan cabang gitu?"tanya Juna yang mulai nampak antusias dengan pembahasan ini.


Juna langsung tersenyum cerah mendengar hal itu,kalau ayahnya bisa benar benar mengisi jabatan itu maka masalah keuangan keluarganya yang mulai memburuk tentu akan bisa berangsur diperbaiki.Karena ia yakin kalau gaji sebagai pimpinan cabang perusahaan itu bakal jadi lebih tinggi dibanding posisi ayahnya sekarang yang hanya sebagai pimpinan tim diperusahaan ayah temannya,tapi Juna yakin kalau Zia tidak akan memberikan kesempatan itu secara cuma cuma bukan?


"Apa yang lo mau?apa yang lo pengen gue lakuin biar ayah gue bisa dapetin posisi itu?tentu ini gak bakal semudah itukan?"tanya Juna.


Zia langsung tersenyum mendengar pertanyaan beruntun dari Juna itu, dalam hati ia merasa senang karena cowok didepannya itu ternyata cukup peka.


"Ini emang gak gratis tapi tentunya lo gak perlu bayar pakai uang atau harta benda lainnya,soalnya punya gue udah banyak"ujar Zia.


Juna memutarkan kedua bola matanya mendengar perkataan Zia,ternyata gadis itu bisa sombong juga ternyata.


"Sombong banget lo,jadi cepet bilang apa yang harus gue lakuin"ujar cowok itu.


"Gue cuma pengen lo ngawasin seseorang yang gue yakin lo deket banget sama dia,kasih tau apa aja yang orang itu rencanain kedepannya" ujar Zia.


"Tunggu,jangan bilang orang yang lo maksud itu Ken temen gue?"tanya Juna,entah kenapa ia otaknya langsung tertulis nama temannya itu.


"Benar sekali,gak nyangka lo pinter juga nebaknya"ujar Zia.


"Ngawasin Ken?maksud lo,lo lagi nyuruh gue buat khianatin temen gue sendiri gitu?"tanya Juna,pemuda itu terlihat sedikit tidak suka.


"Jangan marah dulu,denger penjelasan gue dulu"pinta Zia yang mengetahui Juna terlihat kesal.


"Coba jelasin"pinta Juna memilih untuk mendengar penjelasan dari Zia.


"Gue pengen lo ngawasin Ken sekaligus ngasih tau semua rencana temen lo itu yang berkaitan dengan Ken yang berusaha deketin gue,tanpa terkecuali"ujar Zia.


"Kenapa lo sampai lakuin hal ini segala cuma buat hal itu,lagian kalau lo emang gak suka sama temen gue kenapa lo gak tolak dia aja?"tanya Juna.


"Emang temen lo itu bakal berhenti?"ujar Zia membalikkan pertanyaan,Juna terdiam mendengarnya karena ia tau kalau Ken tentu tak akan berhenti mendekati gadis didepannya ini meski sudah ditolak sekalipun.


"Lo tau jawabannya pasti enggak Jun, temen lo itu lebih bebal dari kulit badak.Lo yang sering bareng dia khususnya pas disekolah juga sering liat dan denger gimana tegasnya gue nolak temen lo itu,bahkan lewat Chatpun gue selalu dengan tegas,sarkas sesarkas sarkasnya nolak tapi masih tetep aja"ujar Zia yang melihat Juna tidak bisa menjawab.


"Gue sebenarnya bisa aja terus cuek dan bersikap acuh seakan gak terjadi apa apa,tapi itu tentu gak bisa dilakuin Liona.Lo yang lebih lama kenal Liona pasti tau pasti kalau saudari gue itu udah bucin parah sama temen lo itu,gue gak mau hubungan persaudaraan yang repot repot gue perbaikin rusak karena masalah hal ini"lanjut Zia panjang lebar.


"Tapi emang segitunya,sampai sampai lo nyuruh gue buat ngawasin Ken?"tanya Juna.


"Sebenernya sih masih ada alasan lain,Lo tau kata kata yang kirim Ken beberapa hari terakhir ini mencurigakan banget"ujar Zia.


"Mencurigakan banget gimana?"tanya Juna mengerutkan keningnya.


"Iya mencurigakan,dan terakhir kali gue ngerasain kayak gini itu pas dulu.Dan ternyata perasaan aneh gur waktu itu terbukti dengan saudari gue balik rumah mewek,karena temen sialan lo itu dengan tanpa hatinya izin buat deketin gue.Padahalkan gue tau 100% kalau temen lo itu tau, kalau Lio suka sama dia"jawab Zia.