One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 144



Zia duduk sambil bersandar dikursi mobil bagian penumpang belakang sendirian,kedua tangannya dia lipat kedepan.Raut wajahnya saat ini sedang menatap julit sepasang kekasih yang baru jadian kurang dari satu bulan ini,yang saat ini duduk dikursi bagian depan.Meskipun yang cowok lagi nyetir tapi masih sempat sempatnya genggam tangan sicewek yang duduk disebelah,melihat itu tentu saja Zia merasa kalau dirinya menjelma jadi nyamuk.


"Muka lo kenapa kayak bete banget cil?"tanya sicowok kepada Zia.


"Gak bete,gue cuma ngerasa lagi cosplay jadi nyamuk aja kak Jev"jawab Zia.


"Makanya mulut lo jangan ceplas ceplos,rasain lo jadi nyamuk sekarang"ujar sicewek.


"Udah,kamu gak usah bete gitu cil.


Anggap aja sebagai pengalaman nanti kalau kamu punya pacar"ujar sicowok.


"Pertanyaannya,emang ada cowok yang mau sama cewek kayak dia"ujar sicewek.


"Pasti ada dong sayang,cewek judes dan galak kayak kamu aja ada yang mau"ujar sicowok.


"Siapa yang mau?"tanya sicewek.


"Aku dong yang mau,Cup.."jawab sicowok dengan memberi sebuah kecupan dipermukaan tangan sang kekasih yang tengah digenggamnya.


"Jangan kecup kecup ih,nanti bocah jomblo yang dibelakang makin berasa jadi nyamuk lagi"ujar sicewek.


"Bukan makin lagi sayang,tapi emang udah jadi nyamuk dianya"ujar sicowok.


Zia memutar kedua bola matanya malas mendengar ocehan sepasang kekasih yang tak lain dan tak bukan adalah Gia saudari tertuanya dan Jevan yang merupakan kekasih kakaknya itu,Zia menahan mual melihat tingkah pasangan yang sedang kasmaran ity.


"Untuk lo berdua lebih tua dari gue"


Ujar gadis itu.


"Dih pakai lo-gue,gak sopan sama yang lebih tua.Apalagi ke kakak kamu sendiri,kalau ke kakak mah masih bis dimaklumin"tegur kak Jevan.


"Dia mah emang gak sopan,sama brandal juga jadi gak usah heran Jev"ujar kak Gia.


"Aku kesel sama kakak berdua,pacaran udah kayak bocah aja"ujar Zia.


"Itulah kata kata jomblo sirik, makanya kamu cari pacar sana biar tau rasanya kasmaran kayak apa"ujar kak Jevan.


"Kayaknya bener,dia gak ada yang suka"sambung kak Gia


"Siapa bilang kalau aku gak ada yang suka?banyak yang ngejar ngejar aku kak,buktinya itu cruss orang aja ngejar ngejar gue"ujar Zia.


"Itu mah karena lo aja yang kecentilan sampai gebetan saudari sendiri direbut"saut kak Gia sarkas dan sedikit nyelekit.


"Mana ada,orang cowoknya aja yang kecentilan sama gue"bantah Zia.


"Calon pelakor mah,mana ada yang ngaku"ujar kak Gia.


"Calon pelakor apaan,mending aku ngitung duit dibank dari pada repot repot rebutin itu cowok.Lagian pelakor itu sebutan untuk perebut suami orang,lah ini jadian aja gak ada"ujar Zia.


"Heh!udah udah,malah ribut dan ngerembet kemana mana"ujar kak Jevan menegur kekasihnya yang sudah mulai bersitegang dengan sang adik kekasih.


"Berarti kayak ibu kandung lo dong?pelakor,perebut suami orang"ujar kak Liona,bukannya berhenti tapi wanita itu malah melanjutkannya.


"Kakak tau dari mana kalau mama aku yang pelakor,gimana kalau itu mama kakak"balas Zia yang ikut terpancing.


"MAKSUD LO APA?!"


Citt...Jevan langsung menginjak rem mobilnya secara mendadak karena kaget dengan teriakan dari sang kekasih.


"Gia,jaga volume suara kamu"pinta Jevan kepada Gia.


"Heh Anak Parasit! Udah Jelas Yang Pelakor Itu Mami Lo Bukan Mama Gue!


Buktinya Mama Gue Yang Jadi Istri Pertama Papa,Bukan Mami Lo"ujar kak Gia penuh penekanan dengan sambil menatap tajam kearah Zia.


Reaksi Zia?gadis itu hanya mengeluarkan senyuman manisnya saja saat ini,ia menoleh kearah kak Jevan yang menatapnya prihatin.


"Kak Jev,Zia turun disini aja ya" ujar gadis itu kepada kekasih kakaknya itu.


"Kok turun disini dek,kamu ikut aja ya"ujar kak Jevan.


"Udah biarin aja sih sayang,mobil ini juga sumpek kalau ada anak pelakor disini"ujar kak Liona.


"Stss,jangan gitu sama adik kamu"tegur Jevan kepada sang kekasih,kemudian ia beralih melihat remaja yang tetap menampilkan senyuman.


"Jangan turun ya,nanti kalau kamu kenapa napa gina?kakak kamu Arga juga udah nitip jagain kamu sama kakak"ujar Jevan lembut kepada Zia.


"Gak usah khawatir kak,lagian Zia biasanya jaga diri sendiri kok.Permisi"ujar Zia,gadis itu membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


Jevan membuka kaca jendela mobil bagian sebelah Gia dengan otomatis kemudian melihat kearah Zia yang sudah berdiri dipinggir jalan


"Kamu serius turun disini dek?!"tanya laki laki itu sedikit berteriak.


"Iya kak,nanti pas udah pulang kakak kirim pesan aja ketemuan dimana.Biar nanti bisa pulang sama sama,supaya kakak gak dimarahin sama kak Arga"jawab Zia.


"Bawa hp sama dompetkan?"tanya kak Jevan.


"Bawa kak"jawab Zia sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Kalau begitu hati hati"pesan kak Jevan ke Zia,sebelum kaca jendela mobil ditutup dan mobil mulai berjalan lagi.


"Kamu seharusnya gak boleh ngomong kasar gitu sama adik kamu,apalagi sampai bawa bawa mendiang mamanya. Pasti adik kamu itu sakit hati"ujar Jevan menasehati Gia kekasihnya.


"Biarin aja,aku ngomong gitu biar dia sadar sama posisinya dia.Adik? jangankan nganggep dia adik,nerima dia jadi bagian Antara aja belum"saut Liona menggebu gebu.


"Terserah kamulah sayang,asal jangan terlalu membencinya"ujat Jevan memutuskan menyerah untuk saat ini.


"Kenapa semua orang selalu nasehatin aku buat jangan terlalu benci sama anak itu,padahal itu hak aku kenapa mereka ngelarang?"tanya Liona dengan nada kesal.


"Bukan ngelarang sayang,tunggu suatu saat nanti kamu pasti tau alasannya"ujar Jevan.


Setelah itu kedua orang dewasa yang merupakan sepasang kekasih itu akhirnya memutuskan untuk tak bicara lagi sepanjang lain.


Ditempat lain___


Zia menatap mobil yang baru saja ia naiki tadi itu dengan tatapan yang tenang,tenang bukan berarti tak terjadi apa apa tapi gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk bersikap seperti itu saat ini dan menekan keras semua emosi yang hampir saja meledak didalam dirinya.


*Mami Sela memang istri pertama papa,tapi posisi pertama dalam hati papa itu tetap mama aku kak.Mama Celine,hanya saja kebodohan papa dimasa lalu yang membuat apa yang terjadi dimasa sekarang menjadi sangat sulit bagiku*batin gadis itu.


"Taksi!"Zia memanggil taksi yang melaju menuju kearah tuajuannya,tak lama taksi yang dipanggil gadis itupun berhenti tepat dihadapan Zia.


Zia masuk kedalam taksi dan duduk dikursi penumpang.


"Tujuan keperpustakaan kota pak"ujar Zia mengatakan kemana tempat tujuannya kepada sopir taksi.


"Siap mbak"ucap sopir taksi itu.


Mobil taksi itu mulai berjalan kembali dijalan raya,dengan tempat tujuan yaitu perpustakaan kota sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Zia tadi.