One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 137



Gia berjalan memasuki kediaman keluarganya,tentunya ia pulang diantar oleh sang kekasih.Ia tadi sempat ingin menawarkan laki laki itu untuk mampir sebentar,namun Jevan menolak karena katanya masih memiliki pekerjaan lain yang harus diurus.Dan oh iya satu lagi,hubungan keduanya masih belum diketahui keduanya kecuali Zia saja.Bahkan Arga yang berstatus kembaran dan juga sejak awal mengetahui bagaimana Jevan berusaha mendapatkan hati Gia pun masih belum tahu kalau keduanya telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih,dan bagaimana Zia bisa tau?bukankah sudah dikatakan sejak awal kalau bocah itu adalah orang yang paling mempunyai andil besar dalam proses jadian pasangan itu.


Gia dan Jevan sebenarnya bukan bermaksud untuk menyembunyikan hubungan mereka,namun keduanya sepakat kalau akan mempublikasi hubungan mereka kekeluarga setelah kedua orang tua Gia pulang dari Australia.Itu semua adalah permintaan Gia sendiri dan Jevan tentu setuju setuju saja,sedangkan Zia tentu sudah jelas disuruh untuk tutup mulut dulu.


Pemandangan pertama yang dia lihat saat memasuki area ruang keluarga adalah keberadaan ketiga saudarinya yang tengah berkumpul disana, semuanya nampak sedang fokus dengan urusan masing masing.Zia yang tengah duduk diatas sofa dengan dua telinga disumpal Airpods sedangkan mata dan kedua tangan yang sibuk pada laptop yang ada dipangguan,sebuah kaca mata bening juga terlihat bertengger dihidung mancung gadis itu.Disebelah gadis itu ada adiknya yang satu lagi yaitu Liona yang tengah duduk lesehan dilantai yang beralaskan karpet,gadis itu tampak tengah fokus menulis sesuatu dibukunya.Serta disisi sofa satunya pula terdapat Lyn yang asik mengotak atik laptop dipangkuannya.Posisi ketiga saudarinya yaitu Zia yang duduk disisi sofa bagian kanan,Lyn disisi sofa bagian kiri namun masih sofa yang sama dengan Zia,sedangkan Liona yang duduk lesehan tepat berada diantara keduanya.


Gia memiringkan kepalanya dan matanya mulai menelisik kemudian menemui sebuah fakta,entah ia baru sadar atau tidak.Dirinya baru menyadari kemiripan sifat dan tingkah antara Lyn dan Zia saat sama sama sedang dalam mode serius dan fokus seperti apa yang dirinya lihat sekarang,apalagi gaya kedua saudarinya itu saat ini yang terlihat sama.Sama sama tengah mengenakan baju kaos lengan pendek hanya warnanya yang berbeda,sama sama tengah menyumpal kedua telinga mereka dengan Airpods,duduk tegap memangku laptop,dan sama sama memakai kaca mata,serta raut wajah yang hampir sama hanya saja Lyn terkesan lebih dingin auranya sedangkan Zia terlihat cool dan berwibawa.


Tanpa sadar sudah hampir lima menit waktu telah berlalu Gia gunakan untuk mengamati hal itu,sampai sebuah suara menyadarkannya.


"Eh kak Gia udah pulang,ngapain berdiri disitu kak?"itu adalah suara dari Liona adiknya.Sedangkan Lyn dan Zia terlihat langsung menoleh kearahnya tanpa bersuara,keduanya terlihat menaikkan satu alis mereka sebentar kemudian sama sama kembali fokus kepada laptop masing masing.


*Tuh kan ini dua orang,tingkah lakunya emang mirip*batin Gia, setelah melihat hal itu.


"Kak Gia malah bengong,ditanyai juga"suara Liona kembali terdengar dan lagi lagi suara adiknya itu berhasil menyadarkan Gia dari pemmikirannya sendiri.


"Iya iya,kakak baru pulang"ujar Gia akhirnya menyauti perkataan adiknya itu,perempuan itu terlihat melangkah mendekat ketempat ketiga saudarinya.


"Tumben kakak ngeliat kamu belajar, biasanya jangankan belajar nyentuh buku aja kakak liatnya jarang banget"ujar Gia berhasil membuat Liona cemberut.


"Kakak mah gitu sama adek sendiri, senin ini sekolah udah mulai UTS. Makanya Lio harus belajar biar nilainya bagus,kalau gak bagus nanti papa sama mama gak bakal mau ngajak kita liburan"ujar Liona.


"Giliran ada maunya aja pasti mau belajar,kalau enggak udah banyak alesannya tuh kalau disuruh mama belajar"ujar kak Gia kepada Liona.


"Mana ada kayak gitu,aku sering belajar tau tanpa ada maunya.Cuma aku belajarnya didalam kamar,bukan diruang tamu kayak gini"bantah Liona.


"Eh bentar,perasaan sebelum kakak datang bukan cuma aku aja deh yang ada disini tapi ada kak Lyn sama Zia juga"ujar Liona,gadis itu menoleh kekiri dan kanan.


"Pangesan,duanya lagi sibuk ternyata"gumam gadis itu setelah menemukan kak Lyn dan Zia yang sibuk pada laptop masing masing,dan sepertinya keduanya tak memerhatikan perbincangannya dengan kak Gia tadi.


"Kak Lyn! Zia!"panggil Liona kepada dua saudarinya itu namun tak ada yang menggubris.


Liona terlihat kesal karena tak diacukan itupun,mulai mengambil selembar kertas buramnya kemudian meremasnya menjadi bulat dan padat lalu dia mulai mengambil ancang ancang untuk melemparnya kearah salah satu saudarinya itu.Sedangkan Gia memilih untuk diam dan mengamati apa yang hendak dilakukan salah satu adiknya itu,ia duduk bergerak duduk disofa kecil yang ada disana.


Buk..


"Apasih?!"ujar Zia langsung merasa terganggu akibat lemparan kertas yang ternyata ditujukan kepadanya,


gadis itu melihat kearah Liona dengan raut wajah kesal.


"Eit santai dong itu muka,makanya kalau dipanggil itu nyaut bukannya diem aja"Cerocos Liona kepada adiknya itu.


Tangan Zia bergerak melepaskan kedua AirPods yang tersumpal ditelinganya, kemudian gadis itu melihat kembali kearah Liona saudarinya.


"Lo ngomong apaan tadi Lio,bisa ulangin gak?gua gak denger soalnya"pinta Zia kepada Liona.


Reaksi Liona jangan ditanya lagi,gadis itu memasang raut wajah datar kepada adiknya itu.


"Loh kenapa?"tanya Zia heran melihat raut wajahnya itu.


"Ooh"komen Zia,setelah itu gadis itu terlihat mulai melihat kearah laptopnya lagi.


Liona menganga melihat hanya itu respon adiknya itu


*Perasaan kemarin kemarin,ini adik gue orangnya peka deh.Kok ini enggak?wah jangan jangan ketuker lagi*pikirnya dalam hati.


"Ih dek,jangan fokus kelaptop lagi dong.Gue mau ajak lo ngomong jugak"ujar Liona kesal kepada Zia.


"Iya deh"saut Zia kembali melihat kearah saudarinya itu dengan raut wajah malasnya.


"Kalau gak iklas mending gak usah,sana fokus kekerjaan lo lagi aja"ujar Liona,ngambek tuh dia ceritanya guys.


Zia menyadari yang menyadari kalau saudarinya yang satu itu tengah mengambek kepadanya pun langsung meletakkan laptop yang tadinya ada dipangkuannya keatas meja,kemudian dirinya sendiri bergerak turun dari sofa untuk ikut duduk lesehan disamping Liona yang tengah memasang raut wajah cemberut.


"Kak Lionaku tersayang,ayo tadi kakak mau ngomong apa sama adikmu ini?Hmm"ujar Zia dengan lembut.


Dan sepertinya cara gadis itu berhasil,terbukti dari raut wajah Liona yang tadi cemberut langsung berubah cerah seketika.


"Lo manggil gue apa tadi?kakak?"tanya Liona kepada Zia,


Zia menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Coba ulangin dong"pinta Liona memohon.


"No,there is no repetition"tolak Zia.


"Why?"ujar Liona ikut berbicara dengan bahasa inggris.


"Not only want"saut Zia.


Cks..Liona berdecih kesal mendengar jawaban saudarinya itu.


"Ayolah Lio tidak usah mengambek lagi,cepet bilang apa yang lo mau bilang.Gue lagi banyak kerjaan ini"pinta Zia.


"Kerjaan mulu yang diurus,lo gak belajar buat ujian apa dek?"tanya Liona ke Zia.


"Ada tapi jadwal belajar gue selain disekolah itu nanti pas sehabis makan malam selama 45 menit,bukan sekarang"jawab Zia.


"45 menit doang emang cukup?"tanya Liona.


"Cukuplah,otak guekan encer jadi segitu udah jelas cukup"jawab Zia sangat percaya diri.


"Sombong amat"gumam Liona.


"Bukan sombong tapi emang kenyataan" ujar Zia masih bisa mendengar gumaman saudarinya itu.