
"Kakak sudah bangun?"tanya Zia langsung,tak lupa memasang senyuman khasnya.
"Sudah,bagaimana kondisimu?"tanya kak Lyn setelah menjawab peetanyaan dari Zia.
"Sedikit lebih baik"jawab Zia seadanya.
"Baguslah"ujar kak Lyn pelan.
Setelah itu suasana menjadi hening,
Zia yang tahu kalau suasana akan terus begitu jika ia tidak menemukan topik dan berbicara terlebih dahulu.
"Kak"panggilnya.
"Hm"saut sang kakak.
"Aku pinjam hasil foto palaroid yang kakak ambil tadi boleh?"tanya Zia.
Sebelah alis Lyn langsung menaik, dari mana adiknya itu tahu kalau dirinya mengambil foto dengan palaroid tadi.Padahal Lyn sengaja mengambil foto secara diam diam,saat anggota keluarganya termasuk Zia asik bermain voli.
"Aku tadi liat kakak mengarahkan kamera palaroid kakak kearah kami saat bermain voli tadi,jadi bisakah kakak meminjamkan hasilnya padaku?" Ujar Zia.
"Tak usah pinjam,kamu bisa memilikinya"jawab kak Lyn.
Namun Zia segera menggelengkan kepalanya pelan lalu berkata
"Enggak,Zia pinjam aja sementara. Nanti Zia balikin lagi"ujar Zia.
"Terserah kamu aja,nanti kakak berikan pada kamu"ujar Lyn kepada adik bungsunya itu.
Kriet....
"Eh sayang,kamu sudah bangun ternyata"sang mama terdengar,datang memasuki kamar sambil membawa nampan dan mangkuk pada Zia disusul dengan sang papa serta para kakak Zia yang lain.
"Udah ma"saut Zia pelan sambil tersenyum.
"Kamu kok keliatan pucat banget sih dek"komen Arga melihat wajah sang bungsu yang sangat pucat.
"Kak Arga gimana sih,yang namanya orang sakit pasti pucet"ujar Liona pada kakak pertamanya itu.
"Btw dek gimana kondisi lo,sory ya gara gara keisengan kakak kamu malah pingsan kayak tadi"ucap Liona meminta maaf pada Zia,dan tentunya Zi dapat melihat wajah rasa bersalah pada saudarinya yang satu itu.
"Loh kok kamu gak bilang sih sayang,
tadi malah maksain ikut main Voli?"tanya sang mami mendengar pernyataannya Zia.
"Tadinya Zia kira gak bakal sampai segitunya,lagian udah biasa gini kalau Zia lagi sibuk sibuknya mi"jawab Zia.
"Udah biasa?kamu gak sakit apa apa kan dek?"tanya sang papa,sambil menatap Zia penuh selidik.
"Hah ya enggaklah pa,emangnya Zia mau sakit apa.Tapi emang Dokter pribadi Zia bilang sih,kalau fisik Zia emang rada lemah gitu dibanding anak anak seusia Zia.Katanya sih efek kebanyakan memforsir tenaga dan jarang istirahat yang dilakuin jangka panjang."jelas Zia pada keluarganya,berharap mereka semua percaya pada perkataannya yang tentu saja itu bohong.
"Ah gitu ya,papa kira kamu sakit apa apa.Pokoknya kalau kamu kenapa napa harus kasih tahu papa cepet ya,papa gak mau sampai teledor buat kedua kalinya"ujar tuan Renal,sedikit tak sadar akan akhir perkataannya.
"Kedua kalinya?maksud papa?"tanya Liona pada sang papa.
"Bukan apa apa,papa cuma asal ngomong aja kok tadi"ujar tuan Renal segera menjawab pertanyaan anak keempatnya itu.
"Ah masa sih?"ujar Liona tak percaya.
"Bener sayang,itu papa kamu bilang gitu karena saking khawatirnya sama adik kamu"ujar nyonya Sela pada putrinya itu,ia membantu sang suami yang sedikit keceplosan akan sesuatu.
Sedangkan Zia dan Lyn saling lirik dengan sudut mata mereka kemudian tersenyum tipis,yah disana selain orang tua mereka hanya mereka yang tahu akan sesuatu hal.Tanpa keduanya sadari pula,sedikit interaksi mata mereka itu tertangkap oleh penglihatan tajam Gia kakak mereka.
*Kenapa dua orang itu tersenyum seperti itu?*batin Gia,perkataan Zia selanjutnya membuatnya semakin merasa aneh.
"Papa tidak udah khawatir,tidak akan ada yang namanya teledor lagi.Lagi pula sebelumnya juga bukan teledor" ujar Zia sambil tersenyum,senyuman yang mampu membuat kedua orang tuanya diam membisu.
"Oh iya,itu buburnya buat Zia kan Mi.Boleh gak Zia makan sekarang,Zia laper?"tanya Zia pada maminya.
"Ah boleh kok sayang,sini mama suapin ya"ujar sang mami segera tersadar dalam lamunan sekejap.
Sela langsung menyuapi putri bungsunya itu makan bubur yang dia buat dengan baik,sedangkan sang suami yaitu tuan Renal terus menatap putri bungsu mereka itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tuan Renal sedang memikirkan perkataan putri bungsunya itu tadi,kenapa putrinya itu bicara seolah oleh mengetahui sesuatu.
*Tidak,tidak mungkin putri bungsu-ku tahu akan semua masalalu itu.Tidak ada yang bisa memberitahunya,karena papaku tidak mungkin mau memberikan beban kenangan seburuk itu pada cucunya sendiri*batin Renal.
*Pa seharusnya dengan perkataannya tadi,papa mengerti kalau adikku tahu semuanya*batin Lyn terus mengawasi sikap papanya itu.