
Arga kini memasang muka betenya,udah sejak diperusahaan tadi mukanya udah kusut banget eh malah bertambah lagi.Gimana enggak bete putranya tuan Antara ini,Gia kembarannya tak mengijinkannya menyetir dan memaksanya duduk disamping kembarannya yang kini menyetir mobil untuknya.
"Kenapa lo yang harus nyetir sih,gue-kan bisa?"ujar Arga kepada Gia kembarannya.
"Gue-kan tadi usah kasih tau alasannya Ga,gue gak mau mati muda gara gara disetirin sama orang yang lagi kayak punya beban pikiran kek elo.Masih banyak tujuan dan ambisi gue yang belum tercapai"ujar Gia kepada Arga.
"Lo pikir gue mau gitu mati muda?gue juga masih punya banyak tujuan yang belum tercapai"ujar Arga.
"Lo emang kenapa sih,dari pas gue temuin itu muka lo kusut banget kayak kanebo kering.Kayak orang yang lagi punya masalah hidup berat tau gak lo?"tanya Gia kepada kembarannya itu.
"Bukan kayak,tapi emang lagi banyak beban pikiran gue akhir akhir ini.
Kayak ada aja tuh yang beban yang masuk setiap saat keotak gue,padahal beban lainnya belum terselesaikan" keluh Arga sebagai sautan.
"Emangnya beban apaan sih?gak biasanya seorang Arga yang biasanya tenang dan santai menjalani hidup malah jadi pemikir berat kayak gini?"Gia menanyakan apa yang menjadi beban pikiran kembarannya itu.
"Banyak.Gak bisa gue sebutin satu satu tapi yang jelas gara gara itu semua otak gue jadi kacau dan malah berhimbas kekerjaan gue yang jadi kacau gak becus gue ngerjainnya gara gara banyak pikiran diotak"jawab Arga lesu.
"Dih kalau lo gak bisa nyebutin mana gue bisa ngasih solusi atau minimal kasih saran.Aneh banget lo jadi kembaran?"ujar Gia.
Arga tak menggubris perkataan kembarannya itu,ia kini terdiam sejenak memikirkan sesuatu dan butuh selang beberapa menit sebelum akhirnya laki laki muda itu bersuara lagi
"Gi"
"Hm"
"Menurut lo apa alasan Zia gak mau jadi penerus papa ya?"
"Lo yakin gak alasan yang selama ini dia kasih,bener bener itu?"
"Kalau itu gue gak peduli.Yang gue peduliin adalah fakta dia gak masuk daftar saingan buat penerusnya papa memimpin perusahaan"
"Kok gue ngerasa dari omongan lo.
Lo ambis banget jadi pewaris utama papa?"
"Karakteristik khas gue itu emang ambis Ga,jadi selama ada kesempatan buat ikut dalam kopetisi gue selalu nyalurin sikap ke ambisiusan gue kesana"
"Iya juga sih,lo emang ambis dari kecil.Tapi gue masih penasaran Gi"
"Kalau lo penasaran,yaudah langsung lo tanyain sama itu bocah jangan tanyain ke gue.Enek gue lama lama,
setiap lo penasaran akan sesuatu yang berhubungan bocah itu pasti lo tanyain ke gue kayak gak ada orang lain aja"
"Lo-kan kembaran gue Gi,jadi kalau apa apa gue tanyain ke elo itu wajar wajar aja"
"Tapi ya gak yang bersangkutan dengan bocah itu juga kali.Lo sebagai kembaran juga seharusnya jadi yang paling tau segimana gak sukanya gue kalau ada obrolan yang menyangkut bocah itu"
"Iya iya tau kok,buktinya dari tadi lo gak mau nyebut nama dia.Btw adik bungsu kita itu namanya Zia loh Gi,
bukan bocah"
"Serah gue!"