One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 59



"Eh tunggu,gak jadi humumannya itu" ujar Raka kepada Zia.


"Lah emang kenapa?"tanya Zia heran kenapa tiba tiba tak jadi.


"Gue lupa lo sakit jadi gak boleh capek,kalau kambuh gimana?gue gak mau repot lagi,belum lagi kalau semuanya tau karena liat lo kumat"ujar Raka siketos kepada Zia.


Zia melihat kiri kanan memastikan tidak ada yang akan mendengar pembicaraan mereka ini,kemudian melihat kearah Raka lagi.


"Denger!gua gak selemah itu yang lo pikirin ya,gak mungkin sakit gue kambuh cuma gara gara berdiri dilapangan doang"ujar Zia merasa diremehkan oleh Ketos itu karena menganggapnya lemah.


"Jaga jaga,hukuman lo ganti jadi bantuin gue beresin dan nyusun buku baru diperpus"ujar Raka memberitahu


hukuman baru Zia.


"Ikut gue ke perpus"ujar cowok itu meminta Zia untuk mengikutinya dan Zia lagi lagi hanya bisa menuruti ketua OSIS itu aja.


Disinilah Zia sekarang yaitu berada didalam perpustakaan,gadis itu tengah menyusun buku buku yang baru kedalam rak rak yang ada diperpustakaan itu sesuai dengan hukuman yang diberikan oleh Raka diketua OSIS.Ia tak sendiri disana masih ada guru penjaga perpus yang duduk dimeja didekat pintu masuk dan Raka yang juga ikut membereskan buku buku dalam perpus itu.


Zia tidak merasa keberatan sama sekali dengan hukumannya ini,ia menyusun buku buku baru dengan semangat ke Rak buku.Beberapa saat kemudian guru penjaga perpus datang mendekat menghampiri keduanya.


"Teruskan pekerjaan kalian,ibuk mau menyerahkan ini dulu kekantor kepala sekolah.Kalian gak apa apakan ditinggal berdua?"ujar guru perpus ke Zia dan Raka,kedua remaja itu menganggukan kepala mereka.


"Iya gak papa kok buk"saut Raka kepada guru perpus itu.


"Baiklah ibuk pergi dulu,ingat jangan macam macam disini"Guru tersebut memberi peringatan sebelum benar benar pergi dari dalam perpustakaan meninggalkan kedua muridnya itu disana.


Sepeninggal guru itu dari sana,suasana perpustakaan kembali hening karena tidak ada percakapan apapun antara Zia dan Raka.Keduanya sibuk dalam pekerjaan masing masing dan tak peduli jika masih ada orang lain kecuali diri mereka sendiri disana.


Brak...sebuah buku yang tadinya ada ditangan Zia jatuh kelantai memecahkan keheningan perpustakaan, awalnya Ken tidak terlalu peduli akan hal itu karena ia mengira buku itu jatuh akibat kecerobohan cewek yang ada didekatnya itu tapi ia langsung berbalik setelah mendengar rintihan samar seperti orang yang menahan kesakitan dari arah belakangnya.


"Sstt.."Zia terduduk lemas dilantai akibat tubuhnya tiba tiba lemas dan kepalanya mendadak terasa sangat sakit.


"Eh lo kenapa?"tanya Raka sedikit panik,ketua OSIS itu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya denganĀ  gadis yang terlihat tengah menahan rasa sakit yang tiba tiba muncul itu.


"Ka-kayaknya,gu-gue kam-buh.."jawab Zia terbata bata karena menahan rasa sakit dikepalanya.


"Aduh gue bilang apa tadi,trus gue harus gimana ini?"ujar Raka bingung apa ya harus ia lakukan untuk menolong Zia.


"O-obat"jawab Zia


"Obat lo mana?obat lo mana?"tanya Raka menanyakan dimana gadis itu menyimpan obat yang dimaksud.


"Tas,kelas"jawab Zia


Zia sekuat tenaga menggeser posisi dirinya supaya bis bersandar dirak buku,ia berharap semoga ketua OSIS itu cepat kembali karena bukan hanya merasa lemas dan sakit kepala tapi nafasnya juga sudah mulai sesak.


Raka berlari secepat mungkin menuju kekelas Zia,beruntung saat ini masih jam PBM jadi tidak akan terlalu ada yang memperhatikan dan curiga kenapa ia begitu berlari cepat dan terlihat buru buru begini.


Brak...pintu kelas IPS 1 yang merupakan kelas Zia tak sengaja ia buka dengan kasar,guru yang mengajar dan murid murid yang ada dikelas itu juga terlihat kaget dengan kehadiran dadakan ketua OSIS mereka itu.


"Raka,ada apa kamu kesini?"tanya guru yang mengajar kepada Raka.


"Maaf buk akan pintunya,saya kesini mau nanya meja siswi yang namanya Zia letaknya dimana ya?"tanya Raka berusaha bersikap setenang mungkin.


"Mejanya Zia ada disini"saut Neta dari sisi belakang kelas,gadis itu terlihat menunjuk kearah sebelahnya.


Mendengar hal itu Raka langsung buru buru berjalan kearah meja itu dan langsung mengambil tas Zia yang diletakkaan diatas meja


"Mau lo apain tas sahabat gue?"tanya Neta dengan tatapan penuh selidik.


"Ada perlu"jawab Raka singkat dan langsung berjalan dengan cepat kembali kedepan.


"Saya permisi buk,maaf sempat mengganggu PBMnya"pamit Raka langsung meninggalkan keluar kelas dan setelah itu Raka terlihat dari jendela berlari dengan cepat,bahkan suara langkah kaki cowok itu cukup nyaring terdengar.


"Baiklah kita lanjutkan kembali anak anak"ujar guru mata pelajaran yang mengajar dikelas itu kembali memusatkan perhatian murid muridnya untuk fokus kembali kepembelajaran.


Namun tidak dengan Neta,gadis itu tiba tiba mendadak khawatir dengan sahabatnya.Apalagi saat melihat gerak gerik dan raut wajah ketua OSIS sekolahnya tadi yang terlihat buru buru dan panik,Neta menjadi tak bisa fokus pada guru yang sedang menerangkan didepan.


*Pasti terjadi sesuatu sama Zia,apa jangan jangan sakitnya kambuh ya?"


Tiba tiba muncul pertanyaan itu didalam pikiran Neta,tapi ia segera berdoa itu tidak terjadi.


Raka kembali memasuki perpustakaan sambil berlari menuju tempat dimana ia meninggalkan Zia tadi sambil membawa tas gadis itu dan satu botol air mineral kemasan yang ia beli sebelum kembali keperpus,beruntung guru perpustakaan yang tadi belum kembali.


"Gue bawa obat lo"ujar Raka kepada Zia,namun Zia tak menyaut.Gadis itu terlihat sudah sangat lemah dan matanya terpejam tapi bukan pingsan hanya memejam karena menahan rasa sakit yang ia rasakan.


Raka mengobrak abrik isi tas Zia dan dengan cepat menemukan botol kecil tempat obat gadis tersebut,ia mengeluarkan beberapa butir pil sesuai petujuk yang tertulis dengan spidol dibotol itu kemudian memberikannya kemulut Zia dengan tangannya.Zia menelan pil yang diberikan Raka tadi dengan dibantu air minum yang disodorkan oleh Raka kemulutnya,setelah berhasil meminum obatnya Zia terdiam dan memejamkan matanya kembali untuk menunggu obatnya bekerja.


"Gimana udah mendingan?"tanya Raka kepada Zia yang terlihat sudah tak kesakitan lagi.


"Hm,makasih"ucap Zia dengan tulus.


"Sama sama,huh untung gue gak jadi kasih hukuman berdiri dilapangan ke lo kalau enggak.Kalau enggak bisa tambah gawat pas sakit lo kambuh kayak sekarang"ujar Raka kepada Zia.