One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 162



Keesokan harinya___


"Gila Lo Hmm"


Zia langsung membekap mulut Neta yang berbicara dengan folume keras diperpustakaan,setelah tangannya dipukul pukul oleh Neta yang mulai kehabisan nafas baru ia melepaskan tangannya yang membekap mulut sahabatnya.


Neta langsung menghirup udara sebanyak mungkin setelah tangan yang membekap mulutnya dilepas oleh Zia


"Mau bunuh gue lo?!"ujar gadis itu menatap tajam sahabatnya.


"Siapa suruh teriak"ujar Zia santai.


Srup...srup...gadis itu dengan santai meminum es jeruk yang tadi ia beli dikantin sebelum berakhir diperpustakaan sekolah ini.


"Cks,santai banget ya jadi anak yang punya sekolah.Bawa makan minum keperpus gak dilarang"ujar Neta mode julid.


"Julid amat jadi netizen,padahal situ juga kecipratan keuntungan itu"balas Zia membalas julitan sahabatnya itu.


"Ya jelaslah,masa punya sahabat yang menguntungkan enggak dimanfaatin" ujar Neta.


Kriuk kriuk kriuk...suara keripik kentang yang ia kunyah dimulutnya.


"Trus si J mau nerima tawaran lo itu?"tanya Neta kembali ketopik pembahasan mereka tadi.


"Ya jelas mau lah,tinggal tunggu keputusan bokapnya aja gimana"jawab Zia,kini ia mulai memakan roti dihadapannya.


Padahal dipintu masuk perpustakan itu tertulis dan terpampang dengan jelas aturan dilarang membawa makanan dan minuman kedalam perpustakan serta makan dan minum disana juga,namun lihatlah kedua bocah ini yang dengan santainya menikmati makanan yang mereka bawa dari kantin.Jangan kira penjaga perpustakaan tidak tau soal ini karena tentu saja tau,bahkan Zia sendiri yang dengan santainya meminta izin langsung untuk numpang disana karena beralasan kantin penuh padahal enggak tuh.


Tapi meskipun kantin penuh sekalipun,yang namanya seorang Zia Antara kalau lagi butuh tempat duduk dikantin bakalan gak perlu repot repot soalnya pasti bakal ada yang dengan suka rela ngasih dia tempat duduk.Ya tapi yang namanya juga alasan,mau gimana Zia aja.


Lagi pula sebenernya tanpa perlu punya alasan yang jelas dan masuk akalpun,penjaga perpustakaan sekolahmah mana pasti bakal langsung kasih izin Zia.Mereka soalnya lebih takut kalau nona muda Antara itu merasa gak nyaman dari takut sama hal yang lain kecuali Tuhan tentunya,takut mereka tuh dipecat padahal mah Zia gak mungkin sejahat itu kecuali mereka jahatin dia dulu.


Btw Zia dan Neta sekarang lagi duduk lesehan dibagian sudut perpustakaan paling pojok tepatnya dibalik rak buku paling akhir,tempat ini merupakan tempat favorit mereka diperpustakan soalnya disana mereka bisa bebas ngobrol dengan tenang.


Zia sengaja memilih untuk duduk disana bersama Neta karena disana mereka bisa bebas makan minum tanpa harus dilihat oleh murid lain,ya mau gimanapun Zia gak mau nyontohin prilaku yang melanggar langsung didepan murid Hantara yang lain.


"Btw ngomong ngomong soal netizen, lo udah liat berita hot disosmed belum?ada berita baru keluar nih" tanya Neta kepada Zia,gadis itu tengah membaca berita yang muncul dihpnya.


"Gue belum liat berita apapun hari ini, berita hot tentang apa emang?"tanya Zia balik.


"Liat aja,ini berita tentang lo loh"suruh Neta.


"Ooh palingan tentang berita dibandara kemarin"ujar Zia nampak santai.


"Lah udah tau lo bakal diberitain?" tanya Neta heran dengan respon santai sahabatnya itu.


"Tau,kak Lyn udah nyuruh gue antisipasi dari kemarin pas liat tiba tiba ada wartawan pas gue sama yang lain jemput ortu"jawab Zia.


"Pantes respon lo biasa aja gitu, udah nebak toh kalau bakal diberitain"ujar Neta kembali meletakkan hpnya dilantai marmer yang beralas koran.


"Btw ini lo gak papa balik lama,gak sibuk lo?"tanya Neta kepada Zia,bukan apa apa tapi ini sudah memasuki jam pulang sekolah karena ujian hari ini sudah selesai.Meski begitu banyak murid yang memilih untuk stay disekolah lebih lama dengan berbagai alasan masing masing salah satunya yaitu numpang belajar diperpus,atau sekedar nongkrong sambil ngobrol kayak yang dilakuin sama Zia dan Neta ini.


"Gue lo tanyain,udah jelas juga jawabannya apa"ujar Neta.


"Sorry gue lupa kalau punya sahabat yang broken home"ujar Zia setengah bercanda.


"Dih,punya kaca gak sih mbak?situ juga masih termasuk golong yang sama kayak saya"saut Neta.


"Lah iya juga ya,emang takdir berarti kita sahabatan.Nasibnya gak jauh beda"


Hahaha...tawa mereka pecah seketika, tidak ada yang tau apakah tawa itu memang tawa bahagia atau menyimpan makna lain didalamnya.


"Tapi kayaknya,bentar lagi ke broken home-an gue bakal berkurang deh Zi"ujar Neta.


"Kenapa gitu?"tanya Zia.


"Soalnya hari minggu kemarin,mama gue bilang ke gue kalau dia udah mutusin buat berhenti jadi pramugari mulai awal bulan depan"jawab Neta.


"Oh ya,bagus dong kalau begitu.Ikut seneng gue dengernya"ujar Zia yang benar benar ikut senang mendengar kabar dari sahabatnya itu.


"Tapi awalnya gue gak percaya tau,gue kira mama gue cuma membual aja kayak waktu yang sudah sudah"ujar Neta,gadis itu mengatakan hal itu bukan apa apa.Tapi sang mama sejak dulu sangat sering berjanji untuk berhenti bekerja,namun nyatanya itu hanya bualan semata supaya Neta tidak merengek dan mengganggu pekerjaan sang mama.


"Pasti karena mama lo yang sering bohongin lo ya?"tanya Zia langsung bisa menebak,Neta mengangguk.


"Trus sekarang gimana?udah percaya?" tanya gadis itu lagi.


"Udah kok,soalnya kemarin malam mama kasih liat gue surat resent yang bakal dia kirim ke kantor maskapai tempat dia kerja"jawab Neta.


"Ya berarti bagus kalau gitu,lo jadi gak jadi anak broken home lagi"ujar Zia.


"Btw lo gimana?"tanya Neta ke Zia.


"Gimana apanya?"tanya balik Zia.


"Lo sama keluarga lo"ujar Neta.


"Ya masih gitu gitu aja,ada perkembangan tapi ada penurunan juga"jawab Zia sambil mengunyah snack yang ada disana.


"Coba jelasin"pinta Neta kepada sahabatnya itu.


"Hubungan gue sama kak Gia,Lio,papa sama mami gue sih kayak gak ada bedanya pas awal gue tinggal disana.


Tapi kak Lyn sama kak Arga ini nih yang jadi masalah khususnya kak Arga,sikap mereka kegue itu kayak apa ya tertukar gitu"ujar Zia mulai menjelaskan.


"Tertukar gimana?"tanya Neta


"Kak Lyn sih seperti yang sering gue ceritain ke lo,sifat kakak gue yang satu itu kayak care sama udah gak terlalu dingin lagi sama gue.Ya meski itu terjadi pas gak ada anggota keluarga yang lain disekitar kita,tapi gue bisa maklumin"ujar Zia menjelaskan tentang sikap kakak ketiganya itu padanya.


"Kalau kak Arga gimana?"tanya Neta