
Ditengah tengah percakapan keluarganya,Zia merasa perlu ketoilet.Oleh sebab itulah akhirnya dirinya berpamitan kepada Raka untuk pergi sebentar.Zia tadinya hendak berpamitan juga kepada orang tuanya namun sepertinya kedua orang tuanya tengah asik mengobrol dengan om Geral dan tante Nada.
"Rak,lo disini sendiri gak papakan?
Gue mau ketoilet bentar"ujar Zia sambil berbisik kepada Raka.
"Its oke,gak perlu gue temeninkan?"saut Raka juga dengan berbisik,Lily hanya menggeleng singkat sebagai jawaban.Setelah itu Lily langsung bergegas pergi dari sana setelah mendengar jawaban tidak apa apa dari Raka.Sembari menunggu Zia kembali,Raka mengamati orang orang disekitarnya.Sudah sangat jelas tidak ada satupun tamu yang dirinya kenali disana kecuali keluarga Zia saja.Entah dirinya yang kurang bergaul atau perbedaan latar belakang keluarganya yang sudah jelas jelas bukan dari kalangan pebisnis atau pengusaha melainkan latar belakang keluarganya adalah abdi negara.Selain Zia yang mungkin bisa disebut lumayan dia kenal hanya Liona saja.Namun Liona sendiri sedang asik berbincang dengan nyonya Sela dan tantenya Nada,kak Jevan membahas sesuatu dengan kak Arga,kakak Zia yang bernama Gia yang sudah entah pergi kemana dan sebenarnya masih ada satu orang lagi yaitu kakak ketiga Zia yaitu kak Lyn,tapi aura dinginnya saja sudah membuat Raka segan duluan untuk mengajak bicara terlebih dahulu.Jadilah Raka memilih untuk memainkan ponselnya saja berkirim pesan dengan Neta,toh dari pada dia seperti orang nyasar yang kebingungan disana.
"Tuan Renal,Selamat Malam"
Suara sekaligus kehadiran seseorang yang mendekat ketempat dimana keluarga Antara berkumpul langsung mengalihkan perhatian mereka semua.
Tuan Renal yang tadinya mengobrol santai dengan sepupunya langsung menegang ditempat dan sedetik kemudian langsung melempar tatapan tak suka kepada sosok laki laki seumuran dengan dirinya.
"Selamat malam semuanya"orang itu kembali mengucapkan selamat malam dengan senyuman ramah,namun tuan Renal tetap tak menyukai kehadiran laki laki itu.
"Selamat malam juga,kak Dirga" berbeda dengan sang kakak sepupu,
Nada malah terlihat memberi respon yang ramah.Meski dirinya tahu,tidak bukan hanya dirinya tapi nyonya Sela juga mengetahui siapa sosok laki laki yang Nada panggil dengan panggilan Kak Dirga itu.
"Halo Nada,lama tak bertemu.Bukankah kudengar kamu dan suamimu tinggal di Australia?"tanya laki laki bernama Dirga itu kepada Nada.
"Ya,memang.Tapi tak mungkin aku melewatkan pesta besar yang diadakan oleh kakak sepupuku sendiri.Kak Dirga sendiri tak kusangka akan diundang juga"ujar tante Nada kepada laki laki bernama Dirga itu.
"Tentu saja aku harus datang mewakili perusahaanku,ya meski aku tahu jelas kalau pimpinan perusahaan penyelenggara acara ini sangat tidak menyukaiku.Tapi bukankah profesionalitasan itu penting?"ujar tuan Dirga sambil melirik kearah tuan Renal.
"Jangan basa basi Dirga,apa yang kau inginkan datang menghapiri kami?"tanya tuan Renal dengan sengit kepada tuan Dirga.
"Tentu saja hendak menyapamu, keluarga,dan juga tentunya menyapa istri tercintamu Renal.Selamat malam nyonya Sela Antara,anda semakin cantik saja.Pantas Renal tergila gila pada anda nyonya"ujar tuan Dirga.
"Te-terima kasih untuk pujiannya, tuan Dirga"entah kenapa nyonya Sela berbicara seperti orang yang ketakutan.Dan baik Arga,Lyn dan Liona menyadari hal itu namun hanya Lyn saja yang tahu penyebabnya.
"Jangan membuat masalah disini Dirga,pergilah!"ujar tuan Renal,
entah kenapa suasana menjadi memanas.
"Aku akan pergi Renal,tapi nanti setelah aku bertemu keponakan kesayanganku"ujar tuan Dirga,membuat tuan Renal mengepalkan tangannya kuat.
"Maaf sebelumnya,tapi siapa anda?dan keponakan?tidak ada keponakan anda disini tuan"Arga akhirnya turut bicara setelah menyadari kalau hubungan orang tuanya dan laki laki bernama tuan Dirga itu sepertinya tidak begitu baik.
"Benar juga,saya belum memperkenalkan diri kepada kalian anak anak.Perkenalkan nama Dirga, saya adalah sahabat karib dari istri kedua papa kalian alis ibu tirikan yaitu Celine Fransisca"Tuan Dirga memperkenalkan dirinya sendiri.
"Apa?!sahabat baik mama?"
Semua orang langsung menoleh kearah sumber suara,ternyata yang barusan menyauti adalah Zia yang baru kembali dari toilet.
"Zia"tuan Renal bergumam menyebut nama putri bungsunya itu.
Zia tak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya namun yang jelas saat dirinya kembali dari toilet,Zia mendengar perkataan laki laki yang tidak dia kenal itu mengaku sebagai sahabat mama kandungnya.Gadis itu langsung melangkah mendekati sosok laki laki yang sepertinya hampir seumuran dengan papanya.
"Anda benar temannya mama kandung saya?kalau tidak salah dengar,anda tuan Dirgakan?"tanya Zia kepada tuan Dirga.
Tuan Dirga langsung tersenyum bahagia setelah akhirnya bisa bertemu dengan gadis didepannya ini,
gadis ini memang mirip sekali dengan wanita kesayangannya.
"Saya memang benar benar sahabat karibnya Celine,mama-mu nak. Perkenalkan nama saya Dirga,khusus untukmu panggil saja saya paman"ujar tuan Dirga kepada Zia,nada bicara laki laki itu sangat berbeda dari yang tadi.Tuan Dirga berbicara dengan lembut bak seorang paman berbicara kepada keponakan perempuannya.
"Jangan dengarkan perkataan laki laki itu,Zia sayang"suara tuan Renal terdengar meminta supaya putri bungsunya tidak mendengarkan perkataan tuan Dirga.
Namun sepertinya suara tuan Dirga lebih dahulu masuk kepikiran Zia dan sepertinya malah tak mendengar perkataan papanya.Gadis itu terlanjur senang.Alasannya?Hei sudah 17 tahun dirinya hidup namun baru kali ini Zia mengetahui kalau mamanya memiliki sahabat karib,selama ini Zia hanya mengenal kak Anna saja yang menjadi orang terdekat mamanya selain sang papa.
"Benarkah?wah aku tidak tahu mama punya sahabat karib,apa paman benar benar kenal baik dengan mama?"Zia masih meyakinkan dirinya.Tuan Dirga terkekeh lalu mengangguk mengiyakan sekaligus meyakinkan gadis remaja didedepannya ini.
Tuan Renal nampak memasang wajah khawatir dan was was melihat respon putri bungsunya itu,terlebih saat mendengar Zia dengan mudah memanggil Dirga dengan panggilan Paman.Nyonya Sela tak tahu harus bagaimana.Yang lainnya nampak memasang wajah bingung kecuali tuan Geral dan nyonya Nada, serta kak Anna dan kak Lyn.
"Berarti paman tahu semua tentang mamaku dong?"tanya Zia lagi,tuan Dirga kembali menganggukkan kepalanya.Melihat anggukan dari tuan Dirga membuat Zia semakin senang tak tertahan sekarang.
Raka yang sejak awal memperhatikan semuanya dari pinggir sedikit banyak langsung memahami situasi tegang tengah terjadi,namun sepertinya Zia tidak menyadari hal itu padahal menurut Raka gadis itu biasanya paling peka terhadap sebuah keadaan disekitar.Mungkin Efek bahagia yang gadis itu rasakan.Raka tanpa babibu langsung melangkah maju mendekat ke tempat Zia dan menyentuh pelan pundak gadis itu bermaksud untuk menyadarkan Zia atas situasi yang sebenarnya terjadi disekitar.