
"Tenang aja gue udah siapin kok"ujar Neta terlihat sangat yakin.
"Apa?"tanya Raka.
"Ada beberapa tahapan rencana yang harus kita kerjain dulu,dan kita bakal mulai dari tahap pertama yaitu tahap sugesti"ujar Neta.
"Sugesti?"
"Yap sugesti,kita harus sengaja bikin beberapa orang disekitar kalian bisa ngeliat interaksi kalian.Tipis tipis aja tapi seenggaknya nanti,pas kalian ngaku kalian itu pacaran,ada opini publik yang bisa nambah kepercayaan atas rencana kita ini"jelas Neta kepada Zia dan Raka.
Keesokan harinya didepan Ruang Olahraga___
Dan disinilah Raka sekarang yaitu berdiri sambil bersandar disalah satu sisi tembok didekat ruang olahraga,cowok itu tengah menunggu Zia yang tengah ada pertemuan bulanan dengan anggota eskul basket sekolah.Tentu saja Raka melakukan ini bukan karena ketidak sengajaan atau atas rasa suka rela,ini semua demi kelancaran rencana yang disusun oleh Neta dan tentunya ia serta gadis yang bernama Zia itu harus melakukannya apapun yang dikatakan Neta karena merekalah pemeran utama dalam sandiwara menyebalkan ini.
Kriet...pintu ruangan olahraga sudah terbuka membuat Raka otomatis berdiri tegap dan tak bersandar pada dinding lagi,ketua osis Hantara itu bisa melihat satu persatu anggota eskul basket sekolah keluar dari sana dan bahkan beberapa diantaranya menyempatkan untuk sekedar menyapanya.Meski ia yakin kalau para siswi itu sedikit penasaran untuk apa dirinya da disana dijam pulang sekolah begini,namun Raka bukanlah tipe orang yang peduli akan pemikiran pemikiran aneh seperti itu.Setelah beberapa lama akhirnya gadis yang ia tunggu tunggu sejak tadi terlihat juga batang hidungnya,
Zia keluar paling akhir bersama Rindi ketua eskul basket putri dan kedua cewek itu terlihat berbincang kecil.
"Makasih lo ya Zi,udah mau bertahan sama ditim sampai akhir semester ini"terdengar ucapan Rindi.
"Sama sama,lagian gue juga makasih karena kalian semua mau ngertiin kondisi gue yang gak memungkinkan untuk terlibat aktif dalam eskul"saut Zia kepada Rindi.
"Selow aja kalau soal itu mah,kita mah pasti maklum sama kesibukan lo yang selain jadi siswi tapi juga sebagai pengusaha muda.Lagian nih ya Zi,kalau tim butuh sponsir dana buat kegiatankan kita bisa minta lo aja buat nanggung hehehe"ujar Rindi terdengar sedikit bercanda.
"Bisa aja kapten gue yang satu ini,tapi kalau masalah itumah gampang.Siap sedia gue mah kalau eskul kita butuh suntikan dana sponsor"ujar Zia.
"Padahal gue becanda,tapi kalau lo mau mah bagus itu"saut Rindi.
Kedua gadis itu terus mengobrol didepan pintu olahraga,tak sadar kalau Raka sudah mulai merasa kesal karena merasa menjadi sosok tak kasat mata disana.
Ekhem....Raka dengan sengaja berdehem supaya kedua gadis itu menyadari keberadaannya.
"Eh Raka,ngapain pak ketos disini?" tanya Rindi yang menjadi yang pertama menyadari keberadaan Raka disana.
Raka hanya diam tak menyauti perkataan Rindi,cowok itu hanya menatap Zia dengan raut wajah ya yang agak sedikit kesal.Kemudian balik melihat kearah Rindi.
"Mau jemput dia"jawab Raka seadanya.
"Eh maaf Raka,aku lupa kalau kamu nungguin aku disini"ucap Zia.
*Aku-kamu anying,pengen muntah gue* batin Zia.
"Em kapten,gue balik duluan gak papakan?Soalnya gue pulangnya bareng Raka hari ini"tanya Zia kepada Rindi kapten basketnya.
Rindi terlihat agak kurang konek melihat interaksi kedua orang didepannya ini
"Ah iya gak papa kok"jawab Rindi yang tak masalah akan hal itu.
"Kalau gitu ayo"ajak Zia kepada Raka.
"Hm"saut Raka yang langsung menggandeng tangan Zia dan pergi dari sana.
Rindi kembali merasa heran melihat interaksi itu,namun lagi lagi ia menepis pemikiran pemikiran diotaknya dan memilih untuk menghapiri teman temannya yang menunggu tak jauh dari sana.
Huf...Zia menghela nafas berat mengingat semua itu dan kemudian melirik kalung berliontin berbentuk gembok yang kini tergeletak diatas belajarnya.
Keberadaan kalung pasangan itu juga bagian dari rencana Neta,bahkan sahabatnya itu yang repot repot mencari kalung itu malam malam ke mall.Supaya bisa diberikan kepadanya dan juga Raka pagi pagi tadi dan mengatakan benda itu akan berguna nanti,dan kenyataannya memang sangat berguna tadi.
"Sebanyak apalagi bentuk kebohongan yang akan lo buat Zia,kok lo mau ngehabisin sisa waktu lo dan bisa mati dengan tenang aja susah banget sih?"gumam gadis itu tertuju kepada dirinya sendiri,mata gadis itu terlihat sangat sangat sendu.
Buk...Zia menghempaskan tubuhnya dan berbaring telentang diatas tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya untuk melepas lelah sejenak dari semua beban dipikirannya.
Lihatlah!bahkan gadis itu belum sempat melepas baju sekolahnya.