One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 125



"Langit malam hari ini gelap,tak cerah dan tak berbintang.Untuk apa memandanginya seperti itu?"tanya Lyn dengan nada datar khasnya berjalan menghampiri Zia.


"Aku tau hal itu kak,tapi langitnya seperti mewakili suasana hatiku saat ini"saut Zia tanpa menoleh kearah sang kakak,karena Zia tahu pasti siapa yang mengajaknya bicara itu.


"Apa terjadi sesuatu?"tanya Lyn mengambil posisi duduk disebelah Zia.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan kakak itu,bisa kah aku ingin bertanya sesuatu dan kakak harus berjanji menjawabnya?"ujar Zia.


"Baiklah,apa itu?"tanya Lyn kepada adiknya itu.


"Apa kakak sudah bisa menerima keberadaanku dirumah ini bukan tapi didalam keluarga ini?"tanya Zia sambil menatap lekat kakak ketiganya itu.


Lyn terdiam dan tak langsung menjawab pertanyaan adiknya itu,ia menatap balik tepat dimata adiknya yang tengah menatap kearahnya itu dengan seksama.Lyn bisa merasakan kalau kondisi perasaan adiknya itu sedang tak baik baik saja,ada sesuatu yang membuat adiknya itu sedih.


"Kakak belum bisa menjawabnya ya"gumam Zia pelan sambil menundukkan kepala namun masih bisa didengar oleh Lyn.


"Kalau begitu bagaimana sebagai teman atau sahabat,kalau kakak belum bisa menganggapku sebagai keluarga.


Ayo setidaknya jadi teman atau sahabat ku"pinta Zia kembali menatap kakaknya,gadis itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.Lyn menatap tangan adiknya yang terulur itu dengan seksama,tangan itu terlihat sedikit bergetar.


"Tidak mau juga ya"gumam Zia kembali,ia kemudian berniat menurunkan uluran tangannya itu.Tapi dengan cepat Lyn kakaknya itu langsung menerima uluran tangan itu, tak hanya itu sang kakak juga membawa Zia kedalam pelukannya.


"Kakak masih belum bisa menentukan dimana posisimu,tapi yang jelas kakak menerima keberadaanmu disini dan Ayo bersahabat terlebih dahulu"ujar Lyn memeluk adiknya itu erat.


"Benarkah?"tanya Zia memastikan.


"Hm"dehem Lyn.


"Tapi kak,kenapa kakak memelukku. Bagaimana kalau kak Gia melihat? Pasti kakak akan mendapat masalah bukan?"tanya Zia,gadis itu berniat melepaskan diri dari pelukan kakaknya itu.


"Dia tidak akan melihat,tidak ada orang lain yang rela lelah berjalan ketaman belakang saat malam malam begini.Hanya kita dirumah ini"jawab kak Lyn,ia mengeratkan pelukannya kemudian tak lama setelah itu baru ia melepaskan pelukannya.


Perkataan Lyn itu ada benarnya tapi sepertinya tidak berlaku untuk malam ini,karena seorang gadis yang seumuran dengan Zia melihat interaksi keduanya sejak tadi termasuk saat Lyn membawa Zia kepelukannya.Setelah itu sang gadis langsung memilih pergi dari sana dan tak mau mengganggu,sambil membawa berbagai pertanyaan dibenaknya.


Kembali ke dua gadis yang masih berada dibangku taman belakang.


"Sekarang jawab pertanyaan pertamaku tadi"pinta kak Lyn datar kepada Zia.


"Aku hanya sedikit merasa kecewa pada seseorang,aku sedikit salah mengira.Ya walaupun seseorang itu tak salah,mungkin hanya aku yang terlalu percaya diri"ujar Zia mengubah arah pandangnya kembali menatap langit malam yang gelap dan tampak kosong,tidak ada bintang satupun dan bulan juga hanya terlihat samar saja.


"Kakak akan ulang tahun 18 september ini kan?"tanya Zia setelah hening beberapa saat.


"Hm"saut kak Lyn berdehem mengiyakan.


"Mau hadiah ulang tahun apa dariku?" tanya Zia menoleh kearah kakaknya itu.


"Ayolah jangan jawab terserah begitu,katakan sesuatu yang ingin kakak dapatkan sebagai hadiah ulang tahun.Tak usah sungkan sungkan,kakak punya adik seorang pengusaha muda nan sukses.Jadi jangan khawatir uangku akan habis"ujar Zia yang hanya direspon gelengan oleh sang kakak.


"Tak perlu repot"jawab kak Lyn lagi,


Ia bukannya sungkan atau apa tapi ia memang tak terlalu peduli tentang hari ulang tahun atau masalah kado. Anggota keluarganya ada yang mengingat saja sudah syukur,ya memang benar ia akan bersyukur sekali.Kenapa Lyn bisa beranggapan begitu,itu karena hari ulang tahunnya memang yang paling sering terlupakan oleh orang orang dirumah ini kecuali bik Muti pelayan tua dikediaman ini dan juga Callie sahabat baiknya.Mereka biasanya akan ingat saat hari sudah malam atau bahkan telah berganti dan selalu hanya kata maaf yang akhirnya Lyn dengar dari kedua orang tua dan saudara serta saudarinya,hadiah? Uang di ATMnya akan bertambah agar ia bisa membeli sendiri hadiah ulang tahunnya.


"Kenapa kakak malah bermenung?"tanya Zia.


"Tidak papa"jawab Lyn.


"Kakak benar benar bingung atau tidak tahu hadiah apa yang kakak inginkan?"tanya Zia lagi.


"Ya"jawab Lyn singkat.


"Zia sebenarnya sudah menyiapkan sesuatu sebagai hadiah untuk kakak nanti,tinggal menunggu hadiah kedua saja.Tapi aku tak tahu apakah kakak akan mau menerima atau menyukai hadiah itu"ujar Zia.


"Siapkan apa saja,kakak akan menerimanya apapun itu"ujar Lyn kepada adiknya itu.


"Baiklah kalau begitu"ucap Zia tampak tersenyum manis.


Setelah itu hanya terdengar ocehan Zia yang bertanya atau menceritakan berbagai hal kepada Lyn kakaknya, sedangkan sang kakak setia mendengar apapun ocehan yang keluar dari mulut adiknya itu dan sesekali ia akan bersuara untuk merespon.


Lyn terus memerhatikan dengan lekat raut wajah Zia yang terus mengoceh, dalam hati gadis berwajah dingin itu merasa heran dengan cepatnya perubahan emosi adiknya itu.


*Bukankah tadi saat aku menghampiri nya,bocah ini terlibat sangat sedih, hancur,dan terlibat kecewa akan sesuatu.Tapi sekarang tak sampai hitungan jam,semua itu menghilang seketika berganti dengan raut wajah cerah yang selalu dia tampilkan* batin Lyn yang masih terus memperhatikan dengan lekat wajah Zia yang terlihat perpaduan sempurna dari wajah papa mereka dan wajah mama kandung gadis itu.


*Zia benar benar mewarisi mata hazel milik mami*ujar Lyn dalam batinnya lagi.


~skip~


Pagi tiba petanda hari barupun telah dimulai.


"Papa dan mama akan pulang dua hari lagi"ujar Arga sang sulung membuka pembicaraan pagi dimeja makan.


"Wah benarkah?bukankah mama dan papa akan berada diAustralia selama tiga bulan dan inikan baru dua bulan lebih sedikit"ujar Liona menanggapi kabar kepulangan orang tua mereka itu dari sang kakak tertua.


"Sepertinya pekerjaan papa disana lebih cepat selesai dari waktu yang diperhitungkan"ujar Gia menyauti perkataan adiknya itu.


"Benar apa yang dikatakan Gia kakakmu"ujar Arga membenarkan perkataan kembarannya itu.


"Baguslah,Lio sudah sangat merindukan mama dan papa.Kalau begitu ayo rencanakan liburan keluarga kak,langsung setelah mama dan papa pulang"usul Liona sangat dengan Antusias.


"Baiklah kakak akan memberi usulan kalau kita semua akan liburan keluarga sehari setelah kepulangan papa dan mama kesini"ujar Arga setuju dengan saran Liona.