One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 148



Bruk...suara pintu mobil ditutup dari kedua sisi depan mobil,Zia dan Raka baru saja keluar dari dalam mobil Raka secara bersamaan.Mereka telah tiba dipemakaman tujuan mereka,kedunya sama sama memegang bunga ditangan mereka.Bedanya hanya pada jumlah bunganya,Zia memegang tiga bunga ditangannya sedangkan Raka hanya satu.


"Terima kasih atas tumpangannya"ucap Zia kepada Raka.


"Sama sama"balas Raka.


"Nanti saat pulang,lo boleh nebeng lagi kalau mau"lanjut Raka, menawarkan tebengan pulang kepada Zia.


"Tawaran menarik,baiklah"ujar Zia menerima tawaran itu tanpa pikir panjang,lagi pula nanti ia tak perlu repot repot mencari taksi lagi nanti pikir Zia.


Setelah percakapan singkat itu, keduanya melangkahkan kaki memasuki pintu masuk area pemakaman.Tak seberapa lama berjalan,Raka terlihat berhenti didepan sebuah makam sedangkan Zia sendiri melanjutkan melangkah ditempat bagian dimana ketiga mendiang keluarganya dimakamkan.


Jarak tempat makam yang dikunjungi Raka dan Zia tak terlalu jauh,hanya berjalak sekitaran sepuluh makam kedepan saja.


Zia berhenti didepan makam sang mendiang sang mama terlebih dahulu, ia tak lama disana.Gadis itu hanya meletakkan bunga lily yang ia bawa disana lalu kemudian berdoa sebentar,setelah itu Zia lanjut menuju makam kakek dan neneknya dengan membawa dua buah bunga krisan ditangannya.


Makam mendiang kakek dan nenek Zia berada tepat delapan makam kesamping makam sang mama,letak makam kedua orang yang berjasa membesarkannya itu saling bersebelahan.Sama halnya tadi saat dimakam mendiang mamanya, dimakam mendiang kakek dan neneknya itupun gadis itu tak banyak bicara.


Zia meletakkan masing masing satu bunga krisan dimakam kakek dan neneknya kemudian mulai menyatukan kedua tangannya untuk berdo'a sambil memejamkan kedua matanya.Kedua pasang kelopak mata Zia mulai terbuka kembali,ia menurunkan kedua tangannya.Setelah menatap kedua makam didepannya itu sejenak,Zia berbalik melangkah pergi dari sana.


Zia melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekat kearah pintu masuk makam dan tentunya itu artinya ia akan melewati tempat makam dimana Raka tadi berhenti,ia memutuskan untuk berhenti disana menunggu cowok itu karena tadi ia sudah sepakat untuk kembali menebeng saat pulang.


"Lara,bagaimana kabarmu disana?apa kamu baik baik saja?"Raka


Zia dapat langsung mendengar suara Raka saat sampai didekat tempat cowok itu berada,Gadis itu memilih diam dan tak mengganggu waktu cowok itu dulu.


"Kamu Tau,tadi seperti biasa kak Anya kembali meledekku untuk cepat move on"suara Raka kembali terdengar.


"Dua tahun sudah dua tahun,aku juga ingin cepat move on darimu tapi tetap tak bisa"


"Padahal aku sudah sering diledek jomblo aku sama sesama anak osis dan teman sekelasku karena mengira aku tak pernah punya pacar,mereka tidak tahu saja kalau aku pernah punya kamu"


*Cks cks cks sepertinya itu makam kekasih cowok itu,sungguh miris* batin Zia setelah mendengar kata kata Raka,ia turut prihatin jadinya.


Raka menoleh kebelakang sebentar karena merasa ada seseorang yang berdiri belakang punggungnya,benar saja ia langsung menemukan Zia berdiri disana melihat kearahnya.


Tatapannya dan gadis itu sempat bertemu sebentar,kemudian ia kembali berbalik melihat kearah makam dihadapannya yang merupakan makam mendiang kekasihnya.


"Kita ngobrolnya cukup disini ya, temanku sudah menunggu.Aku akan datang lagi minggu depan,jadi sampai jumpa"pamit Raka.


Setelah itu pemuda itu beranjak dari sana berbalik dan berjalan mendekat ketempat Zia berdiri menunggunya.


"Bukannya lo datang kesini buat berkunjung,kok lo udah berdiri disini aja?"tanya Raka heran kepada Zia.


"Emang,makam kakek-nenek gue trus makam mama gue.Emang kenapa?"saut Zia.


"Tunggu,lo ngunjungin tiga makam  Cepat banget selesainya,gue yang cuma satu aja gak secepat itu?"ujar Raka.


"Gue bukan tipe yang banyak omong kalau ngunjungin makam,gak kayak elo yang harus segala curhat dulu"jawab Zia.


"Eh tunggu,lo tadi bilang makam mama lo?lah bukannya lo sama Liona itu saudaraan ya,orang tuanyakan masih lengkap?"tanya Raka heran,ia baru menyadari perkataan Zia tadi yang mengatakan mengunjungi makam mamanya.


"Gue sama Lio punya mama yang beda"jawab Zia.


"Lo emang gak tau atau pura pura gak tau?"tanya Zia kepada Raka.


"Gue emang gak tau,em sorry kalau gitu"ujar Raka,pemuda itu sekarang jadi merasa kurang enak akan pertanyaannya tadi.


"No problem"ujar Zia.


"Btw,itu tadi pasti makam mantan pacar lo ya?"tanya Zia.


Ia dan Raka saat ini sudah mulai berjalan meninggalkan area dalam pemakaman.


"Bukan mantan pacar tapi pacar"ujar Raka merevisi kalimat Zia.


"Sama aja itu,lagian udah lo sama dia udah beda alam juga"ujar Zia tanpa beban.


"Anjir,omongan lo kok nyelekit sih" ujar Raka mengumpat diawal.


"Ngapain lo?"tanya Zia saat melihat tingkah Raka itu.


"Gak ngapa ngapain"jawab Raka.


"Ooh kirain lo takut,tapi bagus deh lo gak takut.Soalnya kata orang kalau hantu itu lebih suka nempel sama orang yang penakut"ujar Zia.


"Lo bisa berhenti bahas soal hal hal  mistis gak sih?bahas yang lain aja"ujar Arga merasa kesal.


"Iya gue gak bahas perihal hal hal kayak gitu lagi,penakut amat lo jadi cowok"ujar Zia.


"Bukannya gue penakut atau gimana, tapi masalahnya tempat lo ngomong itu yang gak cocok.Lo bahas hal mistis pas kita masih diarea pemakanan soalnya,gimana gue gak merinding coba"ujar Raka.


"Iya juga ya,hehehe sory gue baru inget"ucap Zia,dia benar benar lupa kalau mereka berdua masih didalam arena pemakaman.


"Dasar"gumam Raka kesal.


Keduanya akhirnya sampai dimobil milik Raka,Raka dan Zia masuk kedalam mobil.Setelah itu mobil itu mulai melaju meninggalkan area kompleks pemakaman itu.


"Lo mau diantar kemana?"tanya Raka kepada Zia.


"Kekediaman keluarga gue bisa?"tanya Zia.


"Bisa aja sih,jadi mau gue anterin kesana nih?"saut Raka.


"Hm"jawab Zia sambil mengangguk.


"Oke"ucap Raka setuju,cowok itu mengemudikan mobilnya menuju kealamat tempat tinggal Zia.


Drt...drt...drt...


"Hp siapa yang bunyi?"tanya Raka


"Hp gue"jawab Zia,gadis itu langsung mengangkat panggilan telepon yang masuk ke hpnya.


"Halo"ucap Zia.


"Halo dek,kamu dimana?"tanya suara sipenelpon terdengar cukup nyaring.


"Lagi dijalan,emangnya kenapa kak Jev?"saut Zia.


"Ayo ketemuan,biar kakak antar kamu pulang sama kakak kamu juga"ujar kak Jevan.


"Aku pulang sendiri aja ya kak,ini soalnya udah jalan pulang kok"ujar Zia.


"Tempat kamu sekarang masih jauh gak kekediaman Antara?"tanya kak Jevan.


"Masih sih kak,sekitaran dua puluh menit lagi"jawab Zia.


"Kalau begitu kamu tunggu kakak di kafe xxxx deket perumahan aja ya, kamu pulang sama kakak sama Gia kakak kamu aja.Ini kakak kamu Gia yang suruh,nanti pacar kakak itu ngamukkan gawat"ujar kak Jevan sedikit berbisik diakhir.


"Iya deh,Zia tunggu disana"ujar Zia,


Setelah itu panggilan telepon itu diakhiri.


Zia menoleh kearah Raka yang asik menyetir,cowok itu menoleh kearahnya.


"Kenapa?"tanya Raka padanya.


"Lo anterin gue sampai kafe deket perumahan aja ya"ujar Zia.


"Lah kenapa?"tanya Raka heran.


"Kakak gue sama pacarnya bakal nunggu gue disana,gue pulang sama mereka"ujar Zia.


"Okelah,terserah lo mah itu"ujar Raka.