
"Masalah lain?"kak Ilen.
"Iya masalah lain,tepat saat hari dimana kakek-ku dinyatakan pergi untuk selama lamanya.Kondisiku tiba tiba drop dan sampai jatuh pingsan,
dokter mendiaknosis ternyata aku punya penyakit kanker darah kronis.
Dan parahnya baru diketahui saat sudah mencapai stadium dua"ujar Zia.
"Kakak tidak salah dengar?kanker darah?"tanya kak Ilen memastikan.
"Hm,kanker darah"ujar Zia membenarkan,gadis itu menatap kearah jendela ruangan yang sedikit terbuka menatap jauh kelangit.
"Zia pasti sangat terputuk saat itu"ujar kak Ilen.
Zia menoleh kembali kearah psikolog itu
"Awalnya ya,tapi setelah mendengar perkataan dokter saat itu yang mengatakan kalau aku masih mempunyai kesempatan untuk sembuh yang sangat tinggi membuatku membaik.Kakak tau, sejak saat itu aku selalu dengan senang hati rutin melakukan perawatan dan berobat dengan berbagai cara yang disarankan dokter
dengan pikiran aku akan sembuh"ujar Zia kembali bercerita tentang dirinya.
Kak Ilen hanya mangut mangut mendengar perkataan gadis muda didepannya itu,ia tidak mau menimpali terlebih dahulu dan memilih gadis itu melanjutkan ceritanya sampai tuntas.
"Tapi entah harapanku yang terlalu tinggi atau memang takdir yang tertulis sudah seperti itu,semua usaha pengobatanku itu seakan gak berpengaruh sama sekali.Bukannya membaik tapi kondisiku malah makin parah saja,puncaknya sekitar 4 bulan lalu"ujar Zia.
"Apa yang terjadi?"tanya kak Ilen.
"Dokter yang selama ini merawatku selama di US memberi kabar yang terbilang buruk,Kondisiku sudah mencapai stadium akhir dan harapanku untuk bertahan mungkin hanya sampai satu tahun saja"Zia mengatakan hal itu sambil mengukir senyum dibibirnya.
Ilen yang melibat itu langsung tahu kalau senyuman gadis itu bukanlah senyuman biasa,melainkan senyuman getir dan penuh keputus asaan.
"keluarga Zia tahukan soal itu?"tanya kak Ilen,mendapatkan jawaban gelengan dari Zia membuat kak Ilen sedikit tertegun.
"Tapi ada yang tahu bukan?bukan cuma Zia ajakan yang menyimpan ini sendiri?"tanya kak Ilen lagi.
"Ada kok,ada beberapa orang yang tahu dan dua diantaranya adalah kakak dan Neta.Serta lebih baik hanya itu saja yang tahu"jawab Zia.
"Baiklah,kakak akan menyimpan rahasia ini sebaik mungkin"ujar kak Ilen yang tahu maksud kalimat terakhir dari pasien barunya itu.
"Tentu saja,ayo lanjutkan"pinta kak Ilen menjawab pertanyaan Zia itu.
"Itu adalah masalah utamaku yang pertama,dilain sisi aku masih punya masalah lain yang sama besarnya.Ini adalah masalah yang berkaitan dengan hubunganku dengan keluargaku"ujar Zia melanjutkan.
"Apa hubunganmu dan keluargamu terganggu atau sedang tidak baik?" tanya kak Ilen.
"Ya bisa dibilang begitu,meski kenyataannya dari dulu sampai sekarang memang begitu"jawab Zia mengiyakan.Menit demi menit berlalu hingga mencapai jam seiring dengan Zia yang terus mencurahkan beban pikirannya kepada kak Ilen,selepas selesai mengeluarkan keluh kesahnya barulah kak Ilen mulai melakukan tugasnya sebagai seorang psikolog.
Kak Ilen mulai mendiagnisi apa yang terjadi pada Zia,tak lupa dengan memberikan beberapa kalimat berupa jalan bagi Zia untuk mendapatkan solusi serta beberapa nasehat.Dua jam lebih waktu yang dihabiskan Zia untuk berkonsultasi kepada psikolog barunya itu,setelah selesai barulah Zia berpamitan pulang dengan Neta kepada kak Ilen.
~Dimobil,perjalanan pulang konsul~
Neta menatap kearah depan memerhatikan jalan serta kendaraan yang ada didepan mobil Zia yang tengah ia kendarai ini,sudut matanya sesekali melirik kearah sang sahabat yang duduk disebelahnya.
"Bagaimana perasaan lo sekarang?" tanya Neta kepada Zia yang sedang memejamkan mata sambil bersandar kebelakang.
"Lumayan plong,gue gak nyangka konsul kayak gini bisa semembantu gue kayak gini"ujar Zia yang masih setia pada posisinya.
"Bagus deh kalau gitu,ya konsul kayak gini emang bisa dibilang membantu.Khususnya kayak kita kita ini,btw lo maukan buat hadir dikonsul selanjutnya?"ujar Neta.
"Ya tentu"jawab Zia.
"Terus sekarang lo mau langsung pulang atau gimana nih?"tanya Neta kepada Zia.
"Jam berapa sekarang?"bukannya menjawab tapi Zia malah bertanya.
"Jam tiga siang-an,kenapa emang?"jawab Neta.
Setelah mendengar jawaban dari sahabatnya,Zia langsung menbuka kedua kelopak matanya dan memperbaiki posisinya sehingga bisa duduk dengan baik.
"Mampir ke mall yuk,gue tiba tiba pengen makan ice cream.Sekalian mau beli baju ganti yang bisa dipakai buat acara makan malam keluarga gue nanti"ajak gadis itu kepada sang sahabat.
"Yuklah,gue juga mau makan ice cream"saut Neta langsung setuju, sahabat Zia itu langsung menjalankan mobil kearah mall terdekat dari posisi mobil yang mereka kendarai saat ini.