
"Buburnya sudah habis,sekarang kamu istirahat ya sayang"ujar Nyonya Sela kepada Zia putri bungsunya.
"Iya ma"saut Zia.
"Yasudah sekarang kita semua keluar,
biarkan adik kalian kembali istirahat.Zia tak apakan kamu sendirian disini atau kamu mau ditemani?"tanya sang papa pada Zia.
"Zia sendiri disini gak papa kok,tapi kak Gia tinggal disini gak papa-kan?"ujar Zia.
"Kenapa harus gue?"protes kak Gia.
"Ada yang mau aku bicarain sama kakak"jawab Zia.
"Yasudah Gia,kamu tinggal disini sama adik kamu"ujar tuan Renal kepada putri tertuanya itu.
"Ayo pa,anak anak kita keluar"ajak sang mama.
Kedua orang tua Zia dan juga ketiga kakaknya yang lain sudah keluar dari kamarnya,kini tinggal Zia dan Gia kakaknya tinggal berdua disana.
"Ngapain lo minta gue tinggal segala bocah parasit?!"ujar kak Gia kesal kepada Zia.
Zia hanya tersenyum saja melihat kekesalan kakaknya itu,kemudian ia berkata
"Jangan mudah marah kak,nanti cepat tua"ujar Zia.
"Lo sumpahin gue cepet tua hah!"
Zia sedikit kaget,ia mengusap usap dadanya karena kaget.
"Jantung gue rasanya mau copot kak"ujar Zia.
"Kenapa gak beneran copot aja sekalian itu jantung,biar lo gak ganggu kehidupan gue dan keluarga gue lagi"ujar kak Gia agak sarkas.
"Yaampun itu omongan,sabar kak belum waktunya gue mati.Belum dipanggil sama tuhan soalnya"jawab Zia.
"Ah udahlah,ayo cepet bilang lo mau ngomong apa.Gue pengap lama lama satu ruangan sama lo,cepet bilang"suruh kak Gia.
"Iya iya,sebenernya sih gue cuma mau nanya aja sih sama lo kak"ujar Zia.
"Nanya apa lo?"tanya kak Gia.
"Gue mau nanya,kakak gak ada rencana buat bikin acara makan malam lagi gitu sama kak Jevan?"tanya Zia.
"Ngapain lo nanya gitu,lo gak ada niatan buat kecentikan godain pacar gue-kan?"tanya kak Gia menatap Zia dengan mata tajam penuh selidik.
"Ya ampun suuzonnya kurang kurangin kak,lagian kak Jevan mana masuk sama kriteria dan selera gue sedikitpun.
Jadi tenang aja,gak bakal kok"ujar Zia tentunya langsung membantah ke suuzonan kakak perempuan tertuanya itu.
"Gimana gue gak suuzon,mama kandung lo-kan wanita perebut.Siapa tau itu sifat turun keanaknya"ujar kak Gia santai,tak peduli kalau kuping Zia sudah panas mendengar mama kandungnya disebut wanita perebut.
"Kalau bukan itu tujuan lo,kenapa lo nanya gitu tadi?trus kalau gue punya rencana buat ngadain makan malam lagi sama Jevan pacar gue juga kenapa?"tanya kak Gia.
Zia cengemgesan sambil mengusap tengkuk belakangnya tak gatal
"Aduh gimana ya ngomongnya, sebenernya gue rada malu mau bilangnya kak"ujar Zia terlihat malu malu.
"Kenapa lo malu malu gitu,cepet bilang apa tujuan lo nanya tadi?gue sibuk ya,gak punya waktu buat dibuang buang sama lo"ujar kak Gia.
"Iya iya,sebenernya kalau kaka ada rencana buat ngadain makan malam sama kak Jevan lagi.Aku rencananya mau sekalian ngundang pacar juga hehehe..."ujar Zia sambil kembali cengengesan diakhir.
Bola mata kak Gia melotot membesar karena kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh bocah yang sedang sakit itu.
"Lo punya punya pacar?siapa?sejak kapan?lagi ngayal lo?"tanya kakak perempuan tertua Zia itu bertubi tubi.
"Buset,banyak banget pertanyaannya kak.Wah jangan jangan kakak khawatir ya sama gue?"ujar Zia menggoda kakaknya itu,namun ya Zia tahu tak boleh terlalu berharap mendapat respon baik dari kakaknya yang satu itu.
"Khawatir?ngapain gue khawatir sama bocah parasit kayak lo!bahkan kalau lo mati aja gue gak bakal peduli, malahan gue bakal seneng.Gue nanya kayak gitu karena gue takut kalau cowok yang jadi pacar lo itu Ken, gebetan Liona adik kesayangan gue.
Kalau sampai itu terjadi gue gak bakal tinggal diam,lo bakal gue kasih pelajaran"ujar kak Gia panjang lebar.
"Belum sampai setengah jam kita ngobrol loh kak,tapi kakak udah dua kali nyumpahin gue mati.Omongan itu doa loh kak,kalau dikabulin tuhan gimana?"tanya Zia.
"Gak gimana gimana lah"jawab kak Gia yakin.
"Bagus deh"gumam Zia pelan,sangat pelan.
"Ayo cepet kasih tau,siapa pacar lo?"tanya kak Gia.
"Kakak tenang aja,pacar gue bukan Ken gebetannya Lio kok.Gue gak bisa sebutin namanya sekarang,tapi nanti aja pas udah ketemu"jawab Zia.
"Bagus kalau bukan Ken,gak sampai dua minggu lagi bakal ada acara makan malam kecil kecilan yang diadain perusahan buat ngerayain keberhasikan suatu proyek perusahaan papa.Gue bakal kasih lo satu undangan,biar lo bisa ajak pacar lo kesana"ujar kak Gia.
"Oke,gue tunggu undangan acaranya" ujar Zia setuju.
"Dah sekarang,lo boleh keluar kak. Masih bisa ngeliat pintu keluarkan?" lanjut Zia.
"Gak perlu lo usir juga,gue bakal keluar dari kamar lo yang pengap ini.Dan lo pikir mata gue apa,dia yang nyuruh gue tinggak eh amalah diusir.Emang anak parasit sialan lo!"dumel kak Gia sambil beranjak kearah pintu.
Brak....pintu kamar Zia ditutup sedikit kasar oleh kak Gia.
Zia tersenyum melihat tingkah kakanya yang tengah kesal padanya itu,seperkian detik kemudian senyuman itu langsung memudar, meninggalkan wajah datar tanpa ekspresi diwajahnya.
"Kebohongan besar lainnya,bakal segera lo lakuin Zia"guman gadis itu pada dirinya sendiri.
"Dan bener juga kata kak Gia, kayaknya emang lebih baik kalau gue mati secepatnya"lanjutnya terus bergumam.
Zia merebahkan dirinya,matanya menatap lurus kearah langit kamar sambil melamunkan banyak hal yang menjadi beban pikirannya saat ini.