One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 269



"Gitu ya"Raka setelah mendengar semua jawaban Zia.


Zia menatap matahari tenggelam didepan lalu menoleh sebentar kearah Raka dan kembali menatap kearah matahari terbenam.


"Gue terkadang bingung sama alur takdir kehidupan gue sendiri,sejak bayi gak pernah ngerasain kayak bayi pada umumnya yang diasuh penuh kasih oleh orang tua kandung.Gue dibesarin sama kakek nenek pihak ayah.Kakek Antara dengan cara didik penuh kedisiplinan dan sifat kerasnya, nenek Antara dengan perlakuan lemah lembutnya.Umur lima tahun baru tau kalau gue masih punya sosok papa kandung sekaligus saat itu juga pertama kalinya ketemu langsung dan itu cuma setengah hari doang.Dua tahun kemudian disaat umur tujuh tahun,nenek pergi buat selamanya.Sosok yang sejak awal ngajarin gue kayak gimana menjadi anak yang penuh kelembutan,ditahun yang sama untuk pertama kalinya ketemu sama mami dan kakak kakak kandung seayah gue yang lain.Dan tahun pertama juga bagi gue mulai dikenalin sama yang namanya dunia perusahaan dan mulai dilatih sama kakek.Usia sepuluh tahun menjadi tahun pertama dimana gue tau semua cerita dibalik keluarga gue,sejak saat itu pula kakek mendidik gue jadi sosok cucu yang kuat mengontrol emosional"Entah kenapa saat ini Zia melepas untuk bercerita kepada Raka.


Raka sendiri mendengarkan semua perkataan Zia itu dengan seksama, Raka tau kalau Zia ingin mengurangi sedikit beban dipundak.


"Orang orang yang ngedenger hal ini pasti beranggapan kalau semua itu cuma karangan aja,mana ada anak kecil usia tujuh tahun diajarin mulai dikenalin dan diajarin ngurus perusahaan.Awalnya gue juga mikir mustahil bagi gue dan berfikir kakek terlalu keras,tapi ya perlahan gue mulai sadar kalau kakek ngelakuin hal itu bukan karena apa apa melainkan kakek lagi ngekhawatirin nasib gue nanti setelah dia ikut pergi nyusul nenek.Kondisi kakek saat itu juga gak bisa sama sekali dikatakan baik baik aja"


"Sejak kecil gue dilatih untuk memahami sesuatu yang sewajarnya anak seusia segitu gak seharusnya tau hal itu,ngelewatin semua itu gue tumbuh jadi sosok yang semakin hari semakin tertutup.Semua tembok tanpa sadar dibangun oleh gue sendiri untuk sebagai perisau dari segala hal yang bisa menghancurkan gue dengan mudah.Gue gak punya satu orangpun yang bisa dikatakan teman bahkan sahabat sebelum gue kenal Neta,gue hak suka sama hari libur terutama kalau libur panjang."


"Trus orang yang namanya Robert kemarin gimana?bukan temen lo?"Raka.


"Robert ya,gue lebih anggap dia kakak senior diSMA gue dulu sih.Ya gue lumayan sering berinteraksi dengan Robert,karena itu orang dulu sering bantuin gue kalau ada anak anak cowok lain yang godain gue pas masih jadi anak baru disekolah"Lily.


"Trus apa alasan lo gak suka hari libur?semua orang rata rata suka hari libur,gue aja suka hari libur"


Raka.


Disaat hari hati itu semua keyakinan itu selalu bisa hancur,menyakitkan disaat gue menyadari kalau diri gue juga butuh semua itu sebenarnya"Zia menjawab pertanyaan Raka dengan tenang,namun dari sorot matanya terpancar jelas berbagai emosi terutama kesedihan.


"Hah gue gak sadar udah cerita banyak hal ke lo,taks udah mau dengerin walau tadi gue gak izin diawal"ucap Zia kepada Raka,gadis itu tersenyum seperti biasa.


"Gak masalah"saut Raka.


"Bagus deh kalau gak masalah buat lo,sekarang gimana kalau gantian lo yang cerita dan gue jadi pendengarnya biar impas aja gitu"Zia.


"Gak masalah waktu pulang diundur agak lama,cerita gue juga cukup panjang?"Raka.


"Gak masalah,cerita aja biar gue dengerin"ujar Zia.


Mendengar perkataan Zia itu,Raka akhirnya mulai menceritakan tentang dirinya terlebih tentang hubungannya dengan sang mendiang kekasih dahulu.


Dan sama halnya seperti yang Raka lakukan tadi saat dirinya bercerita, Zia menyimak cerita Raka dengan seksama.