One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 112



"Halo"ujar Zia menyapa sang penelpon.


"...."


"Ada perlu apa menghubungi saya?"tanya Zia terdengar berbicara sangat formal dan auranya sangat berbeda sekarang.


"...."


"Bukankah seharusnya pak Teo yang menghadiri pertemuan itu?"


"....."


Huf Zia menghela nafasnya berat,ia


langsung melihat kearah jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Coba undur waktu pertemuan sedikit lebih lama,saya akan segera kesana dan jangan lupa siapkan materi pertemuan itu"ujar Zia


"...."


"Hm"dehem Zia,setelah itu ia mengakhiri pembicaraan itu.


Huf Zia kembali menghela nafasnya kemudian ia langsung berdiri dari tempat duduknya


"Ada apa?"tanya Lyn kakaknya.


"Kenapa dek,apa yang orang yang nelpon lo tadi bilang?"Liona ikut bertanya.


"Gue harus ke kantor sekarang"ujar Zia.


"Lah kok kekantor sih,tadi katanya lo gak ada jadwal kekantor dek"ujar Liona terlihat tak senang akan itu.


"Sorry Lio,tapi ini pertemuan penting dan kak Teo gak bisa mewakili gue soalnya ada urusan dadakan yang gak kalah penting keluar kota"ujar Zia.


"Kenapa gak kak Anna yang gantiin?"tanya Liona


"Kak Anna juga punya pekerjaan lain"jawab Zia.


"Kakak semuanya,saya permisi dulu ya"pamit Zia,gadis itu terlihat segera meninggalkan area ruang tamu dan dengan cepat menaiki tangga.


"Lah bukannya tadi adik kamu bilang dia masih SMA ya,kok tadi dia bahas pertemuan sama kantor gue denger denger?"tanya Manda kepada Lyn.


"Zia emang masih SMA kak tapi dia juga sambil kerja mimpin sama ngurus perusahaannya"bukan Lyn yang menjawab tapi Liona.


"Hah gimana gimana kok gue gak mudeng sih,anak SMA ngurus sama mimpin perusahaan?"tanya Ren masih kurang menangkap.Baru saja Liona hendak membuka mulut untuk menjelaskan maksudnya tapi suara langkah seseorang langsung mengalihkan fokus semua orang yang ada diruangan tamu itu.


Tap...tap...tap...


Itu adalah Zia yang baru saja dari kamarnya kembali mendekat kearea ruang tamu,penampilan gadis itu berubah jauh lebih rapi dan formal dibanding tadi.Dari yang awalnya hanya menggunakan baju kaos dan celana jeans dengan rambut diikat, sekarang gadis itu terlihat menggunakan baju setelan khas perempuan kantoran meski masih ada sedikit nuansa santai dan casual gaya remaja.Dan jangan lupakan rambut panjang gadis itu yang tadinya diikat sekarang dibiarkan terurai begitu saja,wajah gadis itu juga terlihat dipoles dengan make up tipis membuat gadis itu bertambah cantik dan memikat.


Semua yang ada diruang tamu itu sampai melongo dan menatap penuh memuja kearah Zia,penampilan dan aura yang dipancarkan gadis itu berubah drastis hanya dalam hitungan menit.Zia memiringkan kepalanya bingung kenapa kakak kakak yang duduk disofa itu menatapnya aneh, namun saat ia hendak bertanya hpnya sudah berbunyi lagi.


"Kalian ke..."


Drtt...drtt...drtt....


"Halo"


"...."


"Saya sudah hendak berangkat"


"...."


"Iya iya saya akan segera tiba jadi tenanglah"


Zia membungkuk sebentar kearah semua yang duduk diruang tamu itu,kemudian ia langsung berjalan menuju kearah pintu keluar dengan hp yang masih menempel ditelinganya.


"Fiks,dek Zia tipe idaman banget"ujar Ren masih melihat kearah pintu keluar.


Buk...sebuah bantal sofa langsung melayang ke muka Rey,pelakunya adalah Callie.


"Kok gue tiba tiba ditipuk sih Cal?" Protes Rey yang tiba tiba ditipuk Callie,padahal ia tak punya salah sama sekali.


"Gue kesel dari tadi mulut lo kalau ngomong gak ada remnya"ujar Callie


"Kak Rey"panggil Liona.


"Iya dek Lio,ada apa?"saut Rey.


"Mama saya dan mamanya adik saya itu beda kak"ujar Liona yang membuat Ren,Rey,dan Manda kaget akan hal itu.


"Zia anak istri kedua papa kita yang udah meninggal,jadi saya mohon lain kali kakak jangan bahas hal hal yang berkaitan dengan itu lagi.Saya takut adik saya Zia gak nyaman mendengarnya"ujar Liona melanjutkan perkataannya,gadis itu berbicara dengan serius sekali.


Rey yang mendengar pernyataan adik teman satu fakultasnya itu langsung merasa sedikit kaget dan tidak enak sekarang,cowok itu sadar akan kesalahannya sejak tadi yang tak ia sadari.


"Eh maaf gue gak tahu"ucap Rey merasa tidak enak.


"Gak apa apa kok kak,tapi lain kali jangan lakukan lagi"ujar Liona.


"Em kalau gitu saya pamit balik ke kamar dulu ya,kakak kakak semua silahkan lanjutkan kegiatannya. Permisi"pamit Liona meninggalkan ruang tamu itu kemudian menuju ke kamarnya.


~skip~


Zia memarkirkan mobilnya disebuah parkiran kemudian turun dari sana,ia berjalan dengan cepat memasuki sebuah restoran yang cukup elite.


"Selamat datang,ada yang bisa saya bantu nona"sambut manager restoran.


"Meja reservasi atas nama F'company"ujar Zia kepada pihak restoran itu.


"Meja reservasi atas nama F'company ada disebelah sana nona,mari saya tunjukkan"ujar manager restoran.


"Baiklah"saut Zia.


Manager restoran itu membawa Zia kesebuah ruangan privat direstoran itu


"Ini ruangannya nona,silahkan masuk"ujar meneger restoran itu memersilahkan Zia masuk keruangan privat itu.


"Hm"saut Zia,kemudian gadis itu langsung masuk kedalam.


"Nona Muda akhirnya anda datang" sambut seorang laki laki yang merupakan sekrestarinya kak Teo.


"Mereka sudah datang?"tanya Zia kepada sekretaris itu.


"Belum nona tapi Klaen kita akan segera datang sebentar lagi nona"jawab sekrestaris itu.


"Baguslah kalau mereka belum datang, berikan padaku materi pertemuan kali ini"pinta Zia kepada sekretaris itu.


"Ini nona"ujar sang sekretaris langsung menyerahkan beberapa lembar berkas kepada bosnya itu.


"Cukup banyak juga ya"gumam Zia setelah melihat lihat isi berkas yang diberikan sekrestaris itu kepadanya.


"Oh iya pak sekretaris"panggil Zia.


"Iya nona muda"saut sekretaris itu dengan cepat.


"Diruangan ini banyak kursi jadi duduklah,jangan berdiri seperti itu"suruh Zia kepada sekretaris itu.


"Tidak perlu nona,saya berdiri saja"tolak sekretaris itu dengan sopan.


"Pak sekretaris,perkataan saya barusan itu bukan tawaran tapi termasuk perintah.Jadi ayo cepat duduk sebelum anda saya pecat karena melanggar perintah"ujar Zia kepada sekretaris kak Teo itu.


Mendengar ancaman akan dipecat jika tak mau duduk dari pimpinan sekaligus pemilik perusahaan itu tentu membuat sekretaris itu takut, ia dengan cepat langsung duduk disalah satu kursi yang ada diruangan itu sebelum dirinya benar benar dipecat oleh sang bos.


Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya klaen perusahaan Zia itupun akhirnya datang,mereka sedikit berbicara berupa basa basi terlebih dahulu kemudian dilanjut dengan pembahasan agenda utama diadakannya pertemuan itu yaitu untuk mencapai sebuah kesepakatan kerja sama antar perusahaan.