
Zia mematikan laptop miliknya dan menutup lalu meletakkannya diatas meja tepat disebelah ponselnya berada,kemudian ia meregangkan tangan dan punggungnya lalu menyandarkan punggungnya disandaran sofa sambil memejamkan matanya.
"Apa yang orang tadi bicarakan sejak tadi?Kepalaku jadi pusing tujuh keliling mendengarnya"keluh Liona setelah mendengarkan isi meating yang diikuti oleh Zia.
"Itu hanya meating sederhana Lio, hanya untuk memberikan laporan serta evaluasi secara presentatif dari sebuah proyek yang sudah terselesaikan"ujar Zia menjelaskan sedikit tentang meating tadi kepada saudarinya.
"Cks sederhana apanya?bahasanya rumit banget lagi,susah gue pahamnya"ujar Liona.
"Kalau gini sama kayak jadi dokter tadi,mikir mikir dulu nih gue buat masuk jurusan bisnis atau managemen.
Memusingkan gitu kerja diperusahaan, belum jadi yang ngurusnya"oceh Liona.
"Kalau lo mau belajar gak bakal sulit tau,gue aja bisa meski belum kuliah"saut Zia santai.
"Itu mah elo dek bukan gue"ujar Liona.
"Dari pada itu mending bahas rencan liburan aja,jadi rencananya kita semua bakal liburan kemana ma?"tanya Liona kepada mama mereka.
"Papa kalian bilang tadi pagi,kita liburan kepantai aja"jawab sang mama.
"Kenapa pantai,kenapa kita gak liburan keluar negri aja ma?"tanya Liona lagi.
"Waktunya yang gak pas Lio,kuliah dan sekolah belum waktunya liburan.
Lagian kerjaan papa juga pasti banyak"bukan sang mama yang menjawab melainkan Gia sang kakak.
"Iya juga sih"gumam Liona pelan.
"Kapan perginya ma?"tanya Liona lagi.
"Besok pagi,pas hari minggu.Biar kalian izin dari sekolah sama sekolah gak kebanyakan"jawab sang mama.
"Mepet dong"komen Liona.
"Ya begitulah,papa kalian sementara ini cuma bisa pas waktu itu aja.Hari lain gak bisa karena jadwal kerjaannya yang lumayan"jelas Sela kepada putri putrinya.
"Ngomong-ngomong Lyn sama Zia bisakan,gak ada jadwal kuliah atau jadwal perusahan yang wajib diikuti-kan?"tanya Sela kepada kedua putrinya yang bisa dibilang paling sibuk itu.
"Ya mungkin"jawab Lyn singkat.
Lyn mendongak mengalihkan pandangannya dari layar laptop dipangkuannya,gadis berwajah dingin dan datar itu menatap sang mama.
"Hm,bisa"jawab gadis itu singkat sebelum kembali fokus lagi pada tugas kuliah yang sedang ia kerjakan.
"Mama ngidam apa sih pas hamil Lyn?
Kok gedenya jadi jelmaan kulkas seratus pintu gitu sih,mana irit katanya gak mandang orang lagi?"tanya Gia kepada mama mereka saat melihat respon yang diberikan adik pertamanya itu.
"Huss..gak boleh gitu kak"tegur Sela kepada putri sulungnya.
"Kalau Zia gimana,bisa-kan dek?" tanya wanita itu kini pada sibungsu.
Zia diam berfikir sejenak dan tak langsung menjawab.
"Kalau gak ikut,boleh emang mi?" tanya Zia setelah beberapa saat.
"Boleh aja,lagian lo ikut juga gak ngaruh sama sekali sama kita.Malah makin asik gak ada lo"ujar Gia kakaknya dengan agak sarkas.
"Kak"tegur Liona kali ini pada sang kakaknya itu,kemudian melihat kearah Zia.
"Ya gak bolehlah dek,gimana-pun lo harus ikut.Ini liburan keluarga loh, jarang jarang bisa gini"ujar Liona kepada Zia.
"Tapi..."Zia masih tampak ragu.
"Lo ikut,gak ada bantahan"suara dingin langsung terdengar ditelinga Zia dari orang yang duduk disisi lain disebelahnya.
"Oke,aku ikut"putus Zia seketika hilang niatan untuk tak ikut dalam rencana liburan itu.
*Ulang tahun kak Lyn-kan dirayain disana,jd harus ikut buat ngasih hadiah yang udah gue siapin*batin gadis itu.
"Nah bagus kalau semuanya setuju ikut,soalnya kakak kalian Arga juga udah setuju"ujar sang mama nampak senang.
Gia langsung melirik tajam adik pertanya yang tentu tak sadar atau tak peduli akan lirikan itu,siapa lagi kalau bukan Lyn.
*Padahal bagus kalau tuh anak parasit gak ikut,si Lyn kenapa harus nyuruh ikut sih.Mana anak parasit main nurut aja,kok gue makin curiga kalau Lyn udah nerima dia ya*batin putri tertua tuan Renal dan nyonya Sela itu.