
"Zia kenapa diam aja dari tadi?"tanya Sela
"Gak papa kok mi,cuma lagi mengingat ingat siapa orang yang lagi kalian bicarain aja.Orangnya yang mana"jawab Zia
"Gak papa,nanti kamu juga pasti ingat pas ketemu"ujar Sela pada Zia.
"Ah itu mereka"ujar Renal melihat kedatangan orang yang mereka tunggu.
Keluarga itu berdiri dari kursi masing masing untuk menyambut yang baru datang begitu juga dengan Zia
"Selamat malam semuanya"sapa seseorang pria yang usianya tak jauh berbeda dengan Renal,ia menghampiri meja tempat keluarga Antara berada bersama seorang wanita.
"Maaf kak kami telat"ujar perempuan yang datang bersamanya.
"Tidak masalah"jawab Sela,ia memeluk perempuan itu.
"Bagaimana keadaanmu dan Nada?"tanya Renal pada adik iparnya yaitu Geral.
"Baik kak"jawab Geral pada sepupu istrinya itu.
"Anak anak beri salam pada paman dan bibi kalian"pinta Renal pada para anak anaknya.
"Halo paman"sapa kelima anak keluarga Antara secara bersamaan.
"Halo anak anak,bagaimana kabar kalian?"tanya Geral kepada para keponakannya.
"Baik paman"jawab Arga dan para adiknya.
"Sini peluk,bibi dulu ding"pinta Nada membuka kedua tangannya.
Satu persatu mulai dari Arga bergantian memeluk bibi dan paman mereka,hanya satu orang yang sejak tadi tak beranjak dari tempatnya berdiri.Orang itu siapa lagi kalau bukan Zia,dia masih belum bisa mengenali dua orang dewasa yang disebut keluarganya sebagai paman dan bibinya.Oleh karena itu ia memilih untuk tidak ikut dalam kegiatan pelukan itu dan tetap ditempatnya saja,*bukannya papa,mami,maupun mama anak tunggal ya?*pikirnya dalam hati.
"Tunggu dulu"ujar Nada
"satu,dua,tiga,empat,lima"ia mulai menghitung jumlah keponakannya yang berada disana sekarang,kemudian terlihat wajahnya sedikit kebingungan.
"Dia Zia dek,keponakanmu yang paling bungsu"ujar Renal yang mengetahui kebingungan adik.
Mendengarkan perkataan sang kakak,
Nada membelalakkan matanya terkejut bukan hanya dia tapi Geral juga tak kalah terkejut dengan sang istri.
Keduanya langsung berjalan mendekat kearah Zia dan mulai menatap Zia dari ujung kaki sampai ujung kepala gadis itu dan jujur saja Zia merasa gugup dan sekaligus merasa sedikit tidak nyaman dilihat secara intens seperti itu.
"Ha..halo"sapa Zia dengan canggung pada dua orang dewasa itu.
"Ya ampun Zia kamu cepet banget besarnya"ujar Nada langsung memeluk sangat erat keponakannya sampai Zia kesulitan bernafas.
"Dek pelan pelan,anak kakak gak bisa nafas itu"ujar Sela pada adik iparnya.
Tak sampai disitu saja setelah melepas pelukannya,Nada memutar badan sang keponakan bolak balik dilanjut dengan mencubit kedua pipi kemudian mencium kedua pipi Zia.
Sedangkan Zia hanya bisa pasrah sekarang dengan tingkah laku sang bibi.
"Kak ini bener Zia anak bungsu Antara,putrinya kak Celine?"tanya Geral pada pasangan suami istri Antara itu masih sedikit kurang percaya.
"Iya kak,ini bener keponakan bungsu gue kan?"Nada ikut bertanya.
"Bener lah masa bohong"jawab Sela
"Kalian kok kayak gak percaya gitu?"lanjut Sela.
"Iya itu om,tan,itu bener adik bungsunya Arga"ujar Arga.
"Gila kamu tinggi banget ya sekarang,padahal dulu seingat bibi kamu masih jadi yang paling mungil diantara kakak kamu yang lain tapi sekarang tingginya udah nyusul.Malah kamu lebih tinggi dari Gia sama Liona,mana putih dan cantik lagi jadi insecure bibi tuh"ujar Nada mengusap pucuk kepala Zia.
"Duh aku dipuji sama keponakan"ujar Nada senang.
"Sudah sudah,nanti kita lanjut ngobrolnya.Sekarang kita duduk dan makan dulu"ujar Renal pada semua anggota keluarganya beserta Geral dan Nada juga.
Mendengar perkataan Renal,semuanya pun langsung menuruti dan duduk di kursi masing masing dan tak lama berselang para pelayan restoran satu persatu mulai berdatangan untuk menyajikan berbagai macam hidangan yang terlihat menggugah selera di atas meja untuk para tamu istimewa mereka malam ini nikmati.
Setelah semua pesanan sudah selesai dihidangkan oleh pelayan,barulah semua anggota keluarga Antara memulai kegiatan makan malam mereka dengan hikmat.Tidak ada satupun yang berbicara selama menikmati hidangan didepan mereka,ini sudah seperti aturan yang tak tertulis diantara mereka semua.
"Zia apakah kamu sudah mengenal paman dan bibi mu ini nak?"tanya Renal pada Zia sang putri bungsunya,ia kembali memulai pembicaraan kembali setelah makan malam mereka selesai.
Zia hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
"Ternyata keponakan kita belum kenal sama kita mas"ujar Nada pada suaminya.
"Kalau begitu biar papa perkenalkan padamu,Ini adalah bibi mu Nada yang merupakan sepupu papa.Anak dari adik kakek kamu,dan yang satunya adalah Geral pamanmu yang merupakan suami dari bibi kamu"jelas Renal pada Zia putrinya.
"Baiklah Zia paham sekarang"ujar Zia menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti.
"Zia,kamu kapan balik dari AS?"tanya Nada mengajak bicara keponakannya.
"Sekitar beberapa hari yang lalu tan"jawab Zia.
"Kamu sekolah dimana trus kelas berapa sekarang"tanya Nada lagi.
"Kelas 12 SMA,satu sekolah sama Lio"jawab Zia.
"Wah berarti satu angkatan dong sama kamu Lio"ujar Geral pada Liona.
"Iya om,Lio sama Zia satu angkatan cuma beda kelas aja"saut Liona mengiyakan.
"Bagus dong berarti,kalian jadi bisa saling bantu buat belajar"ujar Geral melihat Liona dan Zia secara bergantian.
"Gak gitu juga sih om,soalnya Lio sama Zia kebetulan beda jurusan"ujar Liona.
"Emang Zia gak ambil IPA?"tanya Nada
"Enggak tan"jawab Zia.
"Kenapa?"tanya Nada lagi.
"Zia cuma gak mau terlalu banyak berfikir aja apalagi hitungan,capek otak Zia tan"jawab Zia.
"Gitu ya,tapi ada benernya juga sih yang kamu bilang pelajaran hitungan itu memang buat otak capek.Tante juga setuju sama itu"ujar Nada menanggapi jawab dari keponakannya.
"Bener tan,Zia emang gak suka pelajaran hitung hitungan kayak matematika sejak kecil.Makanya nilai pelajaran hitungan Zia pasti jadi yang paling rendah sejak dulu"ujar Zia pada sepupu papanya itu.
"Sama tante juga dulu pas sekolah selalu dapat nilai pas pasan kalau pelajaran hitungan"saut Sela.
Tampaknya keponakan dan bibi ini sudah menemukan salah satu topik pembicaraan yang cocok satu sama lain.
"Emang dulu nilai matematika kamu yang paling tinggi pas sekolah berapa sayang"tanya Geral pada istrinya.
"Tujuh puluh"jawab Nada langsung tampa ragu.
"Kalau Zia berapa?"tanya Geral kali ini pada sang keponakan.
"Sembilan Puluh"jawab Zia.
HAH!suara kaget dari anggota keluarganya terdengar saat itu juga.
"Kenapa,ada yang salah?"tanya Zia dengan polosnya.