
Zia membuka matanya perlahan terbangun dari tidurnya segera menyesuaikan indra penglihatannya dengan cahaya didalam kamarnya,ia meraba keningnya saat ada sesuatu disana dan ternyata itu adalah sebuah kain yang terasa sedikit basah.Zia bangkit mengubah posisinya menjadi duduk sambil tangannya melepaskan kain yang berada dikeningnya tersebut.
"Siapa yang ngompres gue?emang gue sakit?"tanya Zia kepada dirinya sendiri sambil kembali meraba keningnya,hangat keningnya memang terasa sedikit hangat.
"Baru juga beberapa jam pulang dari rumah sakit,masa gue udah sakit lagi sih?"gumam Zia pelan,ia sedikit tak mengerti dengan kondisi tubuhnya yang sering berubah tiba tiba seperti saat ini.
Tak mau memikirkannya lebih panjang lagi,Zia beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju kearah kamar mandinya kemudian langsung masuk kedalam.Gadis itu tak memerlukan waktu lama didalam kamar mandi,beberapa saat kemudian ia sudah keluar dengan pakaian yang berbeda dari yang tadi.Pakaian yang Zia pakai kali ini terlihat santai yaitu hanya menggunakan celana panjang dan Kaos putih polos lengan pendek dengan rambut yang ia biarkan terurai begitu saja,Zia memang memutuskan untuk tidak mandi hanya mengganti pakaian serta mencuci mukanya saja.
Setelah selesai semuanya barulah Zia berjalan keluar dari kamarnya,ia memutuskan untuk turun kelantai bawah lebih tepatnya kedapur karena ia merasa sedikit lapar sekarang.
Zia menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah yang tenang namun saat dibagian tengah tangga ia berpapasan dengan saudari ketiganya.
"Halo kak Lyn"sapa Zia berusa bersikap sebiasa mungkin walaupun dalam hatinya ia selalu merasa sedikit takut dengan tatapan dan aura dingin kakaknya itu,ia berharap kakaknya mau membelas sapaannya.
Namun sepertinya harapan manusia memang kadang tidak sesuai dengan realita,karena Lyn yang mendapat sapaan dari adiknya itu bersikap seolah tak mendengarnya.Gadis dingin itu tidak berhenti bahkan tidak menoleh sedikitpun kesisi tangga dimana adiknya berada,ia terus melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai atas tanpa menggubris atau menanggapi sedikitpun sapaan dari adiknya itu.
Zia hanya bisa diam terpaku beberapa saat karena menyadari kalau saudarinya itu bersikap seolah tak mendengar dan mengetahui keberadaannya disana,padahal jarak keduanya saat sempat sejajar tadi hanya sekitar dua senti saja.
Zia tersenyum tipis kemudian kembali melanjukan langkahnya menuju kelantai bawah,supaya bisa mengisi perutnya yang terasa semakin lapar.
Sesampai didapur Zia langsung membuka kulkas sambil memikirkan apa yang hendak dia makan untuk mengisi perutnya yang keroncongan,Zia langsung berfikir untuk makan buah saja karena menemukan ada banyak aneka buah yang terdapat dalam kulkas.
"Apa yang sedang anda lakukan didapur nona?"suara seseorang dari belakang.
"Bik Muti ternyata,saya kira siapa"ujar Zia setelah berbalik badan menemukan pelayan senior keluarganya itu berdiri disana.
"Nona Zia memerlukan sesuatu?"tanya bik Muti kepada putri bungsu majikannya itu.
"Tidak ada bik,aku hanya ingin mengambil beberapa buah untuk menghilangkan rasa laparku"jawab Zia dengan sopan.
"Nona muda lapar,bagaimana kalau bibik buatkan makanan untuk nona?"tawar bik Muti.
"Tidak perlu bik,aku hanya tertarik makan buah buahan saat ini"Tolak Zia
"Kalau begitu biar saya saja yang mengupaskan dan memotong motong buahnya,supaya nona mudah memakannya"ujar bik Muti.
"Baiklah kalau bibik tidak kerepotan"ujar Zia mengiyakan
"Tentu saja tidak nona"balas bik Muti,perempuan yang berusia lebih dari setengah abad itu mulai mengambil beberapa jenis buah segar didalam kulkas dan membawanya kemeja yang ada disana sedangkan Zia mengikuti bik Muti kemudian duduk dihadapan bik Muti memeperhatikan pelayan senior itu mengupas dan memotong motong buah dengan telaten menggunakan pisau khusus buah tentunya.
"Bagaimana perasaan nona muda tinggal disini?"tanya bik Muti
"Lumayan bik,sedikit ramai dan canggung mungkin"jawab Zia.
"Nona muda canggung kenapa?"tanya bik Muti lagi.
"Saya merasa canggung karena jujur saja saya tidak pernah tinggal dengan satupun anggota keluarga saya disini sebelumnya dan ditambah dulu tak terlalu banyak berkomunikasi juga dengan mereka,selain itu saya merasa memili jarak yang sangat jauh dengan mereka walaupun saya dan mereka nyatanya adalah keluarga"jelas Zia,gadis itu tak pernah mengatakan perasaannya itu kepada siapapun tapi Zia merasa entah kenapa saat bik Muti menanyakan hal itu ia harus menjawabnya dengan jujur.
"Saya mengerti maksud nona,didalam hati anda saat ini merasa selalu merasa asing dengan anggota keluarga anda padahal tinggal satu atap"ujar bik Muti mengerti dengan penjelasan majikan mudanya itu walau sedikit berbelit.
"Nah itu yang saya maksud bik,menurut bibik sendiri kenapa saya selalu berasa begitu ya?"tanya Zia menanyakan pendapat bik Muti si pelayan senior itu.
"Menurut saya itu terjadi karena nona baru merasakan hidup dekat satu atap dengan keluarga nona,apalagi sebelumnya mungkin nona sudah terbiasa hidup sendiri tanpa ada yang namanya keluarga dikeseharian nona"jawab Bik Muti yang membuat Zia mengangguk angguk karena yang dikatakan bik Muti itu benar semua.
"Tapi nona tenang saja,bibik yakin suatu saat nanti pasti semua perasaan yang nona rasakan saat ini pasti akan berganti dengan perasaan hangatnya kebersamaan dengan anggota keluarga Antara"ucap Bik Muti.
"Saya harap bibik benar akan hal itu"ucap Zia
"Ini buahnya sudah selesai nona"ujar bik Muti menyerahkan satu mangkuk kecil isi buah buahan yang sudah dipotong potong kecil didalamnya.
"Terimakasih bik"ucap Zia langsung mulai menikmati buah potong itu menggunakan sebuah garpu untuk memudahkannya memasukkan buah itu kedalam mulutnya.
Setelah itu obrolan demi obrolan ringan mulai terdengar antara Zia dan bik Muti,kedua perempuan dengan usia yang jauh berbeda itu sangat asik bercerita sampai tak menyadari sedikitpun adanya keberadaan anak perempuan lain disana yang berdiri dibalik tembok pembatas dapur dan ruang makan yang mendengar semua obrolan mereka dari awal.Gadis itu awalnya hendak berniat mengambil sesuatu disana tapi ia mengirungkan niatnya dan memilih mendengarkan pembicaraan itu setelah mendengar pelayan senior keluarganya itu mulai menanyakan tentang topik itu,setelah mendengar Zia berpamitan dari sana barulah gadis muda yang menguping tadi langsung buru buru pergi dari sana sebelum ketahuan.
Gadis yang menguping tadi pergi dengan perasaan campur aduk dan berbagai pertanyaan yang timbul dipikirannya, pertanyaan yang berkaitan satu nama yaitu nama gadis muda yang berbicara dengan bik Muti tadi.
*Zia,apa saja yang kamu pikirkan tentang keluarga ini?*salah satu pertanyaan yang muncul dikepala gadis yang menguping itu.