One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 239



Rena tanpa sadar menitikkan air matanya mendengar Zia bercerita tentang sebuah kisah,sebuah kisah yang sudah jelas adalah sesuatu yang gadis satu tahun lebih muda darinya itu alami.Mendengar kisah singkat itu membuat Rena ingat tentang dahulu bagaimana Liona sahabatnya dengan wajah kesal bercerita padanya kalau sang adik yang tengah tinggal di US tak jadi pulang bersama jenazah sang kakek karena ada ujian disekolah,Liona saat itu terlihat kesal dan menggebu gebu karena sang adik lebih mementingkan ujian dari pada menghadiri pemakaman kakek sendiri.Sahabatnya itu juga mengatakan kalau Zia tidak berperasaan sama sekali dan saat itu Rena tentu setuju dengan pendapat sang sahabat,namun kali ini setelah Rena tahu semuanya?ia malah merasa bersalah karena pernah setuju kalau Zia adalah anak yang tidak berperasaan sama sekali.


Rena menatap Zia yang terlihat menatap jauh kedepan,gadis itu belum bersuara lagi setelah menceritakan sepenggal kisahnya dimasa lalu kepada Rena.


"Kakak denger sedikit perdebatan kamu sama bundanya kakak,jadi gak ada yang tau soal ini?"tanya Rena bersuara,ia menanyakan hal itu setelah butuh beberapa waktu untuk bagaimana mengatakannya dengan tepat.


"Untuk Keluarga Antara Ya,tidak ada yang tahu"jawab Zia,akhirnya gadis itu kembali bersuara.


"Diluar keluarga Antara,kak Anna,dan kak Teo,dan bundanya kakak,ada yang tahu?"tanya Rena lagi,Zia mengangguk sebagai jawaban.


"Siapa?"tanya Rena.


"Neta dan Ken"jawab Zia,ia menyebutkan nama sang sahabat dan juga patner pacaran boongannya.


Rena sedikit kaget mendengar jawaban Zia itu,namun seperkian detik kemudian dirinya memahami kalau itu cukup wajar.Ah jadi kedua orang itu tahu ujar Rena dalam batinnya, setelah itu Rena terdiam memikirkan apa lagi yang ingin dia tanyakan.


"Rahasiakan ini"suara Zia terdengar lagi,Rena menoleh dan menatap adik dari sahabat baiknya ini dengan raut wajah seperti kurang setuju.


"Aku melakukan ini semua hanya untuk bisa menikmati akhir hidupku dengan sebaik mungkin kak dan kalau bisa dengan sedikit kebahagiaan,dan pendapat kakak mungkin sama seperti yang lain saat mendengar tentang kondisi dan permintaanku"lanjut Zia.


"Bukankah itu egois,kamu mungkin bisa menyembunyikan semuanya sampai akhir seperti yang kamu inginkan Zia.Tapi apa kamu gak pernah mikirin bagaimana jadinya nanti saat keluarga kamu tahu tentang kondisimu,kakak tau kalau kamu mungkin tak begitu akur dan dekat dengan beberapa anggota keluargamu tapi bagaimana dengan mereka yang benar benar peduli?"ujar Rena.


Mendengar perkataan dari Rena itu,


Zia malah terkekeh seakan ada hal yang lucu dari perkataan sahabat baik saudarinya itu.


"Maksudmu?"Rena


"Kakak tidak akan mengerti,sama halnya dengan mereka semua yang terus menyudutkanku dan ibuku"ujar Zia,setelah mengatakan hal itu Zia beranjak dari tempatnya dan sepertinya gadis itu ingin meninggalkan tempat ini.


"Zia!"panggil Rena,ia menghentikan Zia yang sudah beberapa langkah menjauh.Zia berhenti melangkah saat namanya dipanggil oleh sahabat saudarinya itu,namun remaja itu tak berniat menoleh kebelakang sedikitpun.


"Kakak setuju akan merahasiakan semua yang kakak ketahui hari ini,tapi ada syaratnya"ujar Rena.


"Apa syaratnya?"tanya Zia.


"Mulai detik ini,libatkan kakak atas apapun yang kamu lakukan dan pikirkan kedepannya sama seperti Neta dan juga pacarmu itu"ujar Rena menyebutkan syarat yang dia inginkan.


Zia hening sejenak berfikir beberapa detik sebelum akhirnya berkata


"Sepakat"ujar Zia setuju,namun kata lanjutannya membuat Rena sedikit syok mendengarnya.


"Hal pertama adalah Ken bukan pacarku,itu hanya settingan belaka"lanjut Zia.


setelah itu ia benar benar pergi berlalu meninggalkan rooftoof itu,


meninggalkan Rena yang tercengang mengetahui sebuah kebenaran dari mulutnya.


"WHAT?!!"Rena berseru keras saking kagetnya,untung tidak ada orang lain disana yang mungkin akan terganggu mendengar seruannya yang keras itu.