
"Enggaklah"jawab Zia dengan cepat tanpa ragu sedikitpun.
"Jangankan suka,tertarik aja gak pernah"lanjut Zia.
"Benarkah?"tanya Liona,ia merasa sedikit lega karena Zia mengatakan tidak suka atau tertarik kepada Ken.
"Benerlah,gue jujur aja nih ya sama lo Lio.Gue malah rada ilfil sama crus lo itu,alay banget menurut gue"ujar Zia kepada Liona.
"Lo bilang gini bukan karena kasian sama guekan dek?"tanya Liona.
"Enggak,gue bisa jamin kalau gue gak bakal pernah tertarik apalagi suka sama crus li itu"
"Malah sebaliknya,gue bakal bantuin lo kak buat bikin Cruss lo itu suka balik sama lo"ujar Zia.
"Janji?"ujar Liona mengulurkan jari kelingkingnya
"Janji"balas Zia mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking saudarinya itu.Senyum Liona kembali terbit,Zia tentunya senang melihat hal itu.
Liona saat ini kembali berbaring namun dengan posisi yang berbeda yaitu telentang menghadap langit langit kamarnya,Zia juga ikut berbaring dengan posisi yang sama atas perintah dari saudarinya itu.
"Dek"panggil Liona kepada Zia.
"Hm"saut Zia.
"Kenapa lo bilang kalau lo gak mungkin naksir sama Ken,padahal Ken kan ganteng,baik,keren,jago main basket lagi.Semua murid cewek disekolah kita gak ada yang gak suka sama dia?"tanya Liona,sedangkan Zia menahan mual ingin muntah mendengar bagaimana saudarinya itu memuji Ken.
"Gak semua,Neta enggak tuh"ujar Zia.
"Itu mah sahabat lo yang masuk spesies cewek langka dek"ujar Liona.
"Gue bisa jamin gak bakal suka atau naksir sama Ken itu karena gue gak mungkin aja naksir sama orang"ujar Zia menjawab pertanyaan Liona.
"Kenapa gak bisa?"tanya Liona,ia merasa jawaban Zia itu terkesan samar samar.
"Gak sekarang tapi nanti juga lo bakal tau Lio"ujar Zia yang berhasil membuat Liona semakin merasa aneh dengan jawaban saudarinya itu.
"Lo tau gak dek,jawaban lo dari tadi bukannya bikin gue tenang malah guenya makin penasaran dan diotak gue makin timbul banyak pertanyaan"ujar Liona kepada Zia.
"Lio gue jadi penasaran deh,emang lo segitu naksirnya ya sama Ken?dan apa alasannya?"tanya Zia
"Cks bucin banget lo Lio,cuman ngomongin Ken aja pipi lo udah merah gitu"ujar Zia yang menyadari pipi saudarinya memerah.
Buk...bantal melayang tepat ke muka Zia.
"Sakit Woi!"ujar Zia
"Sorry refleks dej,habisnya lo ngeselin.Namanya juga cinta gimana dong"ujar Liona.
"Au ah,gue balik kamar gue dulu"ujar Zia bangkit dari posisi berbaringnya menjadi duduk.
"Tapi Zia..."
"Apa?"tanya Zia mendengar perkataan Liona yang tergantung.
"Lo emang gak suka Ken,tapi gimana kalau Ken nembak kamu buat dijadiin pacarnya?"tanya Liona terlihat menunduk.
"Jawabannya simpel,gue tolaklah"ujar Zia sebelum akhirnya pergi keluar dari kamar Liona.
Liona memandangi punggung Zia saat saudarinya itu meninggalkan kamarnya,tak lama air matanya kembali luruh tapi kali ini ia tak menimbulkan suara.
Gadis itu masih merasakan sakit yang begitu menyiksa didalam hatinya, bukannya ia membenci Zia tapi dalam hatinya Liona tak bisa berbohong kalau dirinya merasa iri dengan saudari termudanya itu.
Liona merasa iri karena bagamana bisa Zia hanya dalam hitungan hari berhasil membuat Ken langsung jatuh hati,sedangkan dirinya yang sudah mengenal Ken dari awal menginjak bangku SMA dan bahkan mulai menyukai Ken sejak awal pertemuan mereka tak berhasil membuat Ken membalas perasaannya.Liona tak bisa memungkiri kalau Zia memang terlihat lebih baiknya dari segala banyak aspek,Zia terlihat lebih pintar darinya,Zia lebih mandiri dibanding dirinya yang terbilang manja,adiknya itu terlihat lebih bisa bersikap dewasa dan bijak dibanding dirinya yang masih sering bertingkah seperti bocah.Dan jangan lupakan fakta kalau Zia sudah berhasil berdiri sendiri mengelola perusahaannya tanpa bantuan kedua orang tua mereka, sedangkan dirinya sendiri masih masuk jajaran para beban orang tua. Bahkan kalau soal visual atau tampang sebagai sesama perempuan Liona mengakui kalau adiknya itu memang lebih cantik dan terlihat lebih menarik dari dirinya.Liona sadar kalau Zia adiknya seolah tak memiliki celah untuk sebuah kekurangan,adiknya itu terlihat lahir sebagai sosok yang sempurna baik soal fisik,otak,dan kesuksesan.
Kalau dipikir pikir bukan hanya Ken saja cowok yang tertarik dan menyukai adiknya tapi pasti banyak cowok lain diluar sana,bagaimana mungkin tidak ada yang tidak terpesona dengan aura sangat sempurna yang terlihat memancar dari dalam diri Zia adiknya.
Huf...Liona menghela nafasnya pelan, kenapa ia jadi membanding banding bandingkan dirinya dengan Zia sih.
Dalam hati Liona juga sedikit menyesal dan marah kepada dirinya sendiri karena selama ini selalu menanggapi semua sikap perhatian dan gombalan yang sering diberikan Ken kepadanya dengan terlalu serius,bisa saja selama ini cowok itu hanya bercanda saja dan tak berniat membuatnya sampai baper hampir gila kayak gini.Tapi didalam sisinya yang lain ia mewajarkan kenapa dirinya sampai baper dan menganggap Ken juga selama ini menyukai dirinya,hal ini karena Liona selalu merasa kalau semua perhatian Ken terasa sangat serius dan hanya diberikan kepadanya saja.Ken memiliki banyak penggemar cewek disekolah mereka tapi cowok itu hanya menanggapi semua penggemarnya itu seadanya dan juga terkesan main main saja tapi berbeda jika dengannya,Ken terlihat selalu memperlakukannya istimewa diantara semua cewek yang berusaha mendekati Ken.Belum lagi soal rumor yang selama ini beredar disekolah tentang kedekatan mereka berdua,banyak yang menganggap kalau dirinya dan Ken sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.Ken terlihat tak pernah mempersalahkan tentang rumor itu bahkan cowok itu terlihat semakin gencar memberi perhatian perhatian lebih kepadanya baik saat berdua atau didepan umum sekalipun, Ken juga selalu menjawab dengan snyuman dan kalimat yang selalu memberi harapan lebih kepadanya saat murid murid lain mempertanyakan tentang kejelasan hubungan mereka.
*Apa karena kedatangan Zia disekolah,yang bikin Ken langsung berpaling?*
*Apa kalau seandainya Zia gak pindah ke Hantara,Ken bakal balas perasaannya?*tiba tiba saja pertanyaan pertanyaan serupa muncul dibenaknya,namun Liona segera menepis semua pemikirannya itu jauh jauh.
*Gak kedatangan Zia gak ada hubungannya Lio,jadi stop salahin adik lo sendiri*ujar Liona pada dirinya sendiri,Ia meyakinkan pada dirinya sendiri untuk tak pernah menyalahkan adiknya itu tentang persoalan ini.