
Mendengar perkataan gadis bungsu dalam keluarga itu membuat hampir semua anggota keluarganya lega,
dari tempatnya Gia memperhatikan adik pertamanya dengan tatapan yang sulit diartikan
*Kenapa Lyn sampai nahan hp anak itu hanya karena masalah ini,apa jangan2 dia udah mulai peduli sama anak itu?*batin Gia.
Gia memperhatikan Lyn dan Zia secara bergantian sambil berfikir,ia bahkan sampai tak sadar kalau papanya kini tengah berbicara kepadanya.
"Gia bagimana denganmu nak?"tanya sang papa.
"Gia Antara"panggil Renal,memanggil nama putri sulungnya itu dengan lengkap.
"Eh iya pa,ada apa?"tanya Gia yang langsung tersadar dari pemikirannya.
"Kamu mikirin apa sampai gak dengar papa ngomong?"tanya Renal kepada putri sulungnya itu.
"Gak mikirin apa apa kok pa"jawab Gia.
"Papa tadi kenapa manggil Gia?"tanya gadis itu.
"Bagiamana denganmu?papa perhatikan sejak awal datang ke meja makan,kamu kayak ingin membicarakan sesuatu tapi terlihat tertahan"ujar sang papa.
"Ooh itu,Gia memang mau membicarakan sesuatu kepada papa.Bukan cuma ke papa aja tapi juga pada mama dan yang lainnya"ujar Gia menatap satu persatu anggota keluarganya-Zia.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?coba kasih tau sekarang"pinta Renal sang papa.
"Gia ingin mengajak mama,papa,dan yang lain untuk makan malam diluar besok"ujar Gia sambil menatap papa dan mamanya.
Renal dan Sela terlihat menatap putri sulung mereka itu dengan tatapan tanya,begitu juga Arga yang tak ketinggalan menatap kembarannya itu dengan tatapan julid.
"Dalam rangka apa kamu ngajak gua,papa dan mama serta yang lain buat makan malam diluar besok?"tanya Arga penasaran.
"Adalah alasannya rahasia,tunggu besok aku kasih tau ke kalian semua"ujar Gia menjawab pertanyaan kembarannya itu.
"Gak usah protes deh Ga,lagian tinggal nunggu besok malam juga"ujar Gia.
"Jadi gimana Pa,Ma,bisa gak?"tanya gadis itu kepada kedua orang tuanya.
"Papa sama mama sih pasti bisa bisa aja,tapi gak tau deh dengan saudara saudari kamu apa bisa atau enggak?"jawab Sela sang mama mewakili sang suami.
"Arga bisa kok,tenang aja Gi"ujar Arga.
"Kalau Lio sih gak usah kakak tanya, Lio mah pasti bisa bisa aja. Lagiankan Lio gak punya kesibukan apapun kecuali sekolah"ujar Liona kepada sang kakak.
Kini tinggal dua saudarinya yang lain yaitu Lyn dan Zia yang masih belum memberikan jawaban atas kesediaan mereka,Gia sih tak peduli sebenarnya dengan keputusan Zia.Tapi mau gimana lagi karena disisi lain ada alasan kenapa gadis muda itu harus ikut untuk makan malam diluar pada besok malam.
"Lyn?"ujar Gia meminta jawaban dari adik pertamanya itu.
"Hm gue ikut"jawab Lyn datar dan singkat seperti biasa.
"Lo gimana?kalau gak bisa sih gak papa,gue juga seneng kalau gitu" tanya Gia kepada Zia adiknya dengan nada yang rada kurang santai.
Zia menatap saudari tertuanya itu, gadis itu sudah yakin kalau kata kata kakaknya diakhir saat berbicara dengannya pasti hampir selalu begitu.Kalau gak menyinggung, nyelekit,pasti nyakitin.
"Hm gimana ya kak bukannya gak mau,tapi kakak taukan kalau adik bungsu kakak ini masuk golongan orang sibuk.Jadi..."Zia sengaja tak melanjutkan perkataannya supaya kak Gia merasa kesal.
"Jadi apa sih?gak usah pake jeda jeda segala lo?!"ujar kak Gia ngegas yang mulai merasa kesal.
"Gia,cara bicara kami dikontrol. Kamu lagi ngomong sama adik kamu bukan orang lain"ujar Renal menegur putri sulungnya itu.
"Lagian itu bocah ngeselin pa"ujar Gia kesal.
"Zia,ayo lanjut"pinta sang papa.
"Jadi Zia gak bisa ngasih kepastian sekarang,liat besok aja ya.Tapi kakak kirim aja alamat tempatnya,Zia usahain deh datang meski mungkin rada telat"ujar Zia melanjutkan jawabannya.