One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 48



"Em Zia gimana kondisi lo,selama disana udah pernah kambuh gak?"Anna


"Sekali"Zia terdengar ragu ragu.


"HAH KOK LO GAK BILANG?"Anna


"Takut ganggu lo kerja,lagian gak parah kok kak.Tanya aja sama pacar lo kalau gak percaya"Zia


"Tunggu tunggu maksud lo Teo tau tapi dia gak bilang sama gue,wah emang sialan tuh pacar gue"Anna


"Jangan marah sama kak Teo,gue yang suruh dia biar gak kasih tau lo kak.


Kita berdua takut ganggu lo yang lagi sibuk sibuknya sekarang"Zia


"Ya tapi gak gitu juga,kalian seharusnya tetep kasih tau gue"Anna


"Maaf kak"Zia


"Tapi lo kambuh pas dimana?pas lo dirumah?ada yang tau gak?"Anna


"Gue kambuh pas disekolah bukan pas dirumah dan untungnya pas itu udah sore,udah bukan jam sekolah lagi jadi lumayan aman"Zia


"Trus yang nolongin lo siapa kalau gak ada yang liat lo kambuh?"Anna


"Ada kok yang nolongin gue,gue ditolongin sama sahabat baru gue namanya Neta trus satu orang lagi ketua OSIS yang juga kebetulan ada disana.Mereka bawa gue kerumah sakit dengan cepat trus kasih tau kak Teo yang kebetulan nelpon gue pas udah sampai dirumah sakit"Zia


"Kalau gitu berarti mereka tau dong soal keadaan lo?"Anna


"Udah,tapi gue udah minta mereka buat tutup mulut soal kondisi gue ke orang lain dan untungnya mereka setuju"Zia


"Bagus dong,setidaknya rahasia lo aman dari keluarga lo"Anna


"Iya"Zia


"Eh tunggu gue baru sadar"Anna


"Sadar apa?"Zia


"Lo tadi bilang yang nolongin lo itu siapa namanya?Neta?"Anna


"Namanya Neta,kenapa emang?"Zia


"SAHABAT?LO BILANG TADI LO PUNYA SAHABAT?"Anna terdengar kaget sekaligus heboh.


"Iya Neta sahabat gue,kok lo heboh banget sih kak?"Zia


"Gimana gue gak heboh Woi!dari sejak gue ngenal orang yang namanya Zia Antara,baru kali ini gue denger lo punya yang namanya sahabat.Boro boro lo punya sahabat Zia,punya orang yang lo anggap temen aja jarang gue denger"Anna


"Lebay banget sih pacarnya Teo"Zia


"Pacar gue lebih tua dari lo cil,seumuran kakak tertua lo itu.Pakai kak manggilnya,sopan dikit"Anna


"Lo yang lebih muda dari dia aja gak pernah gue denger manggil kak Teo Kak,pake nama aja tuh"Zia


"Beda cerita dong Zia,Teo itukan pacar gue.Lagian jarak usia gue sama Teo aja gak nyampek setahun,beda sama lo yang beda 4 tahun sama pacar gue"Anna.


"Iya deh"Zia


"Oke tutup aja kalau gitu,istirahat lo kak yang bener"Zia


"Siap"Anna


Pip...pip...pip...suara panggilan telepon diakhiri oleh Anna dari seberang sana ditempatnya saat ini berada.


Huah...Zia menguap kemudin merasakan kalau ia merasa kantuk menyerangnya,


gadis remaja itu langsung mematikan hpnya kemudian meletakkannya disebelahnya.Zia memutuskan untuk tidur sebentar,lagi pula ia tak punya pekerjaan lain saat ini selain tidur.


Gia keluar dari kamarnya dan langsung memasuki kamar didepannya yang merupakan kamar Lyn adiknya,ia masuk perlahan lahan supaya tidak menimbulkan suara bising yang sangat tidak disukai adiknya itu.Gia menoleh kiri kanan tapi tidak menemukan keberadaan adiknya didalam kamar itu*apa dibalon ya?*pikir Gia, ia pun berjalan mendekat kearah balkon namun baru saja Gia hendak membuka pintu balkon dikamar Lyn itu tapi suara pemilik kamar yang ia cari cari sejak tadi menggagalkannya.


"Kakak ngapain dikamar gue?"tanya Lyn dari belakang dengan suara dinginnya.


"Lyn kamu dari mana aja?"tanya Gia kepada adiknya.


"Kamar mandi"jawab Lyn singkat kemudian duduk dimeja belajarnya.


Gadis dingin itu tadi sedang mengerjakan tugas kuliahnya namun tiba tiba ia merasa perlu kekamar mandi,setelah selesai dikamar mandi dan keluar dari sana.Lyn menemukan saudari tertuanya berada didalam kamarnya,hendak membuka pintu balkon dikamarnya.


"Kamar lo gelap banget sih Lyn,kakak nyalain lampunya ya biar lebih terang"ujar Gia hendak menyalakan lampu kamar adiknya namun dihentikan oleh Lyn.


"Jangan nyalain,kalau lo mau terang sana pergi kekamar kakak aja"ujar Lyn datar.


"Gitu amat lo sama kakak sendiri,iya gue gak nhalain kok"ucap Gia duduk diatas tempat tidur adiknya.


"Lo mau ngapain kesini?"tanya Lyn datar dengan posisi membelakangi kakaknya karena ia sedang lanjut mengerjakan tugas dilaptop miliknya.


"Kakak udah nyiapin rencana buat nyingkirin gadis parasit itu dari rumah kita"ujar Gia membuat Lyn sontak menghentikan kegiatannya.


"Jangan bertingkah aneh kak"ucapnya mengingatkan saudarinya itu untuk tidak melakukan hal hal yang aneh.


"Tenang aja,kakak gak sekejam itu kok.Kata menyingkirkan yang gue maksud bukan seperti yang lo pikirin Lyn,tapi maksud gue adalah gue bakal bikin anak parasit itu gak betah dan akhirnya pergi secepatnya dari rumah kita"ujar Gia menjelaskan sehingga adiknya itu tak salah tangkap.


"Lakuin sesuka lo asal jangan libatin gue"ujar Lyn kepada Gia kakaknya,setelah itu ia kembali melanjutkan tugasnya.


"Baru juga gue mau ngajak lo terlibat dalam rencana hebat gue,tapi lo udah nolak buat terlibat duluan"ujar Gia terlihat sedikit kecewa dengan penolakan awal adiknya.


"Kakak heran sama kamu Lyn,kenapa kamu bisa segitu tak pedulinya sama masalah keluarga kita.Tentang gadis parasit itu dan wanita yang merupakan ibunya itu,padahal itu masalah keluarga kita"lanjut Gia.


"Itu masalah mama dan papa,gue gak bakal terlibat kecuali gadis itu bener bener bikin masalah dikeluarga kita"saut Lyn dengan nada datar.


"Kenapa sih harus nunggu ada masalah dulu,kenapa lo gak ikut gue nyingkirin anak itu sebelum ada masalah?"tanya Gia sama sekali tak bisa mengerti dengan jalan pikiran Lyn.


"Ada masalah bikin hidup gue terusik dan gue gak suka terusik"jawab Lyn singkat.


"Lo bener bener adik gue yang paling egois Lyn,mendengar perkataan lo itu membuat gue bisa nyimpulin kalau lo itu sama sekali gak peduli hal lain kecuali diri lo sendiri"ujar Gia menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkat ketidak pedulian gadis dihadapannya itu.


Sedangkan Lyn memilih tak merespon sama sekali perkataan kakaknya bertindak seolah tak mendengar semua ocehan kakaknya itu.


"Dengan tingkat kepedulian lo yang jauh lebih tipis dari tisu itu,gue sebagai kakak lo heran kenapa bisa orang kayak lo sejak dulu kekeh banget pengen jadi dokter"


Brak...Lyn memukul meja belajarnya mendengar perkataan kakaknya barusan,tingkat emosinya tiba tiba naik seketika.