
Ting...ting...
Denting bel pintu sebuah toko buka terdengar saat dua orang pelanggan memasuki toko bunga itu.ANYA FLORIST.
"Selamat datang,eh kalian?"
Anya,wanita pemilik toko bunga itu terlihat semangat menyambut dua pelanggan remaja yang bisa dibilang pelanggan tetap tokonya itu datang bersamaan.
"Halo kak Anya"sapa Zia sambil mengeluarkan senyuman manisnya.
"Halo nona Zia,senang bertemu denganmu lagi.Dan juga Raka"sapa balik kak Anya.
"Kalian berdua ingin membeli bunga apa?3 Lily and mawar merah bukan?"tebak kak Anya,Raka dan Zia mengangguk mengiyakan.
Kak Anya-pun segera menyipkan pesanan bunga untuk kedua pelanggan remajanya itu,bunga Lily untuk Zia serta bunga mawar untuk Raka.
Raka dan Zia menunggu dengan sabar pesanan bunga mereka selesai dibuat,tak ada yang bicara diantara keduanya.Mereka hanya memperhatikan bunga bunga yang terpajang didalam toko itu,sampai kak Anya memanggil mereka karena bunga pesanan mereka sudah selesai dibuat.
"Ini pesanan kalian sudah selesai, bunga mawar untuk Raka dan bunga Lily untuk nona Zia"kak Anya menyerahkan bunga bunga itu ketangan pemesan masing masing.
Setelah mendapatkan bunga yang mereka inginkan dan menyelesaikan pembayaran bunga bunga tersebut,Raka dan Zia pamit meninggalkan toko itu untuk lanjut pergi ketempat tujuan utama mereka.
Suasana sore hari sangat terasa sendu jika digunakan untuk mengunjungi tempat pemakaman seperti yang Zia dan Raka lakukan kini, selesai dari toko ANYA FLORIST keduanya melanjutkan tujuan mereka yaitu kesebuah pemakanan yang letaknya tak jauh dari sana.
Sampai diarea pemakaman,keduanya berpisah kelokasi tujuan masing masing.Raka yang sampai duluan ketempat makam mendiang kekasihnya,sedangkan Zia melanjutkan beberapa langkah lagi untuk sampai ke makam mendiang mama,nenek,serta kakeknya.
Zia terlebih dahulu menghampiri makam kakek dan neneknya dulu,gadis itu meletakkan masing masing satu buah buket kecil bunga Lily yang dibelinya tadi diatas makam keduanya lalu mulai menyatukan tangannya untuk berdoa sebentar barulah Zia mulai berbicara sebentar.
"Sore kakek,nenek apa kabar?kuharap kalian bahagia disana.Kabarku tak begitu baik,walaupun aku berbohongpun pasti kalian akan mengetahuinya juga jadi aku memilih jujur saja.Tapi meski begitu tak usah khawatir,cucu bungsu kalian ini adalah yang paling kuat dalam menghadapi masalah.Buktinya aku tak pernah memilih jalan pintas bukan,meski masalah tak pernah bosan menghampiri"
"Aku juga hampir tak pernah menangis akan semua masalah itu.Aku selalu ingat pesan kakek untuk tak menangis sesakit apapun masalah menghampiri,meski terkadang kelepasan juga tapi aku menangis sendirian tak didepan orang lain"
"Hanya itu yang inginku katakan,
istirahatlah yang tenang dan tunggu aku disana"
Hah...gadis 17 tahun itu menghela nafasnya sekali sebelum mengatakan apa yang hendak dirinya katakan sembari menatap lekat tempat peristirahatan terakhir sang mama
"Hai ma,apa kabar?kuharap baik.Ini putrimu Zia,aku datang mengunjungimu"
"Jujur saja,akhir akhir ini entah kenapa aku merasakan perasaan rindu yang sangat dalam kepada mama.Zia tak tau kenapa.Kabarku tak begitu baik dan sedang banyak masalah,tapi tenang aku anak yang kuat.Kalau tak percaya,tanyakan saja kepada kedua mertua mama"
"Kemarin lusa putrimu ini masuk rumah sakit karena penyakitnya. Dokter Linda juga memberikan kabar yang cukup buruk,hanya sedikit waktu yang dimana aku bisa beraktivitas sebebas sekarang.Kondisiku memburuk,
jujur saja putrimu ini tak tau harus merasa senang dan sedih.Sedih karena waktuku tak lama lagi namun segala permasalahan masih jauh dari kata selesai,senang karena itu artinya aku akan segera bertemu denganmu serta kakek dan nenek yang selama ini selalu kurindukan"
"Dan putrimu ini juga sudah mengambil keputusan sejak kemarin,
aku akan menghapus sebagian tujuanku yang belum tercapai.Tujuan utamaku kini hanya satu yaitu membersihkan nama mama dari prasangka buruk orang orang selama ini.Huf...padahal ini mudah sekali tercapai jika saja papa atau tidak mami mau terbuka akan masalalu kalian setidaknya kepada anak anak mereka?om dan tante kami juga seharusnya mau bicara,tapi kenapa mereka tak mau melakukan hal itu?kak Lyn yang tahu juga tak bisa melakukan apa apa karena permintaan mama"
"Seseorang yang paling sulit dilunakkan adalah kakakku Gia,mungkin akhir akhir ini sifatnya sudah lumayan baik kepadaku tapi aku tahu jelas semua itu palsu.Putrimu ini bukan berburuk sangka tapi memang begitulah kenyataannya.
Kak Arga?ya aku tau sedari awal dia yang paling terlihat menerimaku, namun tetap saja terasa ada salah akan hal itu.Liona?hubungan kami baik sejauh ini,tapi masalah antara kami serupa namun tak sama dengan masa lalu mama-papa-mami"
"Kenapa putrimu ini bilang serupa namun tak sama?itu karena mungkin yang akan menjadi sumber masalah kami adalah laki laki iya laki laki,
anggap saja sebagai cinta segitiga.
Liona menyukai laki laki itu namun laki laki itu menyukai putrimu ini,
bagaimana dengan putrimu ini?aku bahkan tak berani dan tak sanggup untuk jatuh cinta"
Zia mencurahkan seluruh osi hatinya didepan pusara sang mama,hanya itu cara agar dirinya bisa merasa sedikit tenang.
Tak jauh berbeda dengan kondisi Zia,
Raka juga kini masih bersimpuh didepan makam mendiang kekasihnya sembari bercerita banyak hal.