One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 130



~Perpustakaan~


Dua gadis saat ini tengah berada dibagian sudut perpustakaan atau lebih tepatnya dibalik rak buku besar,keduanya duduk dilantai marmer perpustakaan yang dingin dengan beralaskan koran bekas yang sengaja mereka bentang disana.


Posisi keduanya bisa dibilang tersembunyi dari pandangan lepas, hal ini karena pengaruh ruang perpustakaan yang cukup luas dan jarak tempat mereka dan meja penjaga perpustakaan yang ada didekat pintu masuk terbilang cukup jauh.


"Jadi kenapa mood lo hancur banget keliatannya Zi?"tanya Neta membuka pembicaraan.


"Gue dibentak"jawab Zia


"Dibentak?sama kak Gia?"tanya Neta menebak siapa pelaku yang membentak sahabatnya itu,Zia menggelengkan kepalanya.


"Kak Lyn?"kali ini menyebut nama kakak ketiga sang sahabat,Zia menggelengkan kepalanya lagi.


"Kalau gitu siapa dong?jangan bilang Lio yang betak lo,makanya tadi lo berdua keliatan aneh banget?"tanya Neta,Namun jawaban yang keluar dari mulut sahabatnya itu berhasil membuatnya kaget.


"Gue dibentak kak Arga"ujar Zia


"Untuk pertama kalinya"sambung gadis itu terdengar sendu.


"Lo gak becandakan?"tanya Neta sedikit tidak percaya,bukannya apa apa tapi menurut yang Neta tau dari sang sahabat kalau kakak tertua sahabatnya itu adalah kakak Zia yang paling menerima keberadaan dan menyayangi sahabatnya itu sejak dulu.Namun melihat gelengan kembali yang diberikan sahabatnya itu langsung membuatnya percaya,tidak mungkin Zia berbohong padanya.


"Ah pantas lo dari tadi badmood mulu keliatannya karena itu toh,kapan lo dibentak kakak tertua lo itu trus kenapa bisa?"ujar Neta


"Tadi pagi pas sarapan,Lio minta gue buat nemenin dia ketoko buku pas pulang sekolah.Tentu aja gue gak bisa karena lo tau sendiri gue harus ketemu bunda Lin nanti,akhirnya gue bilang kalau gue gak bisa karena harus ketemu orang penting dan...."


Zia menceritakan semuanya kepada sang sahabat tentang kejadian tadi pagi saat ia sarapan dengan para kakaknya tanpa dilewatkan sedikitpun.


Neta menganggukkan kepalanya paham akan cerita sahabatnya itu.


"Oke gue bisa ngerti kenapa lo bersikap kayak gini"ujar gadis itu kepada sang sahabat.


"Tapi itu bukan satu satunya sebab kenapa mood gue hancur gini,ada yang lain"ujar Zia


"Penyebab yang lain,apa?"tanya Neta.


"Itu..."Zia mulai bercerita tentang kejadian semalam kepada Neta


~Flasback on~


Zia dengan perlahan menuruni anak tangga,gadis itu baru saja bangun dari tidurnya yang sebentar setelah pulang tadi.Ya meski sebentar tapi gadis muda itu merasakan rasa lelah dan penat tubuhnya lumayan berkurang,Zia saat ini hendak menemuin saudari tertuanya yaitu kak Gia diruangan kerja wanita itu.


Zia menemui saudarinya itu hendak meminta supaya besok sang kakak tidak memberinya tugas dahulu karena ia harus bertemu dengan Dokternya, Tentu ia tak akan memberitahu akan dokter itu melainkan akan mengatakan kalau besok ia harus bertemu orang penting.


Langkah Zia berhenti didepan pintu ruang kerja kak Gia,saat tangannya terangkat hendak mengetuk pintu ruangan itu namun pergerakannya terhenti karena indra pendengarannya yang terbilang cukup tajam mendengar sayup sayup percakapan dua orang kakaknya didalam ruangan itu.


Dengan rasa kepo yang cukup besar apalagi ia sempat mendengar namanya disebut salah satunya membuat Zia memutuskan menguping,namun sepertinya ia akan sedikit menyesali keputusannya itu.


"Gue bukan berprasangka buruk Gia, tapi gue tau banget apa aja yang lo lakuin kalau lo benci sama seseorang.Ingat meski lo gak mau mengakuinya,Zia itu tetap saudari sedarah dengan kita meski beda ibu.


(Itu adalah suara kak Arga saudara laki lakinya?


"Istilah senjata makan tuan itu memang ada Ga,tapi itu gak bakal berlaku sama gue"


(Suara kakak perempuan tertuanya)


"Terserah lo lah Gia,gue cuma nasehatin lo aja.Karena gue gak mau sekaligus khawatir kembaran gue malah terjebak dan terperangkap dalam jebakan yang dipasang sendiri"kak Arga


"hahaha...lo lagi nyoba buat nasehatin gue karena gak mau gue kenapa napa atau takut adik bungsu kesayangan lo itu terusik,wahai tuan muda Arga Antara?"


"Lo tau satu hal Ga,dikeluarga ini pada dasarnya cuma gue yang bersifat realistis dan apa adanya sesuai yang gue rasain selama ini ke Zia. Sedangkan kalian semua itu gak ada satupun yang benar benar bersikap sesuai dengan apa yang kalian rasain,hampir kalian semua itu adalah kumpulan manusia munafik tau gak"kak Gia.


"Apa maksud lo?!kita semua bersikap sesuai apa yang kita rasain ke Zia kok"kak Arga.


"Oh ya?"


"Kalau bener bener gitu sesuai apa adanya,sekarang gue tanya sama lo Ga.Lo tahu sekarang kalau gue punya rencana tersembunyi buat nyakitin anak itu,tapi kenapa lo cuma nasehatin gue dengan omong kosong lo itu?kenapa lo gak menyusun rencana juga buat hentiin niat gue?"


"Gak bisa jawabkan lo"kak Gia.


"Itu karena lo kembaran gue dan gue gak mungkin nyakitin lo"Kak Gia.


Hahaha...suara kak tawa Gia


"Itu bukan karena gue kembaran lo jadi lo gak mau nyakitin gue Ga,tapi itu terjadi karena didalam hati lo masih ada sisi dimana lo belum bisa nerima anak itu juga sama kayak gue.Kalau misalnya lo emang udah nerima anak itu sepenuhnya,lo gak mungkin bela gue yang udah jelas berada didalam pihak yang bersalah tapi lo bakal berlaku adil"


"Lo pasti pengen tahu dari mana gue bisa tau hal itukan?ingat kita itu terlahir sebagai anak kembar Ga,bukan cuma lo aja yang bisa dengan mudah tau apa isi otak gue tapi sebaliknya gue juga tau isi otak lo"


"Ayo keluar,yang lain pasti sudah menunggu untuk makan malam"Kak Gia.


Zia tersentak mendengar kalimat terakhir kakaknya itu,ia dengan cepat beranjak dari sana seperlahan mungkin supaya langkah kakinya tak terdengar sehingga dua orang yang ada didalam ruangan itu mengetahui keberadaannya yang menguping.


Zia masuk kedalam kamar mandi luar yang terdapat didekat dapur,kamar mandi itu biasanya digunakan oleh tamu yang datang mengunjungi kediaman keluarganya itu.Zia menyalakan kran air diwastafel dan segera membasuh mukanya yang sudah dibanjiri air mata yang mengalir bebas melalui pelupuk matannya.


*Sakit*itu adalah salah satu kata yang menggambarkan perasaannya setelah mendengar pembicaraan yang baru dia kuping itu.


Zia menatap pantulan wajahnya dikaca depan wastafel


*Kak Arga tak benar benar bisa menerimaku?apa aku salah mengira atau terlalu naif selama ini?anak istri kedua,tentu siapa yang bisa menerima anak dari istri kedua papanya saat sang ibu kandung masih ada Zia?jawabannya tak ada,meski ada itu sangat langka*batin Zia,ia terus menatap pantulan dirinya dicermin.


"Meski kak Arga tadi gak membenarkan perkataan kak Gia secara langsung, tapi diamnya pasti sudah jelas bukan"gumam Zia sangat pelan.


"Kak Arga gak salah sama lo,tapi lo nya aja yang terlalu mudah percaya sama apa yang lo lihat Zia"lanjut Zia terus bergumam pada dirinya sendiri.


Setelah memastikan kondisinya tak mencurigakan,Zia segera keluar dari kamar mandi itu untuk menuju ke meja makan untuk melaksanakan makan malam.Selama makan malam itu Zia memutuskan hanya diam dan tak berbicara,pikirannya terlalu kacau saat ini.


~Flaskback off~