
DEG..Deg...deg...detak jantung Zia mulai tak beraturan saat mendengar celetukan celetukan samar pengunjung bandara yang mulai ngeh akan keberadaannya diantara keduanya dan juga mulai membahas tentang istri kedua ayahnya yang merupakan mamanya,gadis itu tanpa sadar mencengkram erat baju Lyn kakaknya dan mulai menundukkan kepalanya.
Lyn sedikit tersentak saat seseorang disebelahnya mencengkram bajunya, namun sepersekian detik kemudian ia tahu itu ulah adik bungsunya.Gadis dingin itu juga peka kalau adiknya itu mulai merasa tak nyaman dengan siatuasi yang semakin tak kondusif ini.Gadis itu segera menggenggem tangan adiknya itu berusaha memberikan rasa aman,ia bisa merasakan tangan Zia yang terasa dingin dan berkeringat serta sedikit bergetar.
Beruntung mereka dengan cepat bisa berhasil masuk kedalam mobil mereka masing masing lalu melesat dengan cepat meninggalkan bandara itu.
Didalam mobil milik Zia,akhirnya Lyn kakaknya yang menyetir karena keadaan Zia yang masih sedikit syok.
"Kau tidak apa apa Zia?"tanya Lyn kepada adiknya itu dengan nada yang tersirat kekhawatiran,ia bisa melihat bibir sang adik yang terlibat pucat.
"Aku tak tahu kalau kamu tidak suka menjadi pusat perhatian dan dikelilingi oleh wartawan seperti tadi"lanjut Lyn berbicara dengan cukup panjang guna menyadarkan saudarinya itu yang tengah bengong.
Zia menoleh kearah sang kakak yang tengah menyetir itu sejenak.
"Aku gak papa kak,hanya sedikit terkejut saja kenapa tiba tiba ada wartawan seperti tadi.Tidak ada yang mengatakan soalnya apapun kepadaku soal adanya keberadaan wartawan"ujar Zia mulai bersuara.
"Zia gak terlalu khawatir saat menjadi pusat perhatian seperti tadi,hanya saja aku hanya tak siap jika mereka mulai membahas soal mama atau mempertanyakan soal statusku dikeluarga"lanjut Zia.
"Sepertinya keberadaan wartawan tadi tidak ada yang mengetahuinya diantara kita tadi,pasti ada pihak yang membocorkan kepulangan papa dan mama.Makanya mereka datang"ujar kak Lyn kembali berbicara cukup panjang, meski nada bicaranya kembali datar.
"Memangnya akan selalu seperti itu ya kalau seandainya papa atau mama pulang dari suatu tempat?"tanya Zia penasaran.
"Hm,bukan cuma mereka saja tapi kakak kembar kita juga"jawab kak Lyn datar.
"Hah,aku baru tahu hal itu.Kalau tau dari tadi,mungkin lebih baik aku tidak ikut saja atau mungkin memilih menunggu dimobil saja"ujar Zia
"Ini sudah terjadi,jadi mulai hari ini berhati hatilah saat ditempat umum.Kakak yakin setelah ini pasti orang orang itu akan mulai mencari informasi tentang dirimu"ujar kak Lyn berpesan kepada adiknya itu.
"Harus seperti itu?"tanya Zia
"Ya,itu kalau kau mau identitasmu tetap tertutup"jawab kak Lyn.
"Kok jadi ribet sih,padahal anak anak Hantara aja tau tentang identitas gue kak tapi gak seribet ini"keluh Zia.
"Mulut mereka masih bisa ditutup berbeda dengan para wartawan itu, meski bisa saja tapi pasti akan ada satu atau dua orang yang bebal akan hal itu"ujar kak Lyn sambil melirik adiknya yang tengah duduk disebelahnya itu.
"Ngomong-ngomong kakak kok tumben punya waktu dihari senin gini, biasanya juga sibuk banget sama tugas?"tanya Zia heran.
Zia mengangguk mengerti,lagi pula dalam hati ia mengakui perkataan kak Lyn tentang saudari tertua mereka itu.
"Lo sendiri,bukannya lo juga orang sibuk?"tanya Lyn datar.
"Hanya berusaha jadi anak baik aja, lagian selain lagi males denger omongan kak Gia yang selalu menusuk hati.Gue juga lagi berusaha gak bikin perkara sama kak Arga,soalnya gue liat akhir akhir ini kak Arga lagi sensitif banget sama gue.Gue gak tau kenapa tapi mungkin kak Arga lagi capek ngurusin kerjaannya, makanya sering naik darah"jelas Zia panjang lebar.
Kedua bersaudari itu terus mengobrol dengan berbagai topik pembahasan, baik Zia atau Lyn yang memulai topik dahulu.Kalau dilihat lihat memang interaksi keduanya bisa dibilang semakin bagus,sudah hampir tak terlihat dinding batasan lagi antara Lyn maupun Zia.Tapi memang itulah interaksi yang terjadi jika kedua gadis itu hanya berdua tanpa ada orang lain didekat mereka,Lyn yang biasanya irit bicara dan dinginpun terlihat banyak bicara dan sedikit lebih ekspresif kalau hanya sedang berbicara dengan sang adik bungsu.
Namun itu hanya jika berdua,berbeda lagi jika diantara mereka ada anggota keluarga mereka,keduanya akan bersikap seolah olah tak akrab dan hampir tak pernah terlihat berinteraksi atau berkomunikasi satu sama lain.
~skip~
Disinilah semua anggota keluarga inti Antara berkumpul sekarang,yaitu disebuah ruangan privat didalam sebuah restoran yang terbilang cukup besar.Mereka semua terlihat duduk melingkar disebuah meja berbentuk oval yang berukuran cukup besar,ini sesuai dengan rencana mereka saat dibandara tadi tentang akan mampir untuk makan siang terlebih dahulu sebelum pulang kekediaman Antara.
"Bagaimana kondisimu Zia,papa lihat tadi kamu sedikit terlihat panik menyadari keadaan wartawan tadi?" tanya Renal terdengar khawatir kepada putri bungsunya itu.Anggota keluarga yang lain juga terlihat melihat kearah sibungsu Antara itu.
"Zia baik baik aja kok pa,cuma tadi memang sempat panik aja"saut Zia sambil tersenyum kearah sang papa.
"Yakin kamu baik baik aja dek,bibir kamu keliatan pucat loh?"tanya Liona menyadari bibir sang adik yang pucat.
"Gak masalah,ini pasti efek panik tadi"jawab Zia meyakinkan saudarinya itu.
"Para wartawan sialan itu memang hobi banget tau dek dari dulu,kakak aja masih suka kesel kalau tau merek ngawasin kita secara diam diam pas diluar rumah"ujar Liona yang selalu kesal kalau mengingat tentang para wartawan yang hobi ganggu kedamaianny sebagai manusia.
"Ga,bukannya kemarin lo bilang kalau kepulangan papa sama mama bakal dirahasiain dari pihak media,kok tadi ada mereka sih?"tanya Gia penasaran.
"Aku juga gak tau soal itu,tapi yang gue yakinin pasti ada oknum bandara yang bocorin ini ke pihak media. Tenang aja,aku udah hubungin pihak bandara buat minta penjelasan dan suruh nyelidikin soal kejadian tadi"ujar Arga.
Zia mengeluarkan hp dan dompet miliknya lalu meletakkannya diatas meja didepannya,ia hendak izin kekamar mandi dulu sebelum nanti makanan datang.
"Pa Ma,Zia izin kekamar kecil bentar ya.Mau cuci muka dulu,biar gak keliatan pucet lagi"ujar gadis itu meminta izin kepada kedua orang tuanya.
"Yaudah sana dek,hati hati ya"saut mama Sela yang bicara.
Zia mengangguk mengiyakan,kemudian gadis itu segera beranjak dari kursinya menuju kepintu keluar ruangan untuk pergi kekamar kecil yang tersedia direstoran itu.