
"Bisa gak?"tanya Neta memastikan apakah Raka bisa.
"Bisa,yuk"saut Raka.
Raka-pun mulai melangkah sedikit perlahan sambil membawa Zia yang sudah lemah digendongannya,sedangkan Neta dengan setia berjalan disebelah Raka guna memerhatikan kondisi Zia.
Tit...tit...tit...suara klakson sebuah mobil berbunyi beberapa kali memberi isyarat kepada penjaga gerbang kediaman Antara agar dibuka dan diberikan akses masuk.
Setelah diberi akses masuk,mobil itu melaju memasuki pekarangan kediaman megah dan luas itu lalu kemudian berhenti tepat didepan teras utama.
"Sudah sampai,lo kuat jalan sendiri?"tanya Raka yang menjadi pemilik sekaligus yang mengemudi mobil itu.
"Bisa kok gue,lagian lebih baik lo gak keluar dari nih mobil.Bisa ribet nanti urusannya kalau ada yang liat"jawab Zia yang duduk disebelah cowok itu.
"Iya juga sih,oh iya itu ice cream yang lo beli tadi jangan lupa"ujar Raka.
"Hm,kalau gitu thanks udah nganterin sekaligus buat yang tadi pas disekolah"ucap Zia yang mulai beranjak membuka pintu mobil.
"Sama sama,itukan sesuai kesepakatan
waktu itu"saut Raka.
Brak...pintu mobil Zia tutup dari luar,beberapa saat kemudian mobil Raka terlihat mulai bergerak menjauh dari sana.Setelah memastikan mobil Raka sudah mau keluar dari gerbang kediaman keluarganya,Zia mulai berjalan masuk kedalam.
Gadis muda itu terlihat berjalan dengan perlahan sambil menenteng sekantong plastik berisi beraneka ragam ice cream dan juga coklat,Zia langsung menuju ke lift untuk kelantai dimana kamarnya berada karena tubuhnya masih terasa lemas untuk meniti anak tangga.
Tok...tok...tok...Zia mengetuk pintu sebuah kamar beberapa kali,kamar itu adalah milik saudari ketiganya yaitu Liona.
Ceklek...kriet...suara kunci pintu terbuka
"Siap-pa?"
Zia segera mengulurkan tangannya menahan pintu yang hendak ditutup kembali oleh Liona,saat melihat kalau dirinyalah yang datang.
"Jangan ditutup lagi"ujar Zia, kemudian ia tanpa basa basi langsung melangkah masuk kedalam kamar saudarinya itu.
"Ngapain lo kesini?"tanya Liona terdengar sedikit ketus setelah pintu ditutup kembali,kakak keempat Zia itu berdiri sambil melipat kedua tangan didepan.
Zia duduk dimeja belajar saudarinya itu,kemudian tangan kirinya ia angkat menunjukkan sekantong plastik ice cream dan coklat yang ia bawa tadi kepada Liona.
"Ngasih ini,gue beli pas jalan pulang tadi diminimarket.Yang gue baca dari internet,orang galau butuh asupan gula buat cepet memperbaiki mood.Dan berhubung lo lagi galau jadi gue baliin"jawab Zia.
Liona memandangi kantong plastik yang disodorkan oleh adiknya itu kepadanya dan masih dengan raut wajah ketus,gadis itu langsung menerimanya.
"Gue galau juga gara gara lo"ujar Liona,kemudian ia duduk lesehan dilantai kamarnya dan mulai membuka satu bungkus ice cream dan memakannya.
"Bukan karena gue,tapi lo galau karena cruss idaman lo nembak orang lain yang bukan lo"ujar Zia.
"Tapi yang ada diposisi orang lain itukan,elo dek"saut Liona mendongak keatas supaya bisa bertatapan dengan sang adik.
"Iya juga sih,tapi itu tetep bukan salah gue"ujar Zia.
"Iya gue tau kok bukan karena lo,tapi karena ekspektasi gue selama ini yang terlalu berharap tinggi. Tapi jujur gue jadi ikutan kesel sama bete sama lo dek"ujar Liona sambil sesekali menjilati ice cream ditangannya.
Liona yang sibuk menikmati manis dan dingin ice cream ditangannya langsung berhenti dan menatap Zia yang duduk dikursi kayu didekat meja belajarnya
"Maksud lo ini sogokan gitu,kalau gitu gue gak mau ah"ujar Liona yang kembali cemberut,gadis itu mengangkat kantong plastik dan sisa isinya kearah Zia untuk dikembalikan.
"Mana bisa refund kalau barangnya udah berkurang,udah lo makan satu Lio"ujar Zia.
"Berarti itu sama aja lo ngejebak gue buat nerima ni barang sogokan dari lo dong"ujar Liona.
Zia terkekeh melihat tingkah saudarinya yang lebih tua delapan bulan darinya itu,tingkah Liona mirip seperti anak kecil menurut Zia tuh.
"Gue becanda Lio,itu bukan sogokan kok.Jadi lo tenang aja,gue tadi cuma becanda aja eh malah lo sautin dengan serius"ujarnya kepada Liona.
"Seriusan nih?"tanya Liona dengan mata penuh selidik memastikan.
"Hm,serius"jawab Zia.
"Bagus deh,gak jadi dibalikin"ucap Liona menatap kantong plastik berisi ice cream dan coklat itu dengan gembira,namun beberapa saat ia kembali menatap Zia dengan tatapan penuh selidik sekaligus penasaran setelah mengingat sesuatu.
"Kenapa lagi Lio?"tanya Zia yang menyadari tatapan saudarinya itu.
"Gue baru inget sekarang,sejak kapan lo punya pacar?dan kapan lo jadian sama pak Ketos Hantara dek?Kenal dimana lo sama Raka?"saut Liona langsung memberikan pertanyaan beruntun.
Bukannya menjawab,Zia malah beranjak dari tempat duduknya dan memperbaiki posisi tas sekolah yang masih tersandang dipunggungnya.
"Nanti aja kapan kapan gue jawab sekalian jelasin sama lo soal itu Lio,sekarang lo fokus selesain kegalauan lo aja dulu"ujar Zia berjalan menuju kepintu kamar Liona.
"Kenapa gak sekarang aja sih?"tanya Liona yang kesal,soalnya udah telanjur penasaran dia tuh.
"Lain kali aja,nunggu lo tuntasin kegalauan lo.Soalnya gue khawatir nanti lo marah iri lagi denger kisah percintaan gue yang romantis, sedangkan elo malah tragis"ujar Zia menaik turunkan alisnya,kemudian langsung bergegas keluar dari sana sebelum Liona ngamuk.
"Adik sialan"umpat Liona kesal.
"Tapi emang bener sih,kisah cinta gue emang tragis"gumam Liona.
Kriet...
"Ngapain lagi lo dek?mau menghina lagi?"tanya Liona kepada Zia yang tiba tiba mengintip kedalam kamarnya.
"Hehehe enggak kok,cuma mau minta tolong aja.Lio jangan bilang dulu ya sama papa mami trus sama kakak yang lain,soal gue udah punya pacar ya.
Plis...ya ya Lio"pinta Zia memohon kepada saudarinya itu,gadis itu bahkan menyatukan kedua tangannya.
"Lio cantik deh,mau ya bantuin adik lo yang satu ini"ujar Zia yang masih berusaha membujuk Liona.
"Gini aja kamu ngaku jadi adik kakak Zi,yaudah iya gak bakal gue bilangin"saut Liona yang akhirnya luluh.
"Nah gitu dong,tanks Lio.Silahkan lanjut menggalaunya,gue mau bobo siang cantik dulu"ujar Zia yang kembali menghilang dibalik pintu.
"Yasudahlah,mari menggalau lagi Lio"ucap Liona pada dirinya sendiri,gadis itu lanjut memakan semua ice cream dan coklat yang Zia berikan padanya tadi,sambil mengingat masa masa indahnya bersama Ken.
Emang dasar bulol nih kakaknya Zia yang satu ini.