One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 150



Neta___


Didalam sebuah ruangan bernuansa putih,terlihat Neta berada disana bersama tiga orang dewasa.Dua diantaranya adalah sepasang suami istri berpakaian formal yang merupakan orang tua gadis itu,dan satunya adalah seorang wanita dewasa yang berprofesi sebagai psikiater yang sudah cukup lama merawat gadis itu.


Kedua orang tua Neta duduk disofa yang berada didalam ruangan itu, sedangkan Neta sendiri duduk disebuah kursi didepan meja kerja psikiaternya.


"Bagaimana perasaanmu beberapa waktu kebelakangan ini Neta?"tanya wanita yang berprofesi sebagai psikiater itu.


"Baik kak,aku hampir tidak pernah merasakan gejala gejala aneh lagi beberapa waktu belakangan ini"jawab Neta.


Sang psikiater itu menatap dan berusaha membaca gestur raut wajah gadis remaja yang merupakan pasiennya itu,ia bisa melihat betapa tenangnya gadis itu saat ini dan ia juga bisa memastikan kalau pasiennya itu tidak berbohong padanya.


"Bagus kalau begitu"ucap psikiater itu.


"Jadi apa ada beberapa hal yang membuatmu merasa bahagia dan tenang akhir akhir ini?"tanyanya kepada Neta.Neta langsung menganggukkan kepalanya dengan sigap,sambil tersenyum.


"Benarkah?ayo coba ceritakan,kakak mau dengar"pinta psikiater itu.


"Kakak tau anak baru dikelasku yang pernah aku ceritakan kepada kakak sekitaran tiga bulan yang lalu?"tanya Neta dengan Antusias.


"Tentu saja masih ingat,jadi ada apa dengannya?kalau gak salah namanya Zia bukan?"tanya sipsikiater.


"Iya namanya Zia,kakak tau?kami berdua saat ini sudah berteman eh bukan tapi bersahabat akrab sekali"ujar Neta mulai bercerita.


"Wah,jadi itu artinya Neta sudah punya seorang sahabat sekarang?" tanya psikiater itu sambil melirik kearah orang tua pasiennya yang duduk dibelakang sana.


"Iya kak,kakak pasti sulit percaya kalau aku punya seorang sahabatkan? Sama aku juga sampai sekarang masih sering tak percaya,tapi hal itulah apa adanya"ujar Neta.


"Entahlah tapi aku pikir aku dan Zia bisa langsung mudah memahami satu sama lain,tapi ada satu hal yang membuatku sedikit sedih tentang Zia"lanjut Neta,wajah antusias dan bahagia gadis itu langsung berubah menjadi sedih.


"Loh kenapa kamu mendadak terlihat sedih?apa ada masalah tentang sahabatmu itu?"tanya Psikiater itu menyadari perubahan suasana hati pasiennya yang mendadak,Neta menganggukkan kepalanya pelan.


"Kami,aku dan Zia terlahir dengan memiliki masalah yang hampir sama kak meski tak serupa"jawab Neta.


"Coba jelaskan"pinta psikiater itu.


"Kami sama sama sendirian kak,aku yang kesepian karena ayah dan mama yang sangat sibuk dengan pekerjaan mereka.Sedangkan Zia,dia merasa kesepian karena beberapa masalah dalam keluarganya.Bahkan sahabatku itu terlihat jauh lebih kesepian dibanding aku,belum lagi saat ini dia sedang sakit parah"jelas Neta dengan wajah sendu.


Kedua orang tua Neta yang berada disofa mendadak kembali merasa bersalah kepada putri mereka itu, keduanya juga turut merasa prihatin akan apa yang dialami sahabat baru sang putri.


"Benarkah?Neta bisa tahu itu dari mana?"tanya psikiater itu.


"Aku tau itu dari Zia nya langsung kak,kami sering berbagi cerita tentang banyak hal dan termasuk masalah masalah yang kami rasakan didalam diri kami"jawab Neta.


"Kakak tau?"tanya Neta,psikiater gadis itu menggelengkan kepala pelan.


"Kemarin Zia bercerita kalau dia merasa akhir akhir ini kondisi emosionalnya sering tak menentu,ia juga kadang kadang tanpa sadar refleks memukul kepalanya atau sesuatu didekatnya jika merasa sangat emosi atau merasa bersalah akan sesuatu"ujar Neta berucap dengan serius kepada psikiaternya itu.


Psikiater itu temangu mendengar cerita dari pasiennya itu,bukan hanya dirinya tapi kedua orang tua gadis didepannya itu juga tak jauh berbeda.Psikiater itu sudah bisa menebak apa yang terjadi pada sahabat dari pasiennya itu.


"Jadi aku menyarankan kepada Zia untuk menemui kakak,apa kakak mau membantunya juga?"tanya Neta menatap penuh harap kearah psikiaternya.


"Baiklah kakak akan membantunya juga,katakan saja kapan sahabatmu itu bisa menemui kakak"jawab psikiater itu menganggukkan kepalanya setuju.


"Hah,aku besyukur kakak mau membantu Zia.Terimakasih dan aku akan menyampaikan kepadanya tentang ini besok"ujar Neta kembali terlihat senang.


"Tidak masalah,dan kalau sahabatmu itu takut untuk datang sendiri.Maka temani dia bertemu dengan kakak oke"ujar psikiater itu.


"Siap kak"saut Neta mengangkat tangan kanannya untuk bersikap hormat selayaknya seorang tentara.


"Kalau begitu,hari ini kita cukupkan sampai disini saja"ujar psikiater itu beranjak berdiri dari kursinya diikuti oleh Neta.


"Iya kak"saut Neta.


Wanita yang berprofesi sebagai psikiater itu sekarang berjalan mendekat kearah sofa dimana kedua orang tuanya Neta berada,dan jangan lupakan gadis remaja itu yang mengikuti langkahnya dari belakang.


Neta berjalan mengambil posisi berdiri diantara kedua orang tuanya yang sudah berdiri,sedangkan psikiaternya berdiri berhadapan dengan keluarga itu.


"Bagaimana kondisi anak kami?"tanya ayahnya Neta.


"Neta sudah sangat membaik om,jika kondisi lingkungannya tetap memberi dampak fositif dan dapat membuat kondisi emosinya terus stabil.Kurasa anak om dan tante bakal bisa lepas sepenuhnya dari pengawasan saya dalam waktu tak lama lagi"jelas spikiater itu kepada orang tuanya Neta.


"Benarkah?saya dan istri saya senang mendengar hal itu"ujar ayahnya Neta tampak sangat bahagia mendengar kabar bagus tentang kondisi putri tunggalnya itu.


"Benar apa yang dikatakan suami saya nak Ilen,kami sangat senang dan terimakasih sudah membantu putri kami selama ini"ucap mamanya Neta dengan tulus.


"Iya om,tante sama sama.Tapi kalian jangan senang dulu ya"ujar spikiater yang ternyata bernama Ilen itu.


"Loh kenapa nak Ilen?"tanya ayahnya Neta


"Justru setelah ini saya mohon sama om dan tante untuk lebih  memperhatikan Neta,karena justru dikondisi kondisi pasca sembuh inilah salah satu keadaan yang paling rentan untuk Neta"ujar spikiater Ilen sambil menatap lamat wajah Neta yang tampak serius memperhatikan penjelasannya.


"Kita harus pastikan kondisi psikisnya Neta supaya jangan tiba tiba down lagi,karena itu akan cukup berpengaruh untuk kesembuhan depresi yang dialaminya"lanjut Wanita muda itu menjelaskan kepada kedua orang tua Neta.


Kedua orang tua Neta dan termasuk Neta sendiri terlihat langsung mengangguk angguk pelan mendengar penjelasannya barusan.


"Tidak masalah nak Ilen,kami akan terus memantau putri kami ini"ucap ayahnya Neta.


"Lagi pula mulai bulan depan,ibunya Neta sudah memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya sebagai pramugari" lanjut laki laki paruh baya itu.


"Benarkah?!"tanya Neta langsung kaget mendengar pernyataan ayahnya itu,gadis remaja itu langsung menoleh kearah mamanya dan sang mama langsung menatapnya balik kemudian terlihat menganggukkan kepala mantap.


"Iya sayang,mama sudah memikirkan hal ini sejak sebulan yang lalu dan keputusan mama mantap untuk pensiun sebagai pramugari perbulan depan. Jadi mama bisa terus nemenin kamu,jadi kamu gak bakal kesepian lagi"ujar mamanya kepada Neta.


Neta langsung tersenyum,jangan tanyakan perasaannya sekarang karena tentu ia akan sangat senang sekali.


"Sungguh itu adalah kabar bagus untuk Neta"ujar spikiater ilen.


"Tentu saja"saut Neta.


"Baiklah nak Ilen,sepertinya kami akan pulang sekarang.Ini sudah sangat sore"ujar ayahnya Neta berpamitan,laki laki itu melirik kearah jam tangannya yang dikenakan ditangan kirinya.


"Ah benar juga,kalau begitu silahkan"ucap spikiater Ilen mempersilahkan.


Kedua orang tua Neta berjalan terlebih dahulu meninggalkan ruang kerja spikiater Ilen,sedangkan Neta menyusul belakangan.


"Neta"panggil Ilen kepada pasien yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.


"Iya kak"saut Neta.


"Pastikan sahabat kamu itu jadi menemui kakak ya,kita harus secepat mungkin mencegah gejala yang dialaminya itu"ujar Ilen berpesan kepada Neta.


"Iya kak,tanpa kakak suruhpun aku bakal lakuin hal itu kok"ujar Neta.


"Baguslah"ucap spikiater Ilen.


"Kalau begitu saya pamit pulang kak,ayah sama mama pasti udah nunggu diluar"pamit Neta,setelah itu gadis remaja itu benar benar keluar dari ruangan itu.