
Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya klaen perusahaan Zia itupun akhirnya datang,mereka sedikit berbicara berupa basa basi terlebih dahulu kemudian dilanjut dengan pembahasan agenda utama diadakannya pertemuan itu yaitu untuk mencapai sebuah kesepakatan kerja sama antar perusahaan.Pertemuan kali ini tak berlangsung begitu lama,hanya memakan waktu kurang lebih satu jam saja.Kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri pertemuan dengan bersalaman petanda kerja sama yang terjalin.
"Terima kasih atas kerja samanya nona muda,semoga kerja sama perusahaan saya dan anda bisa berjalan dengan baik"ucap kliennya perusahaan Zia.
"Terima kasih juga tuan Anton"balas Zia.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu"pamit pak Anton untuk undur kandiri dari tempat pertemuan itu.
"Iya silahkan"balas Zia.
"Huf akhirnya selesai juga"gumam Zia pelan hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri setelah rekan bisnis perusahaannya itu pergi dari sana.
Zia menoleh kearah sang sekretaris
"Pak sekretaris"panggil Zia.
"Iya ada apa nona muda?"saut sang sekretaris.
"Anda bisa kembali keperusahaan terlebih dahulu"ujar Zia
"Baik nona muda,kalau begitu saya permisi"ujar si sekretaris pamit untuk pergi dari sana.
Kini tinggal Zia seorang yang berada diruangan privat itu,ia segera mengeluarkan botol kecil dari dalam tasnya kemudian mengeluarkan beberapa butir pil dari sana ketelapak tangannya.Gadis itu langsung memasukkan pil itu kedalam mulutnya langsung menegaknya dibantu dengan segelas air putih yang ada disana,setelah selesai Zia langsung menyimpan botol obatnya kembali.
*Gue kenapa makin sering tiba tiba lemes kayak gini sih?besok jadwal pemeriksaankan?gua harus nanya tentang hal ini ke bu dokter*batin Zia.
Zia memanggil pelayan untuk kembali memesan beberapa makanan,tapi bukan untuk dia makan direstoran itu melainkan untuk dibungkus dan ia bawa pulang untuk orang rumah.
Setelah pesanannya siap dan juga selesai melakukan pembayaran,barulah gadis yang masih berstatus sebagai remaja SMA itu pergi meninggalkan restoran itu untuk pulang kerumah.
~Skip~
Kembali dikediaman keluarga Antara_
Diruang tamu masih terdapat Lyn,Callie,dan ketiga teman teman mereka yaitu Manda serta sikembar Rey dan Ren.
Kelima mahasiswa kedokteran itu terlihat sangat sibuk mengerjakan dan mendiskusikan tugas kelompok mereka yang bisa dibilang cukup untuk membuat otak rada rada pusing gimana gitu,jam sudah menunjukkan jam lima sore namun sepertinya tugas mereka masih belum separuhnya selesai.
"Cks...cks...para anak kedokteran pusing banget keliatan"Zia datang datang langsung meledek kakak kakaknya itu.
"Udah balik lo cil?"tanya Callie kepada remaja SMA berpakaian kantoran itu.
"Udahlah,nih kakak gak liat saya udah berdiri disini"saut Zia sedikit
ngegas.
"Santai dong Cil,gak usah ngegas gitu"ujar Callie
"Cal cil cal cil,gue udah remaja kak bukan bocil"ujar Zia.
"Dek lo bawa apaan tuh,kok bau makanan?"tanya Rey tanpa tahu malu, membuat Ren kembarannya langsung menepuk jidat.
"Rey,lo baru pertama kali datang kesini ya jadi gak usah malu maluin bisa gak?"ujar Manda yang ikut malu dengan tingkah temannya itu.
"Ya habisnya kecium wangi makanan"ujar Rey.
"Kak lo kayaknya punya pencuman ekstra deh,tau aja kalau gue bawa makanan buat kalian"ujar Zia langsung menyodorkan makanan yang ia beli tadi kepada kakak kakaknya itu.
"Wah seriusan nih buat kita?"tanya kak Rey yang sudah berbinar menatap isi kantong makanan yang dibawa oleh Zia.
"Hm,kakak kakak semua pasti laper karena ngerjain tugas.Makanya saya inisiatif beliin kalian makanan"ujar Zia.
"Noh Lyn tiru adek lo,tamu datang dibeliin makanan tanpa diminta"ujar Callie kepada Lyn sahabatnya, sedangkan Lyn memilih tak mengacuhkan perkataan sahabatnya itu.
"Wah ada Sushi juga dong,mana banyak lagi"ujar kak Ren menemukan sushi disana.
Zia langsung menoleh kearah makanan itu kembali
"Eh eh,itu yang Sushi jangan dikotak atik dulu ya kakak kakak"ujar Zia
"Lah kenapa dek,ini untuk lo?"tanya kak Rey.
"Itu gue beliin khusus buat Lio kak,soalnya dia suka makan sushi.Jadi nanti kalau kakak ada yang mau,tanyain aja ke orangnya mau berbagi atau enggak"jelas Zia.
"Kalau Lio gak mau berbagi gimana tuh?"tanya kak Callie.
"Itu artinya bukan rezeki kakak kakaklah"jawab Zia santai.
"Yaudah nanti kita tanyain Lio deh"ujar Callie.
"Apanih sebut sebut nama orang?"ujar Liona datang entah dari mana tiba tiba nongol diruang tamu.
"Insting lo kuat juga Lio,bisa ngerasain ada makanan disini"ujar Callie ke Liona.
"Hah makanan,mana gue mau dong?laper nih"ujar Liona.
"Tuh gue beliin lo sushi yang banyak,makan sana"saut Zia menunjuk kearah meja ruang tamu.
Mereka semuapun langsung berpindah ke meja makan supaya bisa lebih leluasa untuk memakan makanan yang dibawa oleh Zia tadi,posisi duduk mereka sebagai berikut:
Callie-Ren-Manda-Rey
Zia-Lyn-Liona
"Aduh enaknya punya adik yang peka gini nih,tau aja kakaknya lagi laper"ujar Liona sambil sibuk menikmati beragam jenis Sushi yang dibawa oleh adiknya itu.
"Walaupun Zia bukan adik kita tapi kita membenarkan hal itu"ujar Rey.
"Hooh,apalagi makan itu adalah salah satu refresing otak yang ampuh pas pusing ngerjain tugas"ujar Rey.
Sedangkan yang menjadi topik pembahasan hanya diam menonton orang orang yang lebih tua darinya itu makan,Zia tak ikut makan karena sudah makan disaat pertemuan tadi.
"Loh Zia gak ikut makan?"tanya Manda saat menyadari adik dari temannya itu tak menyentuh makanan yang diatas meja sedikitpun.
"Kakak kakak semua aja deh yang makan,saya udah makan tadi soalnya"jawab Zia kepada yang lain.
Setelah mengatakan hal itu ia merebahkan kepalanya diatas meja makan.
Lyn yang menyadari pergerakan Zia itu langsung secara spontan mengusap usap kepala adiknya itu lembut dengan tangan kirinya,hal ini berhasil membuat Zia sempat terlihat tersentak kaget.
"Capek?"tanya Lyn datar namun sorot matanya terdapat sedikit kekhawatiran.
"dikit kak"jawab Zia pelan,gadis itu terlihat mulai memejamkan matanya saat merasa nyaman atas usapan dikepalanya itu.
Callie,Liona,serta yang lain yang tak sengaja melihat interaksi kecil kedua orang itu langsung mengulum senyum masing masing.
Rey,Ren,dan Manda yang tak menyangka dibalik sifat dingin tak tersentuhnya Lyn,ternyata teman sejurusan mereka itu bisa menunjukkan sisi lembut seperti itu.
Callie yang merasa sangat senang melihat sang sahabat sudah bisa sedikit menunjukkan kepedualiannya kepada Zia,sedangkan Liona juga merasa senang karena sang kakak juga memiliki rasa peduli kepada adik mereka itu meskipun jujur didalam hatinya ada perasaan sedikit iri karena hampir tidak pernah mendapatkan perlakuan serupa dari sang kakak.
*Meskipun gue sedikit iri akan perlakuan kak Lyn ke Zia,tapi disisi lain gue juga senang ngeliatnya* batin Liona.