
Zia berjalan lunglai,lemah,dan lesu dibelakang Liona yang malah nampak kontras karena terlihat cerah dari ekpresinya,gimana enggak saudari Zia yang satu itu baru saja berhasil membuat adiknya mengeluarkan uang banyak untuk barang belanjaannya.
Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan kecupan dipipi kanan Zia adiknya,Liona langsung membawa barang belanjaannya kedalam kamar meninggalkan Zia yang menghela nafas berat sambil bersandar didinding tanda sangat kelelahan karena tenaganya terkuras habis menemani Liona keliling mall.
Pintu kamar kak Lyn terbuka dan keluarlah sang pemilik kamar dari dalam sana
"Sudah pulang?"tanya kakak ketiganya itu pada Zia.
"Sudah kak"jawab Zia seadanya,gadis itu benar benar sedang kelelahan.
"Jangan pernah paksakan diri mengikuti Liona dimall,kebiasaannya dan mama serta kak Gia bisa membuat kaki kita mati rasa"perkataan yang cukup panjang itu terdengar datar jika Lyn yang bicara.
"Peringatan kakak terlambat,aku sudah mengalaminya kini"ujar Zia,
kini gadis muda itu sudah duduk lesehan didepan pintu kamarnya.
Lyn menatap datar kearah adik bungsunya itu,namun jangan salah karena dibalik muka datar itu ada perasaan prihatin pada sang adik bungsu yang telah menjadi korban aktivitas belanja dari adiknya yang lain.
"Lain kali akanku ajak kamu ketempat yang pulangnya tak perlu merasa kelelahan seperti itu"ujar Lyn.
Zia yang mendengar perkataan kakak ketiganya itu langsung mengukir senyum diwajah lelahnya itu,bukankah maksud perkataan sang kakak barusan adalah berjanji akan mengajaknya pergi bersama.
"Ya,sana bersih bersih dan istirahat"saut kak Lyn,setelah itu kakak ketiga Zia itu langsung masuk kembali kedalam kamarnya.
Zia beranjak berdiri dari lantai, kalau gak salah kakaknya itu menjawab Ya tadi jadi itu artinya benar.Dengan senyuman yang semakin lebar,gadis muda itu masuk kedalam kamarnya dengan perasaan senang membayangkan jika benar suatu saat nanti sang kakak ketiga mengajaknya pergi menghabiskan waktu berdua.
Setelah bersih bersih dan berganti baju dengan pakaian santai,Zia langsung merebahkan diri diatas kasurnya yang empuk. YKaki,punggung,dan sendi sendinya yang terasa pegal langsung perlahan merileks setelah bersentuhan dengan empuknya kasur tempat tidur Zia itu bahkan gadis itu nyaris saja tertidur,namun dihentikan dengan kejadian tadi saat dirinya mengemudi mobil hendak pulang dari mall bersama Liona tadi.
Zia waktu itu tengah memegang setir kemudi mobilnya dengan santai namun mata tetap fokus kedepan, disebelahnya ada Liona saudarinya yang terkantuk kantuk mungkin karena kelelahan.Mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah selesai berbelanja dan berkeliling mall, namun ditengah tangah perjalanan itu Zia tiba tiba merasa pandangannya berbayang dan kepalanya juga mendenging.Beruntung sesaat setelah itu lampu berubah menjadi merah sehingga mobil dapat berhenti sejenak,Zia berusaha keras menetralisir pandangannya yang tiba berbayang dan kepalanya yang mendenging itu secepat mungkin sebelum Liona sadar ada yang tidak beres dengannya.Saat lampu berubah kembali menjadi hijau,gejala gejala tersebut sudah berkurang.Zia sengaja memelankan laju mobilnya sampai batas standar kecepatan diruas jalan itu,sebagai antisipasi jika gejalanya kumat kembali.
Zia memijat minat keningnya sendiri,
sebenarnya ini sudah ketiga kalinya gadis itu rasakan dalam selang dua hari terakhir ini.Pertama dan kedua terjadi saat ia tengah menyetir saat berangkat dan pulang sekolah,haih niatnya ingin beristirahat tapi malah selalu saja hal yang membuatnya was was dan pusing.
Nona muda keluarga Antara itu semakin khawatir tentang peringatan yang diberikan dokternya tadi siang,
kalau mungkin tubuhnya akan mulai menimbulkan gejala gejala yang tak terduga karena kondisinya yang waktu kewaktu menurun.Zia menggigit bibir bawahnya dan kedua tangannya saling menggenggam kuat serta keringat dingin yang mulai membasahi dirinya saking khawatir dan panik akan kondisinya sendiri,ia sedikit beruntung karena dianugrahi tubuh yang cukup kuat menopang penyakit didalam tubuhnya karena jika tidak bisa jadi ia sudah harus berbaring dirumah sakit sebagai pasien inap tetap.
*Gak ada pilihan lain,harus dipercepat.Baik atau buruk hasilnya nanti,waktu lo jelas makin menipis Zia*Suara batinnya terdengar jelas oleh Zia,gadis itu menatap kearah cermin besar dikamarnya.
"Akhir bahagia atau lebih menyakitkan dari yang sekarang"gumam Zia sambil menatap pantulan dirinya dicermin.