One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 300



Liona yang tengah sarapan terus memperhatikan kegiatan mamanya yang tengah sibuk dengan kotak bekal.


"Mama akan membawa itu kerumah sakit?"tanya Liona pada mamanya.


"Iya Lio sayang,mama akan membawa ini kerumah sakit"jawab sang mamam


"Kenapa harus repot repot sih ma, pihak rumah sakitkan juga sudah menyediakan makanan untuk pasien" ujar Gia siputri tertua bersuara.


"Adik bungsu kalian,sedikit rewel dan susah saat diminta untuk makan makanan rumah sakit.Contohnya kemarin jika tidak ada Lyn dan Neta sahabatnya,Zia menolak mentah mentah untuk makan"jelas sang papa,menjawab pertanyaan putrinya itu.


"Zia serewel itu?"tanya Arga agak tak percaya.


"Iya Arga.Papa dan mama kalian ini saja heran kenapa adik kalian yang biasanya bertingkah sangat dewasa malah sangat rewel saat sedang sakit"ujar sang papa.


"Huf...aku jadi ingin mengunjungi Zia,tapi pekerjaanku sedang tak bisa ditinggal"ujar Arga,anak pertama dikeluarga itu memang belum sempat menjenguk adik bungsunya lagi setelah pagi kemarin saat mengantar Zia kerumah sakit dengan yang lainnya.


"Bocah itu pasti mengerti,fokus saja pada pekerjaanmu Ga.Jangan jadi Lyn yang bahkan dari kemarin tak mau meninggalkan rumah sakit karena bocah itu"ujar Gia setengah acuh kepada kembarannya itu.


"Ah benar juga,Lyn benar benar menginap semalam ma pa?"tanya Arga kepada kedua orang tuanya.


"Iya,adik kamu semalam memang menginap dirumah sakit.Bahkan papa dan mama kalian juga berencana untuk menginap supaya Zia tak kesepian, tapi Zia malah memaksa kami untuk pulang saja dan tak usah menginap"jawab sang papa dengan sedikit tambahan penjelasan.


"Wah itu berarti hanya Zia hanya berdua dengan Lyn,ku harap si bungsu tidak membeku karena harus ditemani jelmaan kutub selatan.Aku gak bisa bayangin seberapa canggung dan boringnya Zia karena Lyn pasti akan hemat kata serta dingin seperti biasa"ujar Arga memasang wajah prihatin dengan nasib adik bungsunya yaitu Zia.


"Tidak juga menurutku"Gia bersuara membantah pendapat saudara kembarnya itu.


"Apa maksudmu tidak Gi?"tanya Arga.


"Apa kamu tak pernah memperhatikan dengan detail bagaimana adik kita yang satu itu Ga? Lyn memang selalu hemat hata,bersikap dingin,serta acuh kepada kita semua dan orang lain siapapun itu.Tapi itu gak pernah berlaku untuk bocah itu, terutama saat mereka hanya berdua"


"Jangan membual Gi,aku rasa Lyn selalu bersikap seperti biasa yang dia lakukan kepada kita jika dengan Zia.Kecuali saat kemarin Zia sakit,


tapi itu hal yang wajar.Kamu tadi berkata seolah olah Lyn memperlaku- kan Zia dengan sangat khusus dan berbeda dari kita diperlakukan olehnya"ujar Arga kepada Gia.


"Memang seperti itu kenyataannya Arga"ujar Gia.


"Berikan aku buktinya"Arga meminta bukti karena dirinya tak percaya dengan pendapat kembarannya itu.


"Apa Lyn pernah dengan sukarela bahkan memaksa salah satu dari kita yang duduk dimeja ini?"Gia.


"Liona?"Arga.


"Itu atas perintah dari papa,dan Lyn sering menolak untuk itu"Gia.


"Mungkin waktunya tak pas"Arga.


"Baiklah oke waktunya tak pas.Tapi masih ada hal istimewa lain yang dilakukan Lyn hanya kepada Zia.


Mereka menghabiskan waktu berdua ditaman belakang saat kita semua telah tidur,Lyn yang akhir akhir ini sering menginap dikamarnya Zia tanpa ada seorangpun diantara kita yang tau,Lyn yang menaruh selembar foto Zia didalam dompetnya,rela tak menghadiri kelas kuliahnya karena Zia.Dan bahkan semalam saat sebelum Zia sakit dimana mereka berdua pulang terlambat,Lyn dan Zia saat itu habis dari pantai berdua.Lyn melakukan semua itu hanya dengan Zia tidak dengan salah satu dari kita"Gia mengambil nafas sejenak karena hampir kehabisan nafas karena penjabaran panjang yang ia lontarkan.


"Didepan kita semua,kedua orang itu memang bersikap biasa seolah olah mereka tak dekat.Lyn dengan sikap dingin dan acuhnya,sedangkan Zia juga yang jarang memulai atau mengajak Lyn bicara terlebih dahulu.Tapi dibelakang kita,interaksi mereka berdua jauh lebih dekat dibanding saat mereka berinteraksi dengan kita semua yang ada dimeja makan ini"ujar Gia menutup penjabaran panjangnya,wanita karir muda itu beranjak dari tempatnya lalu meraih tas kerjanya bersiap untuk berangkat.


"Gia berangkat dulu.Jevan akan segera sampai untuk menjemput"pamit Gia kepada orang tua,kembaran,dan Liona adiknya.


Sepeninggal Gia dari sana,keempat orang yang tersisa dimeja makan itu terlihat terdiam berfikir dengan pikiran masing masing.Menelaah dengan sebaik mungkin dengan beberapa hal yang baru kini mereka ketahui.


Liona yang mungkin yang menjadi satu satunya orang diantara mereka yang tak begitu kaget atas pernyataan kakak perempuan pertamanya itu, alasannya karena Liona beberapa kali menyadari hal itu.