
"Suster Cahaya!"
Gadis itu memanggil orang yang di kenali itu,ia segera menghampiri sosok yang ia panggil itu.
"Eh nona Rena,selamat siang"sapa suter muda yang bernama cahaya itu dengan ramah.
"Suster lagi sibuk ya?"tanya si gadis yang ternyata adalah Rena.
"Seperti biasa nona,nona Rena sendiri kesini pasti mau ketemu sama bu dokter Linda kan?"tanya suster Cahaya kepada Rena,gadis SMA yang merupakan anak salah satu dokter sekaligus pemilik rumah sakit tempatnya bekerja itu.
"Iya suster,saya mau ketemu sama bunda"jawab Rena mengiyakan tebakan suster muda itu.
"Ooh,dokter Linda sekarang sepertinya ada diruangan beliau"ujar suster cahaya.
"Saya tau kok Sus,udah dibilang sama mbak mbak didepan tadi.Kalau begitu suster silahkan langsung lanjutkan pekerjaannya,saya mau ketemu bunda"ujar Rena kepada suster Cahaya.
"Baik nona,kalau begitu permisi"ucap Suster Cahaya beranjak dari sana pergi melanjutkan pekerjaannya yang sempat sedikit tertunda.
Setelah suster Cahaya pergi,Rena melanjutkan langkahnya menuju keruangan sang bunda yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri tadi saat mengobrol dengan suster Aya.
Tok...tok...tok...Rena mengetuk pintu ruangan bundanya.
"SIAPA?"tanya seseorang dari dalam runagan,itu pasti bundanya.
"RENA Bunda"jawab Rena menyebutkan namanya sedikit keras supaya bisa terdengar kedalam ruangan.
"Masuk Aja Sayang"pinta sang bunda dari dalam ruangan itu.
Kriet...Rena membuka pintu ruangan sang bunda dengan perlahan kemudian masuk kedalam.
"Ayo duduk disini"suruh sang bunda kepada Rena untuk duduk dikursi yang ada didepan,Rena tentu langsung mengikuti perkataan bundanya itu.
"Tumben kamu jam kesini udah nongol aja batang hidungnya dirumah sakit ini?mana masih pakai baju sekolah lagi,ini pulang sekolah langsung kesini nih?"tanya bundanya Rena, terkesan sedikit cerewet.
"Bunda,aku baru datang loh kok bunda udah cerewet aja sih"ujar Rena kepada bundanya.
"Kamu ini ya,masa bunda sendiri dibilang cerewet"ujar dokter Linda kepada sang putri.
"Itu kenyataan bunda,fakta no hoaks"
saut Rena.
"Enak aja!bunda ini punya image sebagai dokter yang ramah,baik hati,dan sangat telaten serta profesional loh dirumah sakit ini"ujar dokter Linda kepada putrinya itu.
"Itumah image bunda sebagai dokter aja,kalau sebagai ibunya Rena mah beda lagi.Udah cerewet,galak,suka nistain anak sendiri lagi"ujar Rena kepada bundanya.
"Gimana bunda gak suka nistain kamu,orang kamu sendiri sering nistain bunda"saut dokter Linda.
"Berarti itu gen warisan bunda,jadi bunda gak usah protes sering aku nistain"ujar Rena.
"Terserah kamulah nak,bunda pusing"ujar dokter Linda pasrah dengan tingkah anaknya.
"Ngomong-ngomong bunda lagi ngapain tadi?"tanya Rena
"Bunda lagi baca berkas pemeriksaan salah satu pasien bunda aja"jawab dokter Linda.
Mendengar jawaban sang bunda,Rena langsung melirik sebuah map yang terbuka menampilkan sebuah hasil pemeriksaan pasien.
"Tujuh belas tahun"gumam Rena, membaca keterangan umur pasien.
"Hus..jangan ngintip"ujar dokter Linda segera menutup map diatas meja kerjanya saat menyadari arah lirikan dan juga sebelum putrinya membaca lebih jauh.
"Ih bunda pelit banget sih,apa salahnya Rena baca coba?"protes Rena saat sang bunda langsung menutup map itu,padahal ia baru sempat membaca umur pasien.
"Gak boleh sayang,itu data pasien jadi gak boleh diperlihatkan keorang lain selain dokter atau pekerja yang berkaitan aja"jawab sang bunda.
"Tapikan aku anaknya bunda"ujar Rena.
"Tetap gak boleh anak bunda,kamu bukan dokter atau pekerja disini" ujar sang bunda.
"Yah.."ujar Rena kecewa.
"Eh tapi bunda,itu yang tadi Rena gak salah liat umur pasien bunda baru 17 tahun?masih tuaan Rena dong berarti"tanya Rena memastikan matanya tak salah lihat.
Usia pasien bunda yang berkasnya sempat kamu liat tadi emang baru tujuh belas tahun"jawab dokter Linda membenarkan.
"Buset,masih muda udah punya penyakit aja.Pasti hidupnya gak bener tuh"ujar Rena
"Hus...mulut kamu jangan ngomong gitu,pasien bunda yang ini itu malah anaknya baik banget tau.Bunda aja suka gak tega ngeliatnya"ujar dokter Linda menghentikan prasangka buruk putrinya kepada salah satu pasiennya.
"Emang penyakitnya apa Bun?"tanya Rena,entah kenapa ia semakin penasaran dengan pasien bundanya itu.
"Kanker darah"jawab dokter Linda.
"Ya ampun,kasian banget bun.Tapi pasti belum parahkan?pasien bunda itukan masih muda"tanya Rena lagi.
Dokter Linda menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan putrinya itu
"Malahan udah stadium akhir sayang"
Ujar wanita itu.
Rena langsung syok dong denger jawaban bundanya itu,spicles dia tuh
"Stadium akhir?"gumamnya pelan seakan masih kurang percaya.
Dokter Linda yang melihat reaksi putrinya itu tentu memaklumi hal itu
"Pasien mama itu seingat mama satu angkatan sekolah sama kamu,anaknya keliatan ceria banget setiap ketemu bunda bahkan saat setiap denger hasil pemeriksaannya setiap minggu.
Meskipun hasilnya gak pernah sesuai sama harapan"ujar dokter Linda menceritakan kepada putrinya tentang pasien muda yang baru kurang lebih tiga bulan ia tangani itu.
Ibu satu anak itu mengingat setiap senyuman dan raut wajah tenang dari sang pasien setiap menghadari chekUp rutin kepadanya.
"Satu angkatan sama aku?"tanya Rena
"Iya,bunda sempet tanya sama pasien bunda itu.Katanya sih dia anak kelas tiga SMA"jawab dokter Linda.
"Trus yang bikin bunda kagum tuh,anaknya berani banget nyimpan semuanya sendiri tanpa ada keluarga kandungnya yang tau soal penyakitnya"sambung dokter Linda.
"Anak sekolah mana Bun?"tanya Rena semakin penasaran.
"Hantara"jawab dokter Linda.
"Hah anak Hantara,siapa namanya bun?"tanya Rena,ia kaget mendengar nama sekolahnya disebut.
Mata dokter Linda terbelalak kaget, ia sadar kalau dirinya tanpa sadar sudah terlalu banyak membicarakan tentang sang pasien kepada putrinya.
"Ih bun kok diem aja sih,ayo jawab siapa namanya?"rengek Rena.
"Gak ada,bunda udah terlalu banyak ngasih tau kamu"tolak dokter Linda kepada Rena putrinya.
"Bunda mah gitu,bikin orang penasaran aja.Padahal tinggal sebut namanya aja loh siapa,biar Rena tau siapa Murid Hantara yang bunda maksud"ujar Rena berusaha membujuk bundanya supaya mau memberitahunya siapa.
"Gak itu privasi pasien"tolak dokter Linda.
"Bunda,ayo dong"rengek Rena
"Itu privasi pasien sayang,sana mendingan kamu gangguin ayah kamu aja sana dari pada ganggu bunda mulu"ujar dokter Linda kepada putrinya.
"Bunda gak seru banget sih,mending ketempatnya ayah aja.Rena pundung sama bunda"ujar Rena beranjak dari tempat duduknya.
"Dih,udah gede kok masih pundungan"
ledek dokter Linda
"Bodo"saut Rena langsung meninggalkan ruangan sang bunda.
"Untung gak keceplosan banyak,kalau sampaikan bisa gawat"gumam dokter Linda,ibu satu anak itu bersyukur dalam hatinya setelah putrinya keluar dari dalam ruangannya.
Wanita dewasa itu kembali membuka berkas data pasien yang tadi,ia menatap dengan lamat foto pasien yang tertera disana.
"Zia Antara,kamu gadis yang hebat"gumamnya pelan.