One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 260



Anna sekarang sedang berada didalam salah satu ruangan yang didominasi cat warna putih alias disebuah kamar rawat VIP pada salah satu rumah sakit besar,wanita muda itu duduk disofa sambil matanya terus mengawasi gadis remaja yang kini tengah tertidur karena pengaruh obat diatas tempat tidur pasien rumah sakit.Meski ini bukan pertama kalinya malah sudah sekian kalinya dan bahkan karena seringnya gadis yang tengah tertidur itu berakhir diruangan rawat maka Anna tak bisa menghitung jumlah pastinya lagi,


tapi yang jelas wanita muda itu selalu merasakan kekhawatiran yang besar akan kehilangan lagi.


Anna tau suatu saat nanti pikiran buruknya itu 99% akan jadi kenyataan namun ia selalu berdoa kepada tuhan akan datangnya sebuah keajaiban, sudah cukup dirinya kehilangan mama gadis remaja itu tidak dengan gadis remaja itu juga.Anna tak mau itu sampai terjadi,sangat tidak mau dan juga ia punya janji yang harus ia tepati.


Anna merasa heran pada takdir ya pada takdir,kenapa orang orang baik berhati tulus seperti Zia dan mamanya harus ditakdirkan memiliki kehidupan buruk.Ibu dan ana itu,hati mereka seperti malaikat namun takdir memberikan mereka orang orang dekat yang hampir semuanya punya sifat tak tahu diri dan sekaligus tak punya hati.Usia Anna memang tak jauh lebih tua dari sikembar Antara,namun apa yang dia ketahui tentang semua seluk beluk keluarga itu sangat jauh lebih banyak.Apanya keluarga bermartabat dan berhati emas?bagi Anna gelar yang diberikan masyarakat untuk keluarga Antara hanya gelar sampah yang tak berarti,sejujurnya Anna bahkan tak punya perasaan hormat sedikitpun keluarga itu.Bukan hormat tapi lebih kebenci.


Keluarga Antara,ada banyak kebusukan yang disembunyikan oleh keluarga itu yang bahkan kini sebagian besar penyandang nama besar itu tak tahu kebusukan yang tersembunyi dalam nama besar yang sangat bangga mereka sandang itu.Anna adalah saksi hidup dari dua korban kebusukan dan kemunafikan keluarga itu,Zia adik angkatnya dan Celine mama angkatnya.


Kedua orang itu adalah korbannya.


Menunggu sendirian didalam ruangan rawat itu membuat pikiran Anna semakin jauh dari tempatnya,pikiran wanita itu baru kembali ketempatnya setelah mendengar suara lemah adik angkatnya darj atas brangkar.


"Kak"


Anna langsung bangkit dari sofa tempatnya duduk dan melangkah mendekat ketempat tidur pasien, wanita itu memasang senyum templet dihadapan adik angkatnya itu.Itu karena Anna tahu kalau Zia tak suka jika ada seseorang yang sedih dan menatap kasihan kearahnya yang dalam kondisi tak berdaya.


"Kamu udah bangun dek?"ujar Kak Anna lembut kepada adik angkatnya itu.


"Hm"Zia berdehem dan mengangguk pelan mendengar perkataan kakak angkatnya itu.


"Ada yang sakit?"tanya kak Anna kembali.


"Kepalaku masih sedikit sakit dan berdenging"jawab Zia dengan suara parau.


"Kakak panggilkan dokter ya?"ujar kak Anna dan Zia menganggukka kepalanya pelan tanda setuju.


"Kondisi Zia sudah stabil,gejala yang Zia rasakan akan perlahan menghilang jadi bersabarlah"ujar Dokter Linda setelah selesai memeriksa kondisi pasien mudanya itu.


"Dokter"panggil Zia


"Iya ada apa Zia?"saut dokter Linda.


"Bagaimana kondisiku,apakah semakin parah?"mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Zia membuat dokter Linda sedikit menghela nafas berat.


"Pasti begitu ya"ujar Zia yang sudah mendapatkan jawaban akan pertanyaannya hanya dari melihat helaan nafas dokter yang menanganinya itu.


"Tidak Zia,sebaiknya kamu jangan memikirkan hal itu sekarang dan fokus pada kondisimu dahulu.Soal hasil pemeriksaan kondisi terbarumu nanti akan dokter bicarakan diruangan dokter bersama kakak angkatmu"ujar dokter Linda,namun Zia langsung menggelengkan kepala.


"Tidak beritahu disini saja,aku ingin mendengarnya juga"ujar Zia.


"Zia ja..."


"Aku tetap ingin mendengarnya"Zia memotong perkataan kakak angkatnya yang hendak membujuknya.


"Baiklah dokter,jelaskan disini saja"putus kak Anna pada akhirnya,


wanita muda itu tahu betul kalau sudah begini maka gadis remaja yang tengah terbaring lemah itu tak ingin dibantah sama sekali.


"Baiklah akan saya jelaskan disini,harap dengarkan baik baik"


Dokter Linda-pun setuju untuk menjelaskannya disana sesuai dengan keinginan yang paling muda diruangan itu.