
Zia sontak langsung menoleh dan menatap sahabatnya itu dengan muka syok
"Kok lo gak bilang sih?lagian emang gak ada tempat konsul yang lebih bagus gitu dari pada disini?"tanya Zia dengan muka cemberut.
"Gue kan udah bilang tadi,kalau kita bakal pergi salah satu tempat prakteknya kak Ilen.Dan tempat prakteknya itu disini kebetulan hari ini"jawab Neta.
"Tapi kok kesannya kayak orang gila sih,berobat ke RSJ kayak gini?"tanya Zia.
"Ini statemend masyarakat awam yang harus diluriskan,gak semua orang yang berobat ke RSJ itu disebut orang gila kali nona muda Antara. Itu mah kalau udah level maksimum aja,sedangkan gue maupun lo kan cuma strees aja.Bahkan lo juga baru kena gejala awal doang"jelas Neta kepada sang sahabat.
"Paham banget lo diliat liat"ujar Zia mengomentari perkataan Neta.
"Dikit,yaudah yuk masuk.Gak usah krbanyakan bacot lo"ajak Neta sambilĀ menarik salah satu pergelangan tangan sahabatnya itu untuk masuk kebagian dalam gedung rumah sakit khusus itu.
Zia mengikuti langkah Neta menelusuri lorong rumah sakit,kepalanya dan bola matanya tidak bisa diam karena sibuk melihat kesekitar.Ia kiri tempat itu akan sepi karena ini bukanlah rumah sakit umum biasa melainkan rumah sakit jiwa,tapi perkiraannya ternyata bertolak belakang dengan apa yang ia lihat ditempat itu.
*Buset,itu semua yang antri pasien sama calon pasien semua?"batin Zia terheran heran melihat cukup banyak orang yang antri dimeja resepsiaonis didepan koridor depan pintu masuk, bahkan bukan hanya disitu tapi didepan beberapa ruang praktik dokter juga terdapat beberapa orang yang antri dari beberapa kalangan usia.
Neta yang sejak tadi memerhatikan wajah cengo sahabatnya itupun langsung bicara dengan sedikit berbisik
"Gak usah heran gitu muka lo,didunia ini makin banyak orang yang stress jadi jangan heran rumah sakit ini rame"bisik Neya.
"Gimana gue gak kaget,gue kira tempat ginian bakal sepi.Eh taunya rame juga,ini mah gak jauh beda dari rumah sakit biasa"saut Zia ikut berbisik.
"Bener juga sih,eh btw ini ruangan tempat psikiater yang mau kita temuin dimana?"tanya Zia.
"Ruangannya kak Ilen ada dilantai dua"jawab Neta
"Lo mau naik lift apa tangga?"tanya gadis itu kepada Zia sang sahabat.
"Lah emang ada lift disini?keliatannya bangunan disini maksimal tiga lantai semua deh"bukannya menjawab tapi Zia malah bertanya balik.
"Adalah masa gak ada,emang lo pkir cuma mansion tempat tinggal keluarga besar lo aja ada lift?"saut Neta.
"Ya gak gitu juga,lagian gue cumananya doang disini emang ada liftnya.Itu doang,bukan bermaksud bilang kalau cuma ditempat tinggal gue sama keluarga gue doang yang ada liftnya"ujar Zia.
"Meski bangunan disini cuma ada tiga lantai yang paling tinggi,tapi disini itu disediain lift.Pasien atau calon pasien yang datang kesini buat kontrol atau pengobatankan bukan cuma anak muda kayak kita doang tapi ada orang oang yang udah jompo juga,makanya disedian lift biar gak capek orang yang mau naik kelantai atas"jelas Neta.
"Jadi gimana,mau naik lift apa tangga nih?"tanya Neta mengulangi pertanyaannya yang tadi.
"Naik lift ajalah biar gak capek" pilih Zia.
"Nah pilihan yang bagus"ujar Neta.
Keduanya berhenti didepan pintu masuk lift,tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunggu pintu lift terbuka.Keduanya masuk kedalam lift, Neta langsung menekan tombol no.2 sesuai dengan angka lantai tujuannya dengan Zia yaitu lantai 2.