One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 173



Gia berusaha menanyakan apa yang terjadi pada sang saudari namun tidak ada jawaban,menyadari Zia semakin kesakitan makanya Gia refleks membawa gadis itu kedalam pelukannya guna menyalurkan ketenangan.Dan benar saja baru beberapa saat tapi Zia sudah tertidur lelap dan rasa sakit yang tadi terlihat dialami gadis itu juga berkurang,hanya terdengar sesekali suara ringisan halus menahan rasa sakit saja.


~Pagi~


Matahari sudah kembali pada tugasnya semula yaitu menerangi sang bumi dengan sinarnya,meski begitu dua insan bersaudari masih terlihat terlelap diatas kasur tempat tidur milik gadis yang lebih muda.


Beberapa saat kemudian kedua kelopak mata insan yang lebih tua mulai terbuka dan lensa bola mata mulai menajam menelusuri tempatnya berada saat ini yang menurutnya sedikit asing,seperkian detik kemudian insan yang lebih tua itu akhirnya sadar dan ingat kalau dirinya semalam memang tidur disini karena suatu hal.


Gia,insan yang lebih tua itu kini sedikit menggerakkan kepalanya mengintip wajah gadis muda yang masih berada dalam pelukannya persis seperti semalam,meski pelukan itu memang sudah melonggar sehingga ia kini bisa dengan cukup leluasa melihat wajah gadis yang berstatus saudarinya itu.


Pucat


Satu kata yang tepat menggambarkan wajah Zia yang masih tertidur itu saat ini,Gia tanpa sadar memandangi wajah pucat dan polos saudarinya itu dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya ia sadar apa yang tengah ia lakukan saat ini.


*Tunggu,kenapa aku mau saja memeluk bocah pengganggu ini semalam*batin Gia tersadar.


Dengan gerakan cepat Gia langsung melepaskan pelukannya dari saudarinya itu dan langsung beranjak menyingkir dari atas tempat tidur kemudian dengan cepat pergi meninggalkan kamar itu.


Kriet...brak..suara pintu kamar dibuka kemudian ditutup kembali.


Sesaat kemudian kelopak mata gadis muda yang tadinya masih tertidur diatas tempat tidur perlahan terbuka dan langsung menatap kearah pintu dengan lamat,gadis itu bergerak duduk dengan pandangan masih mengarah pada pintu yang baru saja tertutup itu.Kedua sudut bibir Zia tertarik keatas sehingga menciptakan senyuman manis


*Meskipun gue tau kalau kak Gia pasti nyesel udah mau meluk gue kemarin malam,tapi gue seneng. Seenggaknya gue bisa ngerasain pelukan hangat saudari tertua gue itu meski sekali*ujar Zia dalam batinnya.


Zia beranjak dari atas tempat tidurnya lalu langsung berjalan kedalam kamar mandi,ia harus mandi dan bersiap siap pergi sekolah.


~Meja makan~


"Pagi semuanya"sapa Zia dengan sebuah senyuman hangat kepada semua keluarganya yang berada dimeja makan.


"Pagi juga sayang"balas papa dan maminya.


"Mama kira kamu sudah berangkat dek, soalnya yang lain sudah sarapan setengah jalan"ujar sang mami.


"Belum mi,Zia tadi rada telat bangunnya dikit"saut Zia.


Meski dimeja makan sudah tersedia nasi goreng untuk sarapan dan beberapa menu lainnya sebagai pelengkap sarapan,namun Zia tidak memakan itu untuk sarapan.Ia lebih memilih sarapan dengan buah segar yang sudah dipotong potong didalam mangkok oleh bik Muti,Zia sarapan dengan itu dan ditambah segelas susu sebagai pelengkap.


"Kamu bergadangkah semalam,sampai sampai telat bangun?"tanya sang papa kepada Zia.


"Ya begitulah pa,Zia punya sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan semalam jadi terpaksa harus bergadang"jawab Zia dengan sedikit penjelasan.


"Jangan terlalu sering bergadang dek,kamu masih anak sekolah loh. Apalagi sekarang kalian masih dalam minggu ujian"ujar Arga sang kakak tertua menasehati Zia.


"Iya kak"saut Zia seadanya.


Gia sejak tadi diam mendengarkan percakapan itu,dengan sembunyi sembunyi wanita muda itu mulai menelisik bagian wajah terutama bibir saudari termudanya itu.Ia bisa melihat kalau Zia menggunakan MakeUp tipis dan juga liptin berwarna pink alami.


*Pantas saja wajah dan bibirnya tidak terlihat pucat sama sekali padahal tadi pagi jelas terlihat pucat,bocah itu memakai MakeUp ternyata*batin Gia.Namun seperkian detik kemudian ia terlihat refleks menggelengkan kepalanya.


*Tunggu!kenapa gue kayak terkesan peduli sama tu bocah,Big No tentu gak bakal terjadi*batin wanita muda itu lagi.


"Kamu kenapa Gi,geleng geleng kepala kayak orang kesambet gitu"suara Arga kembarannya menyadarkannya.


"Gak kenapa napa kok,kalau begitu Gia pamit duluan ya Pa Ma.Jangan lupa rencana makan malam nanti malam"ujar Gi,setelah itu wanita muda itu langsung bergegas meninggalkan meja makan tanpa menghiraukan tatapan heran hampir semua anggota keluarganya.


"Kak Gia kenapa dah?"tanya Liona bersuara.


"Mungkin kakak kamu lagi buru buru kali"jawab sang mama.