The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 97 - Naga hitam



Penkanor seketika meluncur ke arah Raquille setelah mendengar ucapan dari pemuda Elfman itu.


“Supreme deity aura… Deadly hell storm…” Saat mendekati Raquille, Penkanor sontak melancarkan sebuah serangan proyeksi energi merahnya.


Raquille yang sebelumnya hanya mencoba untuk menangkis serangan dari Venerate Geracie tersebut, kini dengan sigap melompat menghindari serangan dari Penkanor.


“Shadaow core…” Raquille yang melayang di atas pria itu mengeluarkan sebuah kepungan asap berwarna hitam dari salah satu tangannya.


“Akh…!” Pemuda itu langsung mendorong Penkanor ke bawah hingga menghantam tanah dengan kerasnya.


Kepungan asap hitam yang keluar dari tangan Raquille semakin membesar sampai kemudian melahap kedua orang itu.


***


Ketika asap hitam itu perlahan-lahan menghilang, Penkanor tampak terkejut melihat dia kini telah berada sebuah lembah yang luas ditutupi oleh kabut pada permukaannya.


Tempat mereka berada tersebut merupakan tempat yang sama seperti saat Raquille menjebak Plutone, salah satu Venerate dari negeri Gimoscha.


“Dimana ini?” Sambil melihat-lihat ke sekitaran, pria itu menjadi kebingungan berada di tempat tersebut, yang belum pernah diketahui sebelumnya.


“Selamat datang di alam bayangan… Dimana dunia nyata terhubung ke tempat ini melewati refleksi bayangan.” Raquille menjelaskan tempat tersebut kepada Penkanor dengan ekspresi menyeringai.


Tak lama setelah itu, beberapa makhluk hitam pekat dengan tinggi lebih dari lima meter dan sorot mata merah datang mengepung pria Geracie itu.


“Oh maaf, aku juga ingin mengatakan bahwa penghuni di tempat ini selalu tidak ramah dengan pendatang baru,” ucap Raquille.


“God aura… Superior slash…” Pria Geracie itu melompat dan menyerang salah satu dari mereka dengan serangan proyeksi tebasannya.


Sontak salah satu dari makhluk hitam yang lain langsung menyerang pria itu hingga terhempas.


Penkanor yang terkapar akibat mendapatkan serangan dengan cepat berdiri kembali. Dia kemudian meningkatkan kekuatannya sehingga tubuhnya kini memancarkan energi merah tanpa henti.


“Groaarrr…!” Tiba-tiba terdengar sebuah raungan yang sangat keras.


Hal itu membuat semua makhluk hitam yang berada di tempat itu seketika langsung melarikan diri.


Ekspresi dari Raquille juga seketika berubah menjadi khawatir ketika mendengar raungan tersebut.


“Makhluk suci…” Betapa terkejutnya Penkanor melihat seekor naga bersisik hitam dan sorot mata merah yang tajam, mendarat tepat dihadapannya.


Naga hitam tersebut sejenak menatap pria Geracie itu, namun kemudian berbalik menatap Raquille yang berada dibelakangnya.


Melihat naga tersebut menatapnya, Raquille pun menjadi tegang hingga tidak bisa berkata apa-apa.


“Beberapa hari yang lalu aku merasakan hawa keberadaanmu di tempat ini… Aku berpikir kau sudah mati setelah tidak muncul selama sepuluh tahun terakhir,” ucap makhluk tersebut dengan suara yang menggema.


“Tuan Xadrom, sebenarnya saat kejadian itu aku telah melompati waktu sepuluh tahun ke masa depan,” ucap Raquille menjelaskan mengapa dia telah menghilang selama sepuluh tahun lamanya.


“Melompati waktu katamu?”


“Iya, aku juga tidak tahu dengan pasti, tapi yang jelas aku hanya merasakan telah hilang selama beberapa hari saja.”


Penkanor menjadi rishi mendengar pembicaraan antara Raquille dan seekor naga tersebut. Dia menganggap bahwa pemuda Elfman tersebut bersama dengan naga itu tidak menganggap keberadaannya.


“Ukh…” Penkanor pun kemudian melancarkan serangan proyeksinya, yang membuat naga tersebut menoleh kembali ke arahnya.


“Hei, jika ingin melanjutkan perbincangan kalian setidaknya keluarkan aku dulu dari tempat ini,” ucap Penkanor dengan tatapan yang tajam.


“Hmph… Jadi kau mau keluar dari tempat ini yah?” Balas naga hitam tersebut.


“Kalau begitu buat aku terkesan dulu…” Lanjut makhluk itu berkata.


Pria Geracie kemudian meluncur lebih dekat ke arah naga tersebut hendak melancarkan serangannya.


***


Kembali ke kota Dupstepa, dimana pasukan Venerate kubuh barat masih berusaha mengalahkan pasukan Geracie.


Pada salah satu pertarungan, terlihat Zero berulang kali melancarkan serangannya pada Chrolexius, namun masih belum cukup untuk bisa membuat pemimpin negeri Geracie itu tersudut.


Serangan yang dilancarkan Zero yang sebenarnya merupakan serangan tingkat tinggi tersebut dengan mudah dapat dihindari serta ditepis oleh Chrolexius. Ditambah dengan proyeksi energi emas yang melapisi tubuh dari pria Geracie itu, membuat pertahanannya menjadi lebih kokoh.


“Sial, aku harus meminjam kekuatan itu lagi…” Ucap Zero.


Pria itu kemudian mengangkat salah satu tangannya ke atas, yang sedang memegang sebuah kapak.


Tiba-tiba suara gemuruh yang keras serta pancaran petir yang menyilaukan muncul dari langit, sampai membuat orang-orang di sekitar kota tersebut sejenak menghentikan pertarungan mereka karena terkejut dengan hal tersebut.


Petir itu lalu meluncur ke bawah hingga menyambar Zero. Tak lama setelahnya, kedua mata dari pria Calferland itu memancarkan cahaya biru yang cukup terang, serta percikan petir hampir diseluruh tubuhnya.


“Ekdosi…? Kurasa bukan, sepertinya kau adalah pengguna dari kekuatan makhluk suci…” Ucap Chrolexius.


“Kalau begitu, aku mau melihat seberapa kuat kekuatan pemberian itu…” Chrolexius memadatkan pancaran energi emas yang memancar dari tubuhnya menjadi berbentuk sebuah zirah dan kemudian membentuknya juga menjadi sebuah tombak kapak.


Ketika mendengar ucapan dari pemimpin negeri Geracie itu, Zero dalam sekejap menghilang dari tempatnya berdiri, sehingga membuat Chrolexius pun langsung terkejut.


*


“Cepat sekali…” Ucap pria itu dalam hati.


**


Tanpa Chrolexius sadari, Zero kini telah berada di belakangnya hendak melancarkan sebuah serangan.


“Breaker lightning… Twin axes lightning slash…”


Zero mengayunkan kedua kapaknya mengikis zirah proyeksi emas dari Chrolexius, menciptakan pantulan elemen petir yang cukup besar yang langsung menyambar bangunan-bangunan di dekatnya hingga hancur.


Pertahanan dari zirah proyeksi yang kokoh tersebut seketika hancur oleh serangan tebasan Zero, hingga membuat Chrolexius sontak terhempas ke jarak yang jauh sambil menabrak bangunan-bangunan yang berada di depannya.


Tidak sampai disitu saja, Zero dalam sekejap kembali bergerak dan muncul di dekat Chrolexius yang sedang terkapar.


“Breaker storm… Black death tornado…” Pria Calferland itu langsung menciptakan sebuah pusaran angin raksasa sehingga menerbangkan Chrolexius ke udara.


Hal itu juga sontak kembali mencuri perhatian dari para Venerate yang sedang bertarung, saat melihat sebuah pusaran angin yang besar menjulang tinggi ke udara.


“Akh…!” Chrolexius yang terbawah terbang berputar-putar oleh pusaran angin raksasa tersebut seketika juga tercabik-cabik oleh sambaran petir yang berada di dalamnya.


Hingga saat pusaran angin tersebut lenyap, pria Geracie itu pun meluncur ke bawah menghantam permukaan dengan keras.


“Haah…” Zero membuang nafas, merasa lega melihat pemimpin negeri Geracie itu akhirnya telah terkapar tak berdaya.


“Apa…?” Akan tetapi ekspresinya dalam sekejap berubah drastis ketika melihat Chrolexius ternyata masih bisa berdiri kembali.


Dengan ekspresi wajah yang kesal setelah menerima serangan dari Zero, Chrolexius kemudian meningkatkan kekuatannya hingga kedua matanya memancarkan sinar cahaya emas.


Tanpa pikir panjang, Zero kembali meluncur ke arah Chrolexius hendak melancarkan serangannya kembali.


“I defteri ekdosi… Misorus the lord of sky…”


Setelah mengucapkan kata untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua, seketika pancaran proyeksi energi emas terpancar dari tubuh Chrolexius, membuat Zero yang meluncur mendekatinya pun sontak langsung terhempas.