
Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah cincin yang terbentuk dari sebuah batu kristal yang dapat memancarkan sebuah pijaran cahaya yang cukup terang. Raquille dan yang lain merasa senang bisa mendapatkan salah satu dari ketiga belas harta karun itu sampai harus membuat mereka memasuki dua ruang spasial secara berturut-turut dan mendapatkan sedikit masalah.
“Akhirnya kita mendapatkan cincin ini,” ucap Raquille sambil mengambil cincin tersebut dari dalam kotak lalu memperhatikannya.
Raquille kemudian kembal menaruh cincin tersebut ke dalam kotak, lalu menutupnya dan menggunakan kekuatan sihir ruang miliknya untuk menyimpan ke dalam sebuah ruang spasial yang mampu diakses olehnya.
“Kakak, kenapa kau menyimpannya, padahal aku ingin mencoba memakai cincin yang indah itu?” Ucap anhilde, merasa kecewa ketika pemuda Elfman itu menyimpan cincin tersebut tanpa harus membiarkan perempuan itu untuk mencobanya terlebih dahulu.
“Hei Anhilde… Lebih baik tidak ada satupun diantara kita yang memakai cincin ini, karena aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk nantinya, karena aku seperti merasakan firasat yang buruk ketika memegang cincin itu.” Raquille lantas menjelaskan kepada perempuan itu bahwa lebih baik dirinya atau mereka semua tidak perlu untuk menggunakan benda tersebut.
Walaupun keceewa mendengarkan penjelasan dari pemuda Elfman itu, namun Anhilde hanya bisa menyetujuinya, dan terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk menggunakan cincin tersebut.
“Baiklah… Kita sudah mendapatkan ciincin yang itu kan… Jadi, bagaimana kita keluar dari tempat ini?” Tanya Arn.
“Hmph… Aku rasa ini adalah intinya. Perdana menteri Brizora itu mengatakan bahwa orang-orang yang datang atau masuk ke tempat ini sulit untuk keluar... Karena memang kenyataannya seperti itu, mereka tidak cara yang jelas untuk bisa keluar dari ruang spasial ini…” Jawab Raquille, menjelaskan kepada semuanya.
“Kita yang sudah masuk ke tempat ini tidak akan bisa lagi keluar dari benda itu,” lanjut pemuda Elfman itu berkata.
“Jadi, bagaimana caranya kita bisa keluar? Bukankah para Venerate Brizora mengatakan bahwa sudah beberapa kali para Venerate dari Ierua mengumpulkan ketiga belas harta karun?” Tanya Haltryg, penasaran.
“Kemungkinan mereka memiliki kemampuan untuk berpindah dimensi… Mereka yang masuk ke tempat ini kemungkinan adalah para Venerate tingkat atas yang memiliki kemampuan untuk mengakses dimensi yang lain,” sambung Hyphilia, menjelaskan kepada semuanya.
“Kalau begitu, sekarang ayo masuk ke dalam ruang spasial, tempat penyimpanan senjata suci milikku saja,” ucap Haltryg.
“Percuma saja jika kita semua masuk ke dalam ruang spasial milikmu, milikku, atau bahkan milik Raquille… Kita tetap akan muncul kembali ke dalam ruang spasial ini,” balas Hyphilia.
“Setidaknya salah satu diantara kita harus memiliki kemampuan untuk mengakses sebuah dimensi lain ataupun sebuah portal,” lanjut Elfman perempuan tersebut.
“Kalau begitu, bagaimana cara kita untuk bisa keluar dari tempat ini?” Tanya Haltryg, mulai putus asa karena hal tersebut percuma saja untuk dilakukan.
“Jangan khawatir, aku memiliki kemampuan seperti itu,” jawab Raquille.
Pemuda Elfman itu kemudian berkonsentrasi membayangkan sebuah tempat sebelum mereka masuk ke dalam ruang spasial pada bola kristal yang pertama.
“Gold instrict…” Ketika mengangkat salah satu tangannya ke depan, Raquille seketika menciptakan sebuah portal yang cukup besar, muncul di depannya.
“Ayo kita pergi…”
****
Raquille dan para Venerate Blueland, masuk ke dalam portal tersebut, dan tiba-tiba muncul di depan kastil tua, tempat mereka pertama kali mendarat.
“Akhirnya kita bisa keluar…” Ucap Asulf, tampaj senang bisa keluar dari ruang spasial, tempat mereka masuk sebelumnya.
“Raquille, kemana kita akan pergi sekarang?” Tanya Hyphilia mengenai lokasi dari salah satu ketiga belas harta karun yang akan mereka cari selanjutnya.
“Sesuai dari arahan mereka, kita akan mencari beberapa harta karun di bagian utara Brizora… Untuk sekarang kita akan menuju ke daerah Kepulauan Utara negeri Brizora… Setelah dari sana kita akan menuju ke wilayah paling utara dari negeri ini, yaitu kepulauan Rafoe,” jawab Raquille.
“Baiklah, tidak usah membuang waktu lagi… Lebih baik kita segera berangkat ke tempat selanjutnya,” respon Hyphilia.
Sebelum mereka terbang, Asulf dan Anhilde mengakses energi sihir mereka untuk memproyeksikannya menjadi sepasang sayap. Akan tetapi, tinggal Arn saja yang belum kunjung melakukannya karena sedang memikirkan sesuatu.
“Arn...” Panggil Raquille, namun pria itu tidak menjawabnya.
“Arn…”
“Eh… iya…” Mendengar panggilan Raquille yang kedua, pria itu sontak langsung menjawab.
“Ada apa dengamu Arn?” Tanya Raquille.
“Eh, tidak apa-apa… Aku hanya sedikit memikirkan sesuatu,” jawab pria itu.
Arn yang sebelumnya tidak mendengar tentang pembicaraan mereka yang akan melanjutkan perjalanan untuk mengumpulkan ketiga belas harta karun selanjutnya, sebenarnya sedang memikirkan tentang sesuatu, yang tidak lain merupakan Elfman perempuan bernama Freynille, yang pernah memiliki hubungan dekat bersamanya. Entah kenapa saat sebelumnya melihat sosok menyerupai Elfman perempuan bernama Freynille itu, kerinduan Arn pun menjadi lantas semakin besar untuk menemui Elfman tersebut.
Akan tetapi, pria itu tahu bahwa keinginannya tersebut tidak bisa tercapai dikarenakan dirinya telah kehilangan perempuan bernama Freynille itu sudah sejak lama.
Tidak mau terlalu lama berpikir, Arn pun mengakses kekuatan sihirnya untuk menciptakan sepasang sayap proyeksi, sama seperti kedua saudaranya.
Setelah semuanya siap, para Venerate negeri Blueland itu kemudian terbang ke langit dengan kecepatan tinggi menuju ke daerah Kepulauan Utara Brizora, tempat harta karun selanjutnya berada.
***
Berpindah ke kota Nublid, yang merupakan ibukota dari negeri Ierua, tampak di sebuah kastil seorang prajurit datang memasuki sebuah ruangan menemui perdana menteri negeri tersebut, yang tidak lain adalah Cadhan.
“Maaf mengganggu tuan Cadhan, tapi informasi ini sangat penting,” ucap prajurit tersebut.
“Apa informasi yang ingin kau katakan?” Tanya perdana menteri Ierua itu.
“Ini aneh… Pasukan kita yang masuk ke wilayah Brizora untuk mengumpulkan ketiga belas harta karun yang berada disana, sudah didahului oleh para Venerate dari negeri tersebut…” Jawab prajurit itu.
“Sepertinya mereka ingin bersaing dengan kita mengumpulkan ketiga belas harta karun itu,” lanjut prajurit tersebut menjelaskan.
Cadhan pun terkejut serta merasa heran mengenai pernyataan dari prajurit tersebut. Dia tidak menyangka bahwa para Venerate Brizora juga ingin mengumpulkan ketiga belas harta karun tersebut, yang padahal setahunya para Venerate negeri tersebut hanya merasa risih jika pasukan Ierua masuk dengan sembarangan ke wilayah mereka mencari tanpa harus memperdulikan tujuan utama mereka.
*
“Untuk apa mereka ingin mengumpulkan ketiga belas harta karun itu?” Dalam benaknya, perdana menteri Ierua itu pun bertanya-tanya sebenarnya apa tujuan dari negeri Brizora ingin bersaing dengan mereka mengumpulkan ketiga belas harta karun tersebut.