
“Hei kawan, kau sudah tumbuh dewasa sekarang...” Ucap Raquille sambil menghampiri pria itu.
“Lihat kau… Ternyata kau hampir mengimbangi tinggiku.” Raquille pun kemudian membandingkan tinggi badannya bersama pria itu, yang diketahuinya sejak terakhir kali bertemu dengan pria bernama Arn tersebut, dia tidak setinggi yang pemuda Elfman itu kira.
“Hei…” Tiba-tiba pria itu langsung mengayunkan tombaknya ke wajah Raquille, hingga membuat pemuda Elfman itu dengan refleks langsung menghindarinya.
Belum selesai, pria bernama Arn tersebut lantas mengacungkan tombak ke depan, membuat Raquille seketika langsung melompat ke belakang untuk menghindarinya.
Pria itu melapisi tombak tersebut menggunakan proyeksi energinya kemudian maju mendekati Raquille dan langsung melancarkan beberapa serangan dengan cepatnya.
“Arn… Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?” Tanya Raquille, nampak terkejut sambil menghindari setiap serangan yang dilancarkan pria itu kepadanya.
Begitu juga dengan Hyphilia yang terkejut, tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba menyerang Raquille, padahal yang diketahuinya bahwa pria tersebut sangat dekat dengan pemuda Elfman itu.
“Arn… Sialan kau…” Umpat Raquille kini merasa kesal pria itu terus bersikeras menyerangnya, walaupun dengan mudah pemuda Elfman itu dapat menghindari ayunan serangan pria tersebut.
“Hei cukup leluconmu Arn…” Tiba-tiba Raquille menahan tombak dari pria itu sambil menunjukan ekspresi yang serius.
Akan tetapi, pria bernama Arn tersebut dengan kuat menggerakkan tombaknya hingga pegangan Raquille pun langsung terlepas.
“Blitzzauber… Lightning stab…” Pria kemudian melancarkan serangan elemen petir, yang ternyata mirip seperti teknik sihir yang digunakan oleh Raquille serta para ras Elfman.
“Abwehrzauber… Eldritch shield…” Dengan sigap, Raquille langsung menciptakan sebuah perisai dari energi sihirnya untuk menangkis serangan yang dilancarkan oleh pria itu.
Dalam waktu yang lama serangan elemen petir tersebut berlangsung, namun tidak kunjung bisa menghancurkan perisai proyeksi yang diciptakan oleh Raquille.
“Blitzzauber…” Merasa muak dengan kelakuan pria itu yang tidak dipahami oleh Raquille, pemuda Elfman itu seketika menonaktifkan perisai proyeksinya dan dalam sekejap langsung melancarkan serangan elemen petir.
“Akh…” Dengan sekejap Raquille melewati Arn dan tiba-tiba sebuah pancaran elemen petir diterima oleh pria itu, hingga membuatnya jatuh berlutut.
Pria itu pun tidak lagi menyerang Raquille karena terkejut dengan serangan pemuda Elfman itu yang mampu membuat tubuhnya menjadi kaku.
“Hahaha… Ternyata kemampuanmu sama seperti dulu kakak… Mana mungkin bisa aku mengalahkanmu walaupun kini aku telah menjadi Land Venerate,” ucap pria bernama Arn itu sambil tertawa.
“Hei bocah tengik… Apa seperti ini cara kau menyambut kedatanganku,” ucap Raquille, sedikit membentak pria itu sambil berjalan menghampirinya kembali.
“Aku hanya kesal saja ketika mendengar bahwa kau menjadi pahlawan utama di perang Greune sebelumnya… Jika kau telah kembali, setidaknya temui aku lebih dulu kakak,” lanjut pria itu berkata kemudian tersenyum kepada Raquille, karena sebenarnya dia merasa senang bisa melihat pemuda Elfman itu.
“Dasar kau… Kukira kau benar-benar ingin menyerangku,” respon Raquille, tersenyum balik ke arah Arn, karena mengetahui bahwa pertarungan mereka sebelumnya tidaklah serius.
“Senang melihatmu kembali kakak.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang berbicara dari belakang.
Ketika Raquille menoleh, dia sontak melihat seorang pria dan seorang perempuan yang memiliki wajah sangat mirip dengan Arn. Raquille pun lantas tersenyum merasa senang saat melihat mereka.
Anhilde dan Asulf yang dipanggil oleh Raquille kemudian berlari ke arah pemuda Elfman itu dan langsung memeluknya secara bersamaan.
“Kakak, sama sekali tidak berubah sejak sepuluh tahun yang lalu,” ucap sang pria bernama Asulf.
“Dia kan adalah Elfman jadi tidak mungkin bisa menua dengan cepat,” sambung sang perempuan bernama Anhilde.
“Walaupun penampilanku tidak terlihat berubah, tapi kalian terlihat berubah… aku tidak menyangka bisa melihat kalian tumbuh dewasa,” ucap Raquille, nampak senang serta bangga ketika kembali melihat kedua orang itu.
“Oh, ternyata kakak Hyphilia juga datang kemari…” Ucap Asulf merasa senang juga ketika melihat Hyphilia, dan sontak langsung berlari ke arah Elfman perempuan itu bersama dengan Anhlide.
“Lama tak berjumpa kakak… Ekh…” Ketika pria bernama Asulf tersebut hendak ingin memeluk Hyphilia, dia lantas langsung dihentikan oleh Elfman perempuan itu sendiri.
Hyphilia menahan kepala pria itu dengan menggunakan tangannya, yang sekuat apapun pria itu mencoba, dia tidak bisa menandingi kekuatan dorongan tangan dari Elfman perempuan itu.
“Minggir kau…” Disaat yang bersamaan, Anhlide pun langsung mendorong Asulf menyingkir dari hadapan Hyphilia.
“Lama tak berjumpa kakak,” ucap Anhilde kemudian memeluk Hyphilia.
**
“Selamat datang tuan muda Raquille… Serta tuan putri Hyphilia, senang dengan kalian… Khususnya anda tuan muda, karena sudah lama tidak berjumpa.” Tak berapa lama, terlihat seorang pria lain keluar dari dalam kastil bersama dengan seorang wanita dan langsung menyapa Raquille serta Hyphilia.
“Paman Steinolf… Bibi Galehid… Senang bertemu dengan kalian,” respon Raquille menyapa balik kedua orang itu sambil tersenyum ke arah mereka.
Pria bernama Steinolf itu sendiri merupakan salah satu World Venerate Blueland yang memiliki gelar serta menjabat sebagai komisaris tinggi wilayah Whiteland atau pemimpin dari wilayah bagian dari negeri Blueland tersebut. Sedangkan untuk wanita bernama Galehid yang berada disampingnya tersebut merupakan istrinya yang juga menjadi salah satu Venerate terkuat Blueland dalam tingkat Continent Venerate.
Sementara untuk Arn, Anhilde dan Asulf adalah tiga saudara kembar dari anak-anak dua Venerate tingkat tinggi tersebut, dimana hubungan mereka bersama dengan Raquille sendiri telah layaknya seperti seorang saudara sejak kecil.
Ketiga saudara kembar tersebut sedari dulu memang sangat mengagumi Raquille sampai-sampai membuat mereka dengan sendirinya menganggap Raquille sebagai saudara mereka. Awalnya Raquille sempat menolak pernyataan tersebut, namun lama-kelamaan pemuda Elfman itu menerimanya untuk menganggap mereka sebagai saudara karena melihat bahwa mereka tidak menganggap berbeda walaupun merupakan salah satu ras keturunan campuran.
“Apa tuan muda serta tuan putri datang berkunjung kemari untuk berlibur?” Tanya Steinolf, melihat bahwa kedua Elfman itu datang bersama-sama tanpa prajurit Elfman yang lain.
“Tentu saja tidak paman… Kau pasti sudah mengira mengapa aku datang tiba-tiba setelah pulang ke Blueland,” jawab Raquille.
“Haah… Ternyata kau juga sudah mengetahui bagaimana keadaan dari pulau ini yah…” Ucap Raquille.
“Aku bahkan sudah mengetahuinya sebelum kembali ke Blueland… Jika kita tidak segera mengusir para penjajah itu, maka hal tersebut akan mengancam negeri kita,” balas Raquille.
“Kurasa kau benar… Kalau begitu, untuk terlebih dahulu mari kita masuk terlebih dahulu dan membicarakan hal ini lebih panjang di dalam,” ucap Steinolf, menyuruh Raquille dan Hyphilia untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.
Kedua Elfman itu kemudian mengikuti Steinolf masuk ke dalam kastil bersama dengan Galehid serta ketiga kembar.