
“Pavonas…” Arn lantas terkejut terkejut serta bertanya-tanya melihat pesawat yang berada di langit pulau Whiteland, dan sedang menuju ke kota Keyvarjik berasal dari negeri Pavonas dengan melihat lambang burung merak yang berada di badan pesawat tersebut.
Arn pun langsung mengakses kembali sepasang sayap dari proyeksi energi sihirnya kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi mendahului pesawat tersebut, tanpa memusingkan lagi pancaran energi yang sebelumnya sempat dilihat olehnya.
***
Kembali ke kota Nuku, tepatnya di dalam kastil utama, dimana Raquille telah selesai mengakses kekuatan dari tongkat sihir senjata sucinya untuk menemukan keberadaan dari senjata suci yang mirip, sambil kembali membuka kedua matanya.
“Keberadaan tongkat sihir itu telah menghilang…” Ucap Raquille.
“Raquille… Kenapa kau merasakan tongkat sihir Augermil yang satunya berada di pulau Whiteland?” Tanya Lorainne, penasaran.
“Entahlah kenapa tongkat sihir itu berada disana… Namun yang pasti, aku kini percaya bahwa Venerate yang kakak Drannor lihat tidak lain memang merupakan Freynile…” Jawab Raquille, menyatakan bahwa dirinya mempercayai pernyataan Drannor.
Disaat yang bersamaan, Raquille, Lorainner serta Drannor pun nampak merasa senang ketika telah yakin bahwa Freynile memang masih hidup.
“Tapi… Kenapa dia berada di pulau Whiteland? Sedang apa dia berada disana?” Tanya Drannor, merasa bingung mengetahui keberadaan Freynile di pulau Whiteland.
“Hal itulah yang membuatku percaya bahwa dia merupakan Freynile, karena kemungkinan dia merindukan pria yang dia cintai,” jawab Raquille.
“Apa maksudmu Arn Skoedir?”
Raquille pun langsung menganggukkan kepalanya, merespon bahwa orang yang disebut oleh Drannor adalah benar Arn.
“Entah bagaimana harus menjelaskannya, tapi setidaknya salah satu diantara kita memang harus memastikan kembali bahwa dia Venerate itu memang Freynile,” ucap Raquille.
“Kurasa kita harus merahasiakan ini dulu dari yang lain sebelum memang benar-benar yakin bahwa itu adalah Freynile,” ucap Drannor.
“Kalau begitu, apa kita sekarang harus mencari keberadaan Freynile?” Tanya Raquille, nampak bersemangat untuk mencari Freynile.
“Kurasa untuk hal itu biar aku saja yang melakukannya… Entah apakah dia kini telah menjadi Venerate Ereise ataupun Einor, namun kita sebagai Venerate Blueland akan kesulitan memasuki negeri tersebut kecuali mencoba menyarangnya,” jawab Drannor, menyarankan agar dirinya yang akan mencari keberadaan Freynile, karena pria Elfman itu memiliki kemampuan yang lebih unggul dalam menyamarkan hawa keberadaannya.
Walaupun harus setuju, namun Raquille sebenarnya merasa kecewa karena kesempatannya yang juga ingin mencari keberadaan Freynile tidak bisa tercapai.
“Kalian ingin mencari siapa?”
Tiba-tiba terdengar suara orang bertanya, yang sontak membuat Raquille, Drannor serta Lorainne pun menoleh, dan melihat bahwa Ackerlind masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Ackerlind…” Ucap Drannor, terkejut melihat Elfman perempuan itu datang.
Dengan ekspresi yang nampak bahagia, Ackerlind langsung berlari ke arah Drannor, kemudian memeluk pria Elfman itu.
“Eh… Ackerlind…”
“Maaf karena tidak memberitahu lebih dulu… Tapi, bisakah kau melepaskanku? Yang mulia dan Raquille sedang memperhatikan kita,” ucap Drannor, mencoba melepaskan pelukan Ackerlind karena merasa canggung dilihat oleh Lorainne dan Raquille.
“Tidak mau… Kau tahu betapa aku sangat merindukanmu ketika kau pergi beberapa tahun yang lalu,” ucap Ackerlind, lebih mengeratkan pelukannya pada pria Elfman itu, dan tidak perduli diperhatikan oleh ibu serta adiknya.
Mendengar hal tersebut wajah Drannor pun langsung memerah, walaupun memang merasa bahagia melihat kembali Elfman perempuan yang dilihatnya kembali, namun Drannor nampak masih merasa canggung diperhatikan oleh orang lain.
“Yang mulia… Sebaiknya kita tinggalkan mereka dulu…” Ucap Raquille, menarik Lorainne karena merasa pekah saat momen pertemuan Ackerlind dengan Drannor.
“Tunggu dulu Yang mulia… Pangeran… Kalian mau kemana?” Drannor pun memanggil Lorainne dan Raquille, namun kedua Elfman itu berpura-pura tidak mendengarnya karena ingin membiarkan pria Elfman itu bersama dengan Ackerlind terlebih dahulu.
–11 Agustus 3029–
Keesokan harinya sebuah pesawat yang negeri Pavonas yang sebelumnya datang ke pulau Whiteland kini telah sampai di langit ibukota negeri Blueland tersebut.
**
Walaupun mengetahui bahwa pesawat tersebut berasal dari negeri Pavonas, sementara Pavonas sendiri merupakan aliansi dari negeri Blueland di dalam kubuh barat, namun para prajurit ras Elfman sontak berkumpul sambil bersiaga ketika pesawat tersebut mendarat di sebuah lapangan yang luas.
Tak berapa nampak seseorang turun dari dalam pesawat tersebut, yang tidak lain merupakan Phyton, sang ras keturunan campuran generasi kedua, putra dari Cyffredinol.
“Salam tuan-tuan… Perkenalkan aku namaku adalah Phyton Naisitorach, kedatanganku kemari adalah untuk menemui Yang mulia ratu Lorainne,” ucap Phyton, menjelaskan kepada para prajurit ras Elfman maksud tujuannya datang ke ibukota negeri Blueland tersebut.
“Mohon maaf tuan Phyton atau siapalah anda, walaupun Pavonas sekarang menjadi aliansi dari negeri Blueland, namun kami yang berada disini sangat sensitif dengan kedatangan orang-orang selain berasal dari Blueland sendiri tanpa sebuah pemberitahuan terlebih dahulu,” ucap salah satu prajurit Elfman, nampak menolak kedatangan dari pemuda itu.
Ketika para prajurit Elfman sontak menolak kedatangan dari pemuda itu, tak berapa lama ketiga saudara kembar, yaitu Arn, Anhilde dan Asulf keluar dari dalam pesawat tersebut.
“Eh… Kalian kan tiga kembar dari clan Skoedir,” ucap salah satu Elfman, mengenali ketiga saudara kembar tersebut, serta merasa terkejut melihat mereka datang dengan salah satu Venerate Pavonas.
“Tuan-tuan… Pemuda ini sebenarnya bukanlah orang asing… Dia adalah putra tunggal dari pangeran Cyffredinol serta cucu dari Yang mulia ratu Lorainne, yang sebenarnya berasal dari negeri Ierua, namun sekarang telah menjadi salah satu Venerate Pavonas,” ucap Arn, menjelaskan siapa Phyton sebenarnya kepada para prajurit Elfman.
“Jadi kau putra pangeran Cyffredinol… Maaf jika kami tidak mengetahuinya… Kalau begitu, kami tidak akan menghalangimu menemui keluarga kerajaan,” ucap salah satu Elfman, mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Arn.
Para prajurit ras Elfman itu kemudian mempersilahkan Phyton dan ketig saudara kembar untuk lewat sambil mengantarkan mereka menemui pemimpin negeri Blueland.
***
Tak berapa lama kemudian, Phyton dan ketiga saudara kembar sampai di ruanngan tahta, dimana tampak para World Venerate Blueland telah berada di dalam ruangan tersebut, yang tidak lain merupakan Lorainne sang ratu Blueland, Ruvaen sang perdana menteri, Raquille sang pangeran mahkota, serta Drannor sebagai komisioner tinggi pulau utama Blueland.
“Salam Yang mulia Lorainne II beserta para World Venerate, mungkin dari kalian sudah mengetahui bahwa aku adalah Phyton, putra dari Aisling Naisitorach dan pangeran Cyffredinol,” ucap Phyton, menyapa Lorainne serta para World Venerate di dalam ruangan tersebut.
“Phyton yah…” Ucap Lorainne dengan ekspresi serius kemudian berdiri dari kursi tahtanya, berjalan perlahan-lahan mendekati Phyton.
Ketika sampai di depan Phyton, Lorainne seketika mengubah ekspresinya menjadi tersenyum kemudian memeluk pemuda yang merupakan cucunya tersebut.