The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 296 - Rencana penyerangan ke wilayah Pavonas



“Kau disini kakak…” Ucap gadis bernama dewi merak tersebut, menyadari bahwa dirinya mengetahui keberadaan seseorang berada dibelakangnya, sambil memanggil orang tersebut dengan sebutan kakak.


Tampak seorang pria muda mendekat dengan penampilan memiliki rambut panjang sebahu berwarna hitam dan aksen warna pirang pada beberapa helainya, serta memiliki sepasang mata berwarna hijau, sama seperti gadis bernama dewi merak tersebut.


“Sebenarnya aku tidak mau menganggu, tapi Zaraqiah sedang mencarimu… Aku mengijinkan dia ikut karena tempat ini cukup berbahaya baginya,” ucap pria tersebut, memberitahukan bahwa dewi merak tersebut sedang dicari oleh seseorang.


“Eh… Jadi Zaraqiah sudah bangun…” Balas gadis dewi merak, sontak berdiri dari batu tempatnya duduk ketika mendengar informasi yang diberikan oleh pria itu.


Gadis tersebut kemudian berjalan bersama pria yang datang menghampirinya, kemudian berjalan meninggalkan bukit tempat mereka berada.


**


“Ngomong-ngomong, jarang sekali kau pergi menyendiri seperti ini?”


Sambil menuruni perbukitan, pria tersebut lantas bertanya, dimana yang diketahuinya bahwa gadis bernama dewi merak tersebut sangat jarang pergi menyendiri di atas sebuah perbukitan.


“Sebenarnya aku hanya menyempatkan diri memperhatikan kota Vegoblashchenks yang akan kita serang…” Jawab dewi merak.


“Berarti kita akan melakukan penyerangan secepatnya…” Respon pria yang bersama dewi merak.


“Hmph… Dari percakapan yang kudengar dari pemimpin wilayah Briseria itu sepertinya dia mau melakukan penyerangan secepatnya,” ucap dewi merak.


Gadis itu kemudian menjelaskan bahwa selama berada di perbukitan tersebut dia sudah mendengarkan percakapan dari para Venerate Pavonas yang berada di sebuah kota bernama Vegoblashchenks. Pemimpin wilayah dari kota tersebut yang tidak lain merupakan Tianhui, salah satu Continent Venerate Pavonas, akan mengerahkan pasukan dari negeri Pavonas untuk menyerang kota yang berada di seberang sungai yang menjadi perbatasan antara Pavonas dan negeri Tengal, dimana kota yang berada di seberang sungai dari wilayah Tengal sedang dijaga oleh dewi merak itu sendiri dan pria yang bersamanya, yang merupakan Venerate tingkat atas.


“Kedengaran dari percakapan mereka bahwa pria bernama Tianhui itu sangat percaya diri untuk ingin menyerang balik kita…”


“Aku memiliki sebuah… Aku akan berkunjung sendiri ke kota itu untuk menemuinya, dan lihat saja apa yang akan terjadi,” ucap dewi merak, nampak merencanakan sesuatu untuk mengganggu penyerangan yang akan dipimpin oleh Tianhui.


“Baiklah… Asalkan jangan terlalu lama berkunjung ke kota itu, karena Zaraqiah akan mencarimu,” respon sang pria yang dipanggil oleh dewi merak sebagai kakak, menyetujui rencana tersebut dengan syarat agar dewi merak tidak akan terlalu lama pergi ke kota Vegoblashchenks.


“Aku mengeri kakak…” Respon dewi merak.


***


Beberapa saat kemudian, berpindah ke sebuah kediaman yang berada di kota bernama Ulaangol, yang merupakan kota yang berada di seberang sungai dari wilayah Pavonas, terlihat seorang anak perempuan berumur sekitar lima ataupun enam tahun dengan mengenakan gaun, yang tampak memiliki penampilan berbeda, mirip seperti penampilan berpakaian dari dewi merak serta pria yang berada di perbukitan sebelumnya, dimana mereka tampak lebih terlihat sebagai orang-orang Pavonas ataupun dari negeri-negeri di benua Greune dibandingkan dengan orang-orang dari negeri Tengal.


Tampak anak perempuan yang berada di dalam ruangan kamarnya tersebut menunjukkan ekspresi yang kesal sambil melempar apapun yang berada disekitarnya ke arah para pelayan kediaman tersebut.


“Dimana ibu?!” Teriak anak perempuan tersebut, bertanya mengenai keberadaan dari ibunya kepada para pelayan.


“Nona Zaraqiah… Ibu anda akan segera datang, mohon tenang dulu…” Jawab salah satu pelayan, menenangkan anak perempuan yang ternyata bernama Zaraqiah tersebut, dimana seorang pria yang datang ke perbukitan sebelumnya untuk memanggil dewi merak kembali, bertujuan untuk memanggil ibu dari anak perempuan tersebut, tidak lain merupakan gadis bernama dewi merak itu sendiri.


“Tidak mau…! Pokoknya aku ingin ibu segera kemari!” Teriak anak perempuan itu, meronta-ronta, tidak mau mendengarkan penjelasan dari para pelayan.


“Ada apa ini?”


“Uakh…!”


Baru saja seorang pria datang memasuki ruangan tersebut untuk bertanya megenai apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja dirinya langsung dilempar sebuah benda tepat megenai mukanya.


“Ah… Tuan Shalkishu…”


“Tidak apa-apa…” Ucap pria bernama Shalkishu, menyatakan bahwa dirinya tidak apa-apa setelah sebuah benda yang dilemparkan oleh anak perempuan bernama Zaraqiah tersebut mengenai wajahnya.


“Apa mungkin dia mencari dewi merak?” Tanya pria bernama Shalkishu.


“Iya tuan… Sepertinya nona Zaraqiah mengalami mimpi buruk lagi… Hanya dewi merak yang bisa menenangkannya,” jawab salah satu pelayan.


“Eh…” Setelah mendengar penjelasan tersebut, pria bernama Shakishu itu lantas merasakan kedatangan dari beberapa Venerate yang bisa dirasakan olehnya melalui sebuah tekanan kekuatan yang terpancar.


“Kurasa dewi merak sudah datang…” Ucap Shalkishu.


**


“Ibu!”


Nampak dewi merak bersama dengan pria yang menemuinya sebelumnya akhirnya sampai di kediaman tersebut, dimana dewi merak lantas berlari masuk ke dalam ketika mendengar putrinya tersebut berteriak memanggil dirinya.


**


“Zaraqiah…” Ucap dewi merak, masuk ke dalam ruangan kamar putrinya.


“Ibu…” Tanpa pikir panjang, anak perempuan yang bernama Zaraqiah tersebut langsung melompat dari tempat tidurnya kemudian berlari memeluk ibunya.


“Ibu… Kemana saja kau?”


“Maaf ibu sedang keluar sebentar… Kau pasti mengalami mimpi buruk lagi…” Ucap dewi merak.


“Tenanglah ibu sudah disini…”


Gadis itu kemudian menyalurkan sebuah energi agar membuat putrinya tersebut bisa merasa lebih tenang setelah terguncang akibat mengalami mimpi buruk.


Para pelayan lantas merasa lega ketika anak perempuan tersebut akhirnya bisa dibuat tenang oleh ibunya sendiri.


Setelah berhasil menenangkan Zaraqiah, dewi merak lantas berdiri sambil menggendong putrinya tersebut.


“Maaf sudah membuat kalian kerepotan dengan putriku,” ucap dewi merak, meminta maaf kepada para pelayan.


“Tidak apa-apa nona Zchaira… Kami sudah mengerti keadaan dari nona Zaraqiah…” Balas salah satu pelayan, tidak mempermasalahkan hal tersebut, sambil menyebut nama asli dari dewi merak yang ternyata bernama Zchaira.


Gadis dewi merak bernama asli Zchaira tersebut lantas merespon para pelayan dengan tersenyum, berterima kasih karena tidak mempermasalahkan megenai putrinya yang sempat membuat mereka kerepotan.


Dia kemudian menatap pria bernama Shalkishu, dan lantas terkejut melihat dahi bagian kiri dari pria tersebut, yang sebelumnya mengenai sebuah benda keras ternyata mengalami memar.


“Tuan Shalkishu… Kau baik-baik saja?” Tanya Zchaira.


“Eh… Jangan khawatir, ini tidak seberapa… Aku hanya sedikit terkejut ternyata lemparan putrimu cukup kuat…” Jawab Shalkishu, menyatakan dirinya tetap baik-baik saja, walau akibat hal sebelumnya telah membuat dahinya memar.


“Zaraqiah… Lihat atas perbuatanmu… Sebagai anak yang baik ibu ingin kau meminta maaf sekarang juga,” Ucap Zchaira pada putrinya, yang tiba-tiba menjadi sedikit keras karena tidak terima dengan perbuatan putrinya tersebut.


“Maaf ibu, aku sebelumnya sangat panik…” Ucap Zaraqiah dengan wajah memelas.