The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 134 - Kematian Arvhen



“Hahaha… Memangnya aku akan muncul dimana lagi selain Lamu? Apa mungkin aku akan muncul di utopia?” Raquille sontak tertawa merespon pertanyaan dari Xirdinth.


“Lupakan saja hal itu, yang pasti kau kini sudah kembali dan baik-baik saja,” ucap Xirdinth.


Raquille dan Xirdinth kemudian datang menghampiri Arvhen yang telah terkapar tak sadarkan diri.


“Lalu, apa yang akan kita lakukan pada orang ini?” Tanya Xirdinth.


“Aku memang sangat membenci atas apa yang dilakukannya, tapi bukan aku yang berhak menghukumnya… Aku akan membawanya kembali.”


“Silahkan… Lagipula untung saja aku sempat menghentikanmu tadi.”


Xirdinth menggunakan kekuatannya untuk mengirim Raquille dan Arvhen keluar dari dimensi tersebut.


****


Setelah sampai di dunia nyata, Raquille terlihat emosi namun harus tetap menahan amarah ketika melihat keadaan kota Lynerbyich yang telah hancur lebur.


Pemuda itu menggunakan kekuatan makhluk sucinya, membuat Arvhen tiba-tiba tersadar kembali walaupun dalam keadaan sulit untuk berdiri.


“Lihat di sekelilingmu, apa yang sudah kau perbuat. Sebagian besar nyawa yang melayang adalah orang-orangmu sendiri… Apa kau pantas disebut sebagai pemimpin jika membahayakan orang-orangmu sendiri?” Ucap Raquille dengan ekspresi wajah serius.


“Diam kau… Ini semua karena perbuatan kalian sampai aku terpaksa harus melakukan semua ini. Lagipula salah mereka sendiri tidak bisa berhasil selamat dari ledakan itu.” Bahkan dalam keadaan yang lemah pun Arvhen masih tetap saja bersikukuh menyalahkan yang lain dan tidak mau menyesali atas apa yang diperbuatnya.


Hal itu langsung memancing amarah Raquille, pemuda itu menarik kerah baju Arvhen lalu mengangkatnya.


“Asal kau tahu, jika sebelumnya kau sudah menyerah dan membiarkan kami menangani senjata sialan kalian itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi.” Dengan sangat emosi Raquille mendengar kata-kata Arvhen, pemuda Elfman langsung membanting Venerate Graina itu ke tanah dengan kuatnya.


“Tuan Elfman, apa kau tidak keberatan jika aku yang mengakhirinya?” Tak lama kemudian Egata menemui Raquille dan meminta agar dia yang akan menangani Venerate Graina itu.


“Lakukan apa yang kau inginkan. Aku sudah muak mendengar kata-katanya.” Raquille mempersilahkan Egata mengambil tempatnya sembari pemuda Elfman itu pergi.


Egata menunduk mendekatkan kepalanya pada Arvhen.


“Ada apa seorang penghianat datang menemuiku? Apa kau mau menertawakan keadaanku sekarang?” Tanya Arvhen.


“Kau pantas dibenci dan pantas ditertawakan dalam keadaan seperti ini… Selama ratusan tahun aku berada di pihakmu, yang kulihat hanyalah sebuah kesengsaraan. Kau selalu menindas orang-orang yang lemah, karena itu aku lebih memilih untuk mengikuti Kyreas daripada tetap bersamamu,” ucap Egata.


“Heh, percuma saja kau mengatakan hal yang tidak berguna itu… Aku sudah tidak peduli lagi, lagipula itu sudah berlalu begitu lama,” balas Arvhen.


“Selama lebih dari enam belas abad kau hidup, kau tetap saja tidak berubah… Aku akan memberikan kesempatan kepadamu, apakah kau menyesal atas apa yang kau perbuat ini?” Tanya Egata sambil mengaktifkan kekuatan proyeksi energi yang melapisi salah satu tangannya.


“Tidak… Aku tidak menyesal, sudah menjadi prinsipku sejak dulu…” Ucap Arvhen, tetap berpegang teguh pada landasannya.


“Kalau begitu, bawalah semua dosamu dan mintalah ampunan kepada para dewa di akhirat nanti…”


“Tekhnika ekzortsista… Soul vanisher slash…” Egata melancarkan sebuah serangan pada Arvhen, sama persis seperti serangan yang dilancarkan oleh pemimpin negeri Graina itu kepada Sirozovia beberapa abad yang lalu.


Serangan tersebut sangatlah berbahaya hingga Arvhen pun dalam sekejap langsung meregang nyawa.


Kekuatan raungan topan dari makhluk suci yang berada di dalam tubuhnya perlahan-lahan keluar dan terbang untuk mencari pengguna baru yang pantas menerima kekuatan itu.


*


Egata meneteskan air mata ketika mengingat kembali kenangan masa lalunya bersama Arvhen saat mereka berdua masih berusia muda.


Saat mereka beranjak dewasa pun perasaan Egata kepada pria itu masih tetap sama, namun Egata juga bersamaan merasa kecewa melihat perbuatan jahat yang dilakukan oleh Arvhen hingga membuatnya memendam perasaan itu sampai perlahan-lahan mulai menghilang.


Akan tetapi, walaupun melihat kekejaman Arvhen, perasaan yang ditahannya tersebut tidak kunjung hilang, hingga Egata pun memutuskan meninggalkan negeri Graina dan membela pihak yang menentang pria itu.


**


Kini Egata pun hanya bisa bersedih menyaksikan orang yang dicintainya selama satu milenium lebih itu berakhir ditangannya sendiri.


Disaat Egata sedang bersedih, Kyreas pun datang untuk menenangkan perempuan itu.


“Pria kejam ini sebenarnya tidak layak untuk kau tangisi… Dia sudah membuatmu merasa kecewa selama ratusan tahun ini,” ucap Kyreas.


“Berharaplah jika pria ini akan hidup lebih baik di kehidupannya yang berikut…” Lanjut Kyreas.


–18 Juli 3029–


Dua hari kemudian, setelah kejadian ledakan dahsyat yang menghancurkan kota Lynerbyich dan disekitarnya, semua pasukan Midauz dan Graina bekerja sama membantu menguburkan orang-orang yang gugur dalam perang dan ledakan tersebut, serta merawat orang-orang yang terluka parah, yang masih memiliki peluang hidup.


Setelah Raquille berhasil menyelamatkan sebagian besar prajurit Graina yang berada di kota itu, mereka pun tidak lagi berniat untuk melawan ataupun menentang pasukan musuh mereka tersebut.


Arvorys, sebagai salah satu World Venerate Graina lalu mengambil alih perintah semua pasukannya setelah kematian Arvhen. Dia menyatakan bahwa negeri Graina resmi keluar dari aliansi SGS kubuh timur.


***


Semua prajurit Graina maupun Midauz kemudian meninggalkan kota Lynerbyich pergi ke kota Viek dengan membawa semua orang yang dalam keadaan kritis.


Mereka semua tidak menetap lama di kota Lynerbyich akibat dampak ledakan dahsyat tersebut menimbulkan radiasi yang bahkan berbahaya bagi para Venerate sekalipun.


***


“Hanya ini yang bisa kulakukan… Aku tidak memiliki kemampuan meregenerasi.”


Raquille mencoba sebisanya menyembuhkan semua orang yang terluka parah menggunakan kekuatan kebijakan surgawi yang diberikan oleh salah satu makhluk suci kepadanya.


Pemuda Elfman itu nampak sedikit kecewa karena dirinya tidak bisa membuat orang-orang yang terluka kembali seperti semula. Kemampuan yang dimilikinya hanya bisa menyembuhkan luka-luka mereka agar tidak bertambah lebih parah lagi.


“Raquille, kau tidak usah khawatir. Ini sudah hal terbaik yang kau lakukan… Kami tetap menghargainya.” Alyara pun langsung menyemangatinya karena perbuatan yang dilakukan oleh pemuda Elfman itu memang sudah yang terbaik bagi mereka dalam keadaan tersebut.


Begitu juga dengan para petugas medis, merasa sangat terbantu oleh kemampuan yang dimiliki Raquille. Entah berapa nyawa lagi yang akan melayang jika pemuda Elfman tersebut tidak berada di tempat itu untuk membantu mereka menyembuhkan orang-orang yang sedang terluka parah.


***


Beberapa saat kemudian pasukan Midauz, bersama Raquille, Alyara, Azouraz serta pasukan negeri Brizora menemui pasukan negeri Graina.


“Terima kasih atas bantuan kalian… Kami jadi tersadar selama ini berpihak kepada kubuh yang salah…”


“Apakah masih ada kesempatan bagi negeri Graina bergabung dengan organisasi GANCO?” Tanya Arvorys.


“GANCO sangat terbuka bagi mereka yang kini memiliki tujuan yang sama dengan kami,” jawab Kyreas, memberikan kesempatan bagi para prajurit Graina.


“Terima kasih tuan Kyreas… Aku berjanji negeri Graina tidak akan lagi berpihak kepada kubuh yang salah,” respon Arvorys.