The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 168 - Tidak layak dimaafkan



Kota Nuku sendiri merupakan ibukota serta pusat pemerintahan yang terletak di bagian pesisir pulau utama negeri Blueland.


**


“Apa kau merindukan kota ini?” Tanya Ackerlind.


“Sudah kukatakan padamu sebelumnya bahwa aku telah melompati waktu ke masa depan, jadi dalam sudut pandangku aku hanya belum kembali ke negeri ini sekitar setahun saja,” jawab Raquille.


Pemuda Elfman tersebut memang tidak terlalu merasa rindu dengan negerinya tersebut dikarenakan pada tahun 3018 dia sempat mengunjungi negeri Blueland sekali, dan jika dihitung dalam sudut pandangnya yang telah melompati waktu ke masa depan ditambah waktu kemunculannya di negeri Fuegonia sampai sekarang, baru sekitar setahun yang lalu pemuda Elfman itu terakhir kali datang ke negeri tersebut.


***


Pesawat yang dinaiki oleh Raquille kemudian mendarat di sebuah lapangan yang luas dengan telah disambut oleh beberapa prajurit ras Elfman.


“Selamat datang tuan muda… Sudah sepuluh tahun lamanya setelah anda dinyatakan menghilang,” ucap prajurit Elfman yang berada paling depan diantara para prajurit yang lain.


Raquille pun hanya merespon sapaan dari prajurit itu dengan memasang senyuman di wajahnya.


Setelah itu Raquille kemudian dituntun oleh para prajurit masuk ke sebuah kendaraan yang telah dipersiapkan.


***


Beberapa saat kemudian ketika Raquille berangkat menaiki sebuah kendaraan, pemuda Elfman itu akhirnya sampai di sebuah kastil yang megah, tinggi menjulang ke langit tempat dimana pemimpin negeri Blueland berada.


Kendaraan tersebut berhenti tepat di depan kastil itu, bersamaan dengan Raquille serta Ackerlind turun dari dalamnya.


Raquille yang menunjukan ekspresi tegang diwajahnya kemudian perlahan-lahan masuk ke dalam kastil itu bersama dengan saudara perempuannya, Ackelind.


***


Raquille sampai di sebuah ruangan singgasana dan terkejut melihat ibu dari pemuda Elfman itu sedang duduk di atas kursi tahta yang sebenarnya merupakan tempat duduk dari ayahnya.


“Ibu… Apa tidak ada kursi untuk diduduki? Mengapa kau duduk disana?” Tanpa harus menyapa ibunya terlebih dahulu, Raquille lantas bertanya tentang hal yang membuatnya heran.


“Raquille apa ini sikapmu setelah sepuluh tahun menghilang? Setidaknya kau bisa menyapa ibumu ini terlebih dahulu sebelum menanyakan hal itu,” ucap ibu Raquille yang bernama Lorainne tersebut.


“Maafkan aku… Salam ibu, aku kembali lagi setelah sepuluh tahun menghilang… Tolong jangan memarahiku atau melakukan kekerasan layaknya seorang anak yang kabur dari rumah karena aku memiliki sebuah alasan untuk itu,” ucap Raquille sambil bersujud di depan ibunya yang sedang duduk di atas kursi tahta.


Tanpa pikir panjang, Lorraine langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian berlari menuruni tangga menuju ke arah Raquille.


“Ibu.. Sudah kubilang sebelumnya,” ucap Raquille, perlahan-lahan mundur ke belakang serta merasa sedikit ketakutan ketika ibunya tersebut akan mendekatinya.


“Eh…”


“Syukurlah kau masih bisa kembali dengan selamat… Berhari-hari aku selalu merindukanmu, berharap bisa melihat kembali putra bungsuku yang entah bagaimana keadaannya selama ini.” Lorainne pun langsung memeluk erat putra bungsunya tersebut sambil melepas rindu karena selama sepuluh tahun hanya dirinyalah yang percaya bahwa Raquille masih hidup.


Raquille pun merasa senang kemudian membalas pelukan ibunya tersebut dengan erat sambil memasang ekspresi senyuman diwajahnya.


“Dimana saja kau selama ini?” Setelah memeluk Raquille, Lorainne kemudian menanyakan sebuah pertanyaan yang penting ketika putranya tersebut menghilang sepuluh tahun lamanya.


Walaupun sedikit bosan harus mengulangi penjelasan tersebut, namun Raquille tetap menjelaskan bagaimana dan keadaannya selama sepuluh tahun terakhir, yang akhirnya mematahkan ekspetasi dari Lorainne karena tidak menyangka bahwa pemuda Elfman itu telah melompati waktu ke masa depan.


“Jadi kau datang dari masa lalu,” ucap Lorainne, tampak terkejut mendengar pernyataan serta penjelasan dari putra bungsunya tersebut.


Semua Venerate ras Elfman yang juga berada di tempat itu nampak terkejut serta tidak percaya mendengar penjelasan dari pemuda Elfman itu.


“Baiklah, sekarang waktunya aku untuk bertanya… Ibu, mengapa kau duduk di tempat ayah? Kemanakah si pak tua itu berada?” Tanya Raquille.


“Seperti yang kau lihat bahwa ibu yang sekarang menjadi pemimpin negeri ini sekarang… Sedangkan ayahmu sejak sembilan tahun yang lalu melepaskan mahkotanya dan pergi mencarimu,” jawab Lorainne.


“Apa? Kenapa ayah pergi mencariku?” Raquille pun terkejut mendengar bahwa ayahnya pergi mencari dirinya, sedangkan dia selama ini melompati waktu ke masa depan, yang mengartikan bahwa dirinya tidak berada di dunia tersebut selama itu dan percuma saja mencarinya ke tempat manapun.


“Apa mungkin ayah mencari tempat terakhirku di benua Avanca?” Raquille pun langsung mengambil kesimpulan bahwa ayahnya pergi untuk mencari dirinya ke benua Avanca, dimana merupakan tempat terakhir pemuda Elfman itu berada sebelum ditarik masuk ke dalam sebuah lubang dimensi.


“Entahlah… Ini juga karena kesalahan ibu… Ibu terus bersedih ketika waktu itu kau menghilang, membuat kakak Razoranos, ayahmu terpaksa mencarimu, dan sebelum dia pergi, dia sempat menitipkan Blueland untuk dipimpin oleh ibu,” ucap Lorraine.


“Tidak ibu, kau tidak bersalah… Yang seharusnya disalahkan adalah aku… Aku yang sudah menyebabkan kejadian itu, membunuh rekan-rekanku akibat kekuatan api amarah… Membuat ayah pergi mencariku dan malah membuatnya sampai sekarang belum kunjung kembali,” ucap Raquille nampak menyesal dengan hal tersebut.


“Raquille… Ibu tahu bahwa kau memang yang menyebabkan masalah ini, tapi kau yang telah berusaha untuk bertanggung jawab… Setidaknya kau harus berjanji bahwa hal yang kau lakukan tidak akan kembali terjadi.” Lorainne pun kembali memeluk Raquille, serta berusaha menenangkan putra bungsunya tersebut.


Setelah Lorainne selesai memeluk Raquille, tiba-tiba seorang pria Elfman datang ke ruangan tersebut yang membuat Raquille seketika terkejut.


“Raquille… Kau sudah kembali rupanya. Aku senang melihatmu lagi,” ucap pria Elfman tersebut.


Ketika pria Elfman itu mendekat, Raquille tiba-tiba langsung berlutut di hadapannya dengan ekspresi menyesal membuat pria Elfman tersebut nampak kebingungan.


“Raquille… Apa yang kau lakukan? Ayo berdiri…” Ucapnya sambil menarik Raquille untuk kembali berdiri.


Akan tetapi Raquille tidak mau berdiri dan terus berlutut di hadapan pria Elfman itu dengan masih memasang ekspresi penyesalan di wajahnya.


“Paman Ruvaen… Aku mungkin tidak layak dimaafkan, tapi aku hanya akan mengatakan agar kau memiliki harapan bahwa sebenarnya Aloof juga kemungkinan masih hidup,” ucap Raquille.


“Aloof masih hidup… Apa kau yakin?” Mendengar penjelasan dari Raquille, pria Elfman bernama Ruvaen itu lantas terkejut.


Raquille kemudian menceritakan kejadian sepuluh tahun yang lalu, dimana ketika salah satu Guardian memunculkan sebuah lubang dimensi dan langsung menarik Raquille serta anggota Guardian tersebut, yang tidak lain merupakan Aloof, yang sebenarnya merupakan salah satu ras Elfman dan anak dari Ruvaen.


“Di dalam lubang dimensi itu aku terpisah dengan Aloof dan akhirnya muncul di negeri Fuegonia… Paman, aku yakin bahwa Aloof muncul di waktu yang sama denganku,” ucap Raquille.