
“Ada apa Phyton?” Tanya Raquille, kebingungan.
“Maaf tuan Raquille… Anggap saja aku sudah dikalahkan. Aku tidak akan bertarung melawanmu atau Venerate lainnya yang berada di pihak kubuh barat,” jawab Phyton, menyerah kepada Raquille.
“Apa kau yakin?” Tanya Raquille sekali lagi.
“Iya, aku yakin dengan pilihanku… Lagipula aku tidak mau melawan saudara dari ayahku,” ucap Phyton, benar-benar tidak mau melawan lagi.
Raquille pun mengerti dan akhirnya pergi meninggalkan pemuda itu untuk melawan Venerate yang lain.
“Tuan Raquille… Ada yang ingin kukatakan padamu tentang negeri Ierua…” Panggil Phyton kepada Raquille, ketika pemuda Elfman itu hendak beranjak dari tempat tersebut.
Lantas Raquille pun berhenti dan berbalik menghampiri Phyton karena mendengar tentang negeri Ierua.
“Apa ini tentang invasi mereka di pulau Whiteland?” Tanya Raquille, kini menjadi penasaran.
“Benar… Ini tentang penyerangan mereka,” jawab Phyton.
“Sebelum membelot ke negeri Brizora dan akhirnya ditangkap dan kemudian ditangkap oleh pasukan Pavonas, aku sempat mendengar bahwa setelah menguasai wilayah Whiteland mereka akan segera menyerang daratan utama Blueland,” lanjut Phyton berkata.
Mendengar hal tersebut Raquille lantas terkejut, pemuda Elfman itu sejenak berpikir apa maksud dari negeri tersebut ingin menyerang daratan utama Blueland yang sulit untuk dihuni oleh para ras Elfman sekalipun.
“Apa kau tahu mengapa mereka ingin menyerang Blueland?”
“Aku juga ingin mengetahui hal itu, aku tidak pernah mendapatkan informasi tersebut… Hanya saja kakekku, Cadhan Naisitorach, yang menjabat sebagai perdana menteri memerintahkan pasukan Ierua untuk menyerang Blueland,” jawab Phyton.
***
“Haniwa dan Phyton sepertinya tidak mau melawan para kubuh barat… Phyton sebelumnya bekerja sama dengan Raquille mengalahkan Verre… Sedangkan Haniwa telah membebaskan pemimpin dan salah satu Venerate Lightio.”
Kembali di dalam kastil kota Vosmoc, dimana Erissa yang sedang mengamati keadaan di sekitar ibukota negeri Pavonas itu nampak mengetahui bahwa Haniwa serta Phyton melakukan hal diluar kehendak para Venerate Pavonas.
“Aku juga melihat bahwa Tianhui, Ashur dan Kemala tidak bisa lagi melawan Aguirre karena takut dengan kemampuan yang dimiliki oleh pria Elfman itu…”
“Di sisi lain, Anatoliv, Jack dan Sciath yang hampir saja mengalahkan putri Alyara, tiba-tiba dihadang oleh pemimpin Lightio serta salah satu Venerate Lightio juga…”
“Bukan itu saja… Dari arah barat terlihat sebuah pesawat yang kemungkinan merupakan berasal dari pasukan kubuh barat.”
Kepala Rumen pun menjadi pusing ketika mendengarkan informasi dari Erissa. Pemimpin negeri Pavonas itu tidak menyangka bahwa pasukan mereka ternyata bisa tersudut seperti itu.
“Erissa… Ienin… Waktunya kalian untuk maju sekarang,” ucap Rumen, akhirnya tidak punya pilihan selain menurunkan kedua prajurit World Venerate-nya.
Tanpa pikir panjang, Erissa serta Ienin pun langsung meninggalkan Rumen sendirian di ruangan tersebut untuk pergi melawan para Venerate kubuh barat.
***
“Tekhnika ekzortsista… Flame exterminator…”
Di luar kastil, Hefaistos yang sedang bertarung bersama Anatoliv serta Venerate bernama Sciath tiba-tiba diganggu oleh Ienin yang datang dan menyerangnya menggunakan kekuatan elemen api, hingga pemimpin negeri Lightio itu pun terhempas.
“Tuan Ienin…” Ucap Anatoliv, melihat salah satu World Venerate Pavonas akhirnya turun tangan menangani para Venerate kubuh barat.
“Serahkan saja orang itu padaku… Kalian lawan saja yang lain,” ucap Ienin.
Mendengar perintah dari World Venerate tersebut, Anatoliv berserta Sciath pun pergi untuk melawan Venerate barat yang lain.
“Fiamma sillabare… Purgatory volcano…”
“Tekhnika ekzortsista… Light bird exterminator…”
Hefaistos melancarkan serangan elemen api dalam skala yang besar dibalas oleh Ienin yang juga melancarkan serangan proyeksi cahaya berbentuk seekor burung raksasa.
Tabrakan dari kedua serangan tersebut lantas menciptakan ledakan yang besar sampai efek tekanan kekuatannya membuat bangunan disekitar mereka hancur, hingga puing-puingnya berterbangan ke segala arah.
***
Di sisi lain, Aguirre yang sedang berdiam diri menunggu tiga Continent Venerate Pavonas untuk menyerang, nampak memperhatikan tabrakan serangan yang dilancarkan oleh Hefaistos dan Ienin.
“Ternyata World Venerate Pavonas sudah mulai turun tangan,” ucap Aguirre, merasakan tekanan kekuatan dari seorang World Venerate yang tidak lain adalah Ienin.
“Kukira kau turun tangan untuk bertemu dengan saudaraku? Tapi kenapa kau malah ingin berhadapan denganku?” Disaat yang bersamaan, tiba-tiba Erissa datang menghampiri Aguirre, yang langsung bisa dirasakan oleh pria Elfman itu.
“Aku kemari untuk memprioritaskan Venerate yang lebih berbahaya dibanding harus memikirkan masalah pribadiku,” ucap Erissa.
“Begitu yah… Jadi maksudmu aku juga tampak berbahaya,” balas Aguirre.
Erissa mengaktifkan kekuatannya yang membuat akar-akar merambat tiba-tiba bermunculan dari bawah dan dalam sekejap menjerat tubuh Aguirre, hingga pria Elfman tidak bisa bergerak.
“Kemampuan mengendalikan tumbuhan… Setahuku ras negeri Neodela yang memiliki kemampuan seperti ini adalah ras Nyxman… Apa mungkin bahwa kau adalah keturunan dari Fairyman dan Nyxman, yang bisa disebut sebagai Fairnyxman?” ucap Aguirre.
Mendengar pernyataan tersebut, Erissa langsung membuat akar-akar yang merambat tersebut semakin kuat menjerat tubuh dari Aguirre.
Bukannya merasa kesakitan, Aguirre tiba-tiba berubah menjadi bongkahan es ketika akar-akar tersebut lebih keras menjeratnya.
Hal tersebut lantas membuat Erissa meningkatkan fokusnya karena belum mengetahui dimana keberadaan sebenarnya dari pria Elfman itu.
“Nona Erissa, awas di belakangmu…” Tiba-tiba Kemala memperingati bahwa Aguirre muncul tepat di belakang perempuan itu.
Dengan refleks, Erissa langsung menggunakan kemampuannya yang dalam sekejap mengangkat tanah dari permukaan hingga menjadi sebuah penghalang.
“Ukh…” Akan tetapi, hal tersebut percuma karena Aguirre langsung melancarkan serangan proyeksi energi berwarna merahnya, menghancurkan dinding tanah tersebut hingga efek tekanan kekuatannya membuat Erissa langsung terhempas.
Hal tersebut membuat Tianhui, Ashur serta Kemala pun meluncur ke arah pria Elfman itu, hendak menyerangnya menggunakan serangan proyeksi mereka.
“Akh…” Namun, Aguirre lebih cepat mengeluarkan pancaran energi merahnya, membuat tiga Continent Venerate itu dalam sekejap langsung terhempas ke jarak yang jauh.
“Water manipulation… Holy splashing waves…” Erissa kembali berdiri dan kemudian melancarkan serangan elemen air dalam volume yang besar layaknya sebuah ombak raksasa ke arah Aguirre.
Melihat serangan tersebut, Aguirre kembali memasang kuda-kudanya, lalu melancarkan serangan proyeksi energi berwarna merahnya.
Proyeksi energi merah yang dilancarkan oleh Aguirre menyerap serangan elemen air bervolume besar dari Erissa hingga dalam sekejap lenyap.
Dalam sepersekian detik, Erissa yang hendak melancarkan sebuah serangan untuk menahan serangan dari pria Elfman itu, tiba-tiba mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk menghindar karena merasakan sesuatu yang berbahaya.
Kejadian seperti sebelumnya akhirnya terulang, dimana ketika serangan proyeksi energi merah itu menghantam sebuah bangunan, bangunan tersebut dalam sekejap hancur serta puing-puing yang berhamburan ke udara seketika terserap masuk dan kemudian lenyap tak bersisa.
“Serangan yang mengerikan…” Ucap Erissa tidak menyangka bahwa ketiga Continent Venerate bawahannya nampak ragu untuk menyerang pria Elfman itu sebelumnya.
“Aku paham alasan mengapa kau bisa mencapai World Venerate adalah karena kekuatanmu meningkat setelah mendapatkan kemampuan dari makhluk suci juga… Apakah aku salah pangeran Aguirre?” Tanya Erissa, memastikan sesuatu.