
Nampak kedua orang misterius itu kemudian mengantarkan Derts sampai di depan sebuah kedai yang tidak jauh dari penginapan tersebut.
“Kenapa kalian mengajakku ke tempat ini?” Derts merasa bingung karena kedua orang tersebut membawanya ke tempat tersebut.
“Atasan kami sedang berada di tempat ini,” kata salah satu dari mereka.
“Jadi orang satunya lagi adalah atasan kalian?” Tanya Derts.
*
“Dua orang ini saja sudah memiliki aura yang menakutkan. Bagaimana dengan atasan mereka…? Apa dia lebih menakutkan dari mereka?” Kata Derts dalam hati, merasa ragu untuk masuk ke dalam kedai itu.
**
“Tuan, ayo kita masuk.”
“Eh, iya….”
**
“Itu dia…” Saat sampai di dalam kedai tersebut salah satu dari mereka kemudian menunjuk seseorang.
Perhatian Derts sontak langsung tertuju pada seseorang yang ditunjuk mereka. Nampak orang yang ditunjuk itu adalah Raquille, yang terlihat sedang bersama dengan para gadis yang bekerja di kedai tersebut.
**
“Tuan muda, apakah anda masih lajang?” Tanya salah satu gadis yang berada di dekat Raquille.
“Sebenarnya aku memiliki seorang tunangan. Tapi, dia tidak sedang berada denganku sekarang,” jawab Raquille.
“Sayang sekali… Padahal aku sangat tertarik padamu. Lebih baik kau tinggalkan tunanganmu itu dan memilihku saja.”
“Aku tidak boleh seperti itu… Aku pasti akan mendapatkan masalah jika meninggalkan tunanganku itu,” kata Raquille dengan sopan pada gadis tersebut.
“Lagipula… Aku sebenarnya tidak tertarik pada perempuan yang jauh lebih tua dariku,” lanjutnya, menolak gadis tersebut.
Lalu terlihat kedua orang sebelumnya bersama dengan Derts menghampiri Raquille.
“Oh… Tuan muda, sepertinya rekan-rekanmu kembali,” kata salah satu gadis.
“Kalau begitu, boleh tinggalkan kami dahulu.”
Setelah mendengarkan perkataan dari Raquille, para gadis tersebut kemudian langsung meninggalkannya.
“Raquille, orang ini adalah salah satu anggota dari clan Flaus,” kata laki-laki berambut abu-abu.
“Iya, aku tahu, karena sebenarnya aku sudah mendengarnya kesulitan mencari kita di penginapan tadi. Jadi aku menyuruh kalian berdua kembali ke penginapan agar bertemu dengannya, dan membawanya kemari,” kata Raquille, yang sepertinya sudah mengetahui bahwa pemuda itu mencari mereka.
“Jadi karena itu kau meminta kami kembali ke penginapan? Boleh juga pendengaranmu, padahal disini agak bising,” kata perempuan berambut pirang.
*
“Dia sebelumnya sudah mengetahui bahwa aku sedang mencari mereka? Apa-apaan orang ini?” Kata Derts dalam hati, terkejut mendengar hal tersebut.
**
“Bagaimana kau mengetahuinya, Siapa kau ini sebenarnya?” Tanya Derts dengan serius.
“Tuan, lebih baik anda duduk dulu biar kujelaskan apa yang tujuan kami,” kata Raquille, menyuruh Derts untuk mendengarkan penjelasannya.
“Tak usah basa-basi padaku… Katakan saja apa tujuan kalian datang ke kota ini,” kata Derts dengan nada yang agak tinggi.
“Baiklah… Pertama-tama, perkenalkan namaku adalah Raquille, aku berasal negeri Blueland. Dan laki-laki ini adalah Morten, dia berasal dari negeri Neodela. Sedangkan perempuan ini adalah Demesa, dia berasal dari negeri Vielass.”
“Kalian semua berasal dari negeri yang berbeda-beda…”
Seketika Derts seperti memikirkan sesuatu yang terlintas di pikirannya.
“Tunggu dulu… Negeri-negeri yang kau katakan sebelumnya kan adalah… Apa mungkin kalian bertiga adalah ras keturunan campuran?” Tanya Derts penasaran.
Mendengar pertanyaan dari Derts, Raquille kemudian langsung memasang ekspresi senyuman menyeringai.
“Benar sekali…” Jawab Raquille.
“Untuk apa kalian datang kemari?” Mendengar jawaban dari Raquille, sontak membuat pemuda itu langsung menjadi terkejut.
“Tenang dulu tuan, kami tidak bermaksud jahat. Tujuan kami kemari adalah untuk mendapatkan kristal berpijar, yang hanya terdapat di daerah ini,” kata Raquille menjelaskan hal tersebut pada Derts.
“Apa…? Kristal berpijar katamu… Untuk apa kalian menginginkan itu itu?” Tanya Derts.
“Kami hanya memerlukan sedikit dari kristal tersebut untuk kami gunakan melawan musuh-musuh kami,” jawab Raquille.
Mendengar pernyataan dari Raquille, ekspresi wajah dari Derts terlihat menjadi kurang senang.
“Tuan Flaus, berapa pun harganya akan kami berikan untuk kristal itu,” lanjut Raquille.
“Tidak…! Kristal itu tidak bisa diberikan kepada siapa pun,” kata Derts, yang langsung menolak tawaran dari Raquille.
Tanpa menunggu lama lagi, Derts langsung beranjak dari kedai tersebut. Namun, saat beberapa langkah dia menjauhi Raquille serta dua orang tersebut, Pemuda itu nampak terlihat berhenti sejenak.
“Oh… Dan kalian juga lebih baik pergi dari kota ini.” Setelah mengatakan hal tersebut, pemuda itu benar-benar meniggalkan tempat itu.
“Hei… Tunggu dulu, mau kemana kau?” Kata pria bernama Morten, berusaha untuk mengikuti Derts.
“Morten, lebih biarkan saja dia.” Sontak Raquille langsung menghentikan rekannya tersebut untuk mengikuti pemuda itu.
“Tapi…”
“Mungkin aku telah salah berbicara padanya,” kata Raquille.
“Lebih baik besok kita pergi ke kediaman clan Flaus untuk membicarakan hal itu pada ketua clannya,” lanjutnya.
***
Kembali pada Derts yang kini telah sampai di kediaman clan Flaus. Dia nampak memasuki suatu ruangan menemui pamannya, yang sedang duduk di ruangan tersebut.
“Derts… Jadi bagaimana? Apa kau menemui orang-orang itu?” Tanya pamannya melihat Derts masuk.
“Iya, aku sudah menemui mereka.” Jawab Derts pada pamannya.
“Kau tahu paman, orang-orang itu sebenarnya merupakan para ras campuran.”
“Ras campuran katamu…” Ketua clan Flaus itu sontak terkejut setelah mendengar pernyataan dari keponakannya tersebut.
“Iya paman… Dan juga, tujuan mereka datang kemari adalah untuk mendapatkan kristal berpijar.”
“Untuk apa mereka menginginkan kristal berpijar?”
“Derts… Apa mereka mengatakan dari mana asal mereka?” Tanya pamannya.
“Aku tidak terlalu mendengar dengan jelas asal negeri mereka, mereka seperti mengatakan bahwa mereka berasal dari negeri yang berbeda-beda. Tetapi, aku mengetahui ciri-ciri ketiga orang tersebut,” jawab Derts.
“Ada dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Perempuan itu memiliki tubuh yang kecil, tingginya kemungkinan sekitar seratus lima puluh sentimeter…”
“Hmph... Kemungkinan perempuan itu adalah Gnomeman atau ras yang mirip, yang berasal negeri dari Asimir,” kata paman Derts, setelah mendengar penjelasan dari Derts.
“Kemudian para laki-lakinya memiliki warna rambut yang mencolok. Satunya berambut abu-abu, serta yang satunya lagi memiliki rambut berwarna putih.”
“Berambut putih…” Ketua clan Flaus itu sontak langsung berdiri setelah dari tempat duduknya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Derts sebelumnya.
“Paman… Kenapa? Memangnya siapa orang terakhir yang kukatakan itu?” Tanya Derts, penasaran.
“Tidak salah lagi, laki-laki kau katakan itu adalah salah satu dari ras Elfman, yang berasal dari utara,” jawab pamannya.
“Tapi kenapa mereka berasal dari negeri yang berbeda-beda?” Tanya Derts sekali lagi.
“Kau tahu kan, bahwa selain Fuegonia, Lightio dan Cielas, negeri-negeri di benua ini didominasi oleh para ras campuran di dalamnya.”
“Dari dulu para ras campuran itu sering diculik oleh para manusia dari benua seberang. Negeri-negeri itu sepakat untuk membentuk sebuah organisasi untuk melindungi kaum-kaum mereka.”
“Aku yakin mereka memerlukan kristal berpijar untuk melawan para manusia yang menculik orang-orang mereka,” kata ketua clan Flaus itu, menjelaskannya pada Derts.
Dia kemudian berjalan menuju balkon yang berada di luar ruangan tersebut. Derts sontak langsung mengikuti pamannya tersebut.
“Tiap bongkahan dari kristal berpijar menyimpan energi yang cukup besar. Benda itu bisa saja menjadi senjata penghancur yang sangat dahsyat,” kata ketua clan Flaus tersebut.
“Aku juga tahu itu. Banyak dari para penambang yang sering meregang nyawa saat mengambil batu tersebut,” kata Derts.
***
Berpindah pada Raquille dan dua rekannya, yang nampak masih berada di sebuah kedai.
“Hei… Daripada bosan lebih baik kalian mendengar ceritaku dulu,” kata Raquille pada kedua rekannya.
“Memangnya cerita apa lagi kali ini?” Tanya laki-laki bernama Morten.
“Kalian pasti tidak tahu jika dulunya negeri Fuegonia merupakan pecahan dari negeri Blueland,” kata Raquille.
“Hah… Benarkah seperti itu?” Tanya Morten, penasaran.
“Beberapa abad yang lalu, seluruh wilayah dari Fuegonia yang sekarang, dulunya merupakan wilayah yang dikuasai oleh Blueland. Bahkan, dulunya ibukota Blueland berada di negeri ini.”
Raquille kemudian menceritakan bahwa dahulu seluruh ras manusia yang berada di negeri Blueland hanya mendiami daerah Akalsa. Hal itu karena ras Elfman, yang pada dasarnya merupakan ras keturunan campuran pernah diperlakukan tidak adil oleh para manusia saat mereka masih berada di benua asal mereka. Para ras Elfman sontak membalas perlakuan itu dengan hanya memperbolehkan para manusia yang berada di Blueland mendiami daerah tersebut.
Namun, tidak sampai disitu, para Elfman membuat para manusia di daerah Akalsa harus memberikan upeti yang sangat tinggi sehingga membuat kehidupan para manusia di daerah tersebut menjadi sengsara.
“Tapi… Bagaimana para manusia bisa membuat kalian tersingkir dari negeri ini?” Tanya Demesa.
“Itu karena kristal berpijar,” jawab Raquille.
Lanjut pada cerita Raquille, dimana pada suatu hari saat sedang menambang emas, para manusia dengan tidak sengaja menemukan kristal-kristal tersebut. Sontak para manusia memiliki sebuah ide untuk memakai benda tersebut menjadi senjata mereka untuk melawan para ras Elfman.
Para manusia kemudian melakukan kudeta terhadap para Elfman sehingga menyebabkan terjadinya sebuah perang saudara antara kedua ras di negeri Blueland tersebut.
Karena tidak dapat mengimbangi kekuatan dari para manusia yang telah memiliki senjata dari kristal berpijar, para ras Elfman sontak menyerah dan menyingkir ke sebuah pulau paling utara yang berada di benua Aizolica.
Dikarenakan memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa beradaptasi pada iklim yang ekstrim di tempat baru mereka, jumlah dari ras Elfman perlahan-lahan mulai mengurang, hingga menjadikan negeri Blueland kini menjadi negeri dengan penduduk paling sedikit di Lamue.
“Aku tidak menyangka ternyata kalian para Elfman memiliki kenangan yang buruk dengan batu kristal itu,” kata Morten.
“Hahaha… Benda itu memang kenangan buruk bagi kami. Tapi, bagi Fuegonia itu menjadi lambang kebesaran yang terpampang pada bendera mereka,” respon Raquille dengan tertawa.
“Namun, kenapa kalian bisa mengalami kekalahan? Padahal kalian itu memiliki kemampuan sihir?” Tanya Morten.
“Entahlah… Kurasa kristal berpijar itu merupakan senjata yang kuat. Lihat saja… Bahkan para Guardian yang memiliki anggota Elfman dengan tingkatan World Venerate memerlukan kristal itu untuk melawan musuh,” jawab Raquille.
“Benar juga yah…” Kata Morten dengan menganggukkan kepalanya.
“Tapi, yang lebih aneh lagi… Kenapa kalian memerlukan waktu yang cukup lama untuk beradaptasi di pulau utama kalian? Padahal ras Elfman merupakan pengguna elemen Es?” Tanya Demesa, penasaran.
“Heh… Bukannya ras Orcman juga pengguna es kan?” Kata Raquille.
“Iya…” Jawab Demesa.
“Bukannya para anggota Orcman kita pernah membeku saat mengunjungi negeri Asimir…? Bahkan, daerah yang kita kunjungi di negeri itu masih lebih hangat dari negeriku.”
Mendengar jawaban dari Raquille membuat kedua rekannya tersebut hanya bisa menganggukkan kepala mereka.
“Tapi, terdapat alasan lain kenapa jumlah ras Elfman bisa berkurang pada saat itu.”
“Apa itu? Coba ceritakan lagi,” kata Morten, menyuruh Raquille menceritakan alasan tersebut.
“Mungkin lain kali saja. Karena itu merupakan hal yang dianggap paling memalukan bagi kami para ras Elfman,” kata Raquille.
“Uh… Baiklah…” Kata Morten.
“Mendengar kau bercerita membuatku menjadi mengantuk,” kata Demesa.
“Kalau begitu lebih baik kalian berdua kembali ke penginapan saja,” kata Raquille.
“Bagaimana denganmu?” Tanya Morten.
“Kalian duluan saja, aku mau sedikit lebih lama di tempat ini,” jawab Raquille.
“Kalau begitu kami duluan,” kata laki-laki tersebut, yang kemudian pergi bersama dengan Demesa meninggalkan Raquille di kedai itu.
“Kakak-kakak… Apa kalian masih memiliki waktu lagi untuk menemaniku?” Setelah kedua rekannya pergi, Raquille sontak memanggil para gadis sebelumnya menemaninya.
“Tentu saja… Bahkan sampai pagi pun kami siap menemani anda tuan muda,” kata salah satu gadis.
“Oh… Itu ide yang bagus,” respon Raquille dengan tersenyum.
Nampak para gadis kemudian mendekati Raquille untuk menemaninya di kedai itu.
–18 April 3029–
Keesokan harinya nampak Raquille bersama dengan kedua rekannya sudah berada di depan pintu gerbang kediaman clan Flaus.
Terlihat salah satu dari anggota clan Flaus, yang berjaga di depan pintu gerbang tersebut menghampiri mereka bertiga.
“Maaf ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya.
“Kami mau menemui ketua clan Flaus, apakah beliau sedang berada di tempat?” Jawab Morten.
“Apa kalian sudah memiliki janji untuk bertemu dengan tuan kami sebelumnya?” Tanya anggota clan Flaus tersebut.
“Eh… Sebenarnya kami…”
“Yah… Tentu saja kami sudah memiliki janji dengan beliau sebelumnya.” Nampak Raquille langsung memotong perkataan Morten dengan menjawab pertanyaan dari anggota clan Flaus itu dengan tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar, aku mau memastikannya kepada ketua clan kami.” Kemudian orang tersebut mengambil alat komunikasi untuk menghubungi ketua clannya.
**
Beberapa saat kemudian, alat komunikasi yang berada di dekat ketua clan Flaus itu sontak berbunyi. Pria itu kemudian mengambil alat tersebut dan membukanya.
“Iya… Ada apa?” Tanya pria itu.
“Tuan Argis, ada tiga orang di depan gerbang yang ingin menemuimu sekarang. Apakah anda sudah berjanji untuk menemui mereka?”
“Janji…? Sepertinya tidak?” Kata ketua clan Flaus itu, nampak bingung.
**
Sontak saat ketua clannya mengatakan hal tersebut, orang yang berjaga di depan gerbang itu langsung menatap tajam Raquille karena berbohong padanya.
“Tapi mereka mengatakan bahwa mereka sudah memiliki janji padamu?”
**
Mendengar hal tersebut, pria bernama Argis itu sontak memikirkan sesuatu.
*
“Tiga orang yah…? Apa mereka ras campuran itu?” Kata Argis dalam hati, menduga sesuatu.
**
“Oh… Aku baru ingat sekarang, ternyata aku memiliki sebuah janji. Suruh mereka untuk masuk,” kata pria itu, nampak berbohong.
**
“Ketua clan kami menyuruh kalian masuk sekarang,” katanya, yang langsung membukakan pintu gerbang kepada mereka bertiga.
“Kalau begitu, ayo ikut aku sekarang” Orang itu pun kemudian mengantarkan Raquille dan lainnya untuk masuk menemui Ketua clannya.
**
Kemudian mereka sampai di sebuah ruang pertemuan. Nampak ketua clan Flaus, yang bernama Argis sudah berada di ruangan tersebut.
“Selamat datang tuan-tuan dan nona di kediaman kami. Senang bertemu dengan kalian,” katanya pada Raquille dan lainnya.
“Senang juga bertemu dengan anda tuan Argis Flaus. Terima kasih telah mempersilahkan masuk,” balas Raquille dengan tersenyum.
“Silahkan duduk dulu,” kata Argis, menyuruh mereka untuk duduk terlebih dahulu.
Nampak ketiga orang tersebut langsung duduk setelah ketua Flaus itu mempersilahkan mereka. Di saat yang bersamaan nampak beberapa pelayan membawakan jamuan untuk mereka.
“Oh… Tak repot-repot,” kata Raquille dengan sopan.
“Tidak apa-apa ini hanya pelayanan rutin kami untuk para tamu,” balas Argis dengan sopan juga.
“Kalau begitu, tidak perlu basa-basi, pasti kalian datang kemari untuk membicarakan tentang kristal berpijar bukan?” Lanjutnya.