
Aisling langsung mengacungkan tombak senjata sucinya yang memancarkan proyeksi energi ke arah Cyffredinol.
“Aisling… Apa yang kau lakukan?” Raquille langsung maju ketika untuk menghadang Aisling yang kemungkinan hendak menyerang Cyffredinol.
Akan tetapi, saat melihat Cyffredinol mengangkat tangannya, pemuda Elfman itu pun langsung berhenti, mengurungkan niatnya karena paham bahwa Cyffredinol dapat mengatasi hal tersebut.
“Kau ingin menyerangku… Jika itu bisa membuatmu puas, maka seranglah aku sekarang… Aku tidak akan melawan sedikitpun,” ucap Cyffredinol dengan ekspresi wajah serius mengatakan hal tersebut kepada perempuan yang berada di depannya tersebut.
Cyffredinol pun langsung melepas busur panahnya, hingga terjatuh ke tanah dan dengan pasrah akan menerima serangan yang hendak dilancarkan oleh Aisling.
Melihat hal tersebut Aisling pun merasa kesal, dengan cepat perempuan itu langsung melancarkan sebuah serangan proyeksi energi, namun dengan sengaja mengarahkannya ke samping Cyffredinol karena tidak tega untuk menyerang pria Elfman itu.
Walaupun sempat percaya bahwa Cyffredinol dapat menangani hal tersebut, namun Raquille pun tetap merasa ragu karena mengetahui bahwa Aisling cukup lebih kuat dibandingkan dengan saudaranya tersebut. Ketika Aisling ternyata tidak serius ingin menyerang Cyffredinol, Raquille pun nampak merasa legah dengan hal tersebut.
“Ternyata kau tidak bisa menyerang pria ini… Bagaimanapun aku juga tahu bahwa kau masih mencintainya,” ucap Raquille.
“Sial…” Umpat Aisling dengan kesalnya, karena tidak bisa menyerang Cyffredinol yang sudah berada tepat di depannya tersebut.
“Maaf Aisling… Karena kau merupakan musuh kami, maka kami tidak bisa bersikap baik kepadamu serta para Venerate Ierua yang lain… Setidaknya kau harus menjadi tawanan kami dan semua Venerate Ierua yang ada disini,” ucap Raquille.
Aisling pun tidak bisa berbuat apa-apa kali ini karena sudah menyadari bahwa pihaknya tidak akan mampu melawan musuh-musuh mereka tersebut.
***
Di sisi lain, tampak Phyton datang menghampiri Magelline, perdana menteri negeri Brizora.
“Ada apa Phyton?” Tanya perdana menteri Brizora tersebut.
“Maaf nyonya Magelline… Apakah bisa semua Venerate tak perlu ditawan? Namun sebagai gantinya mereka semua akan dipaksa untuk memakai gelang seperti ini,” jawab Phyton, bermohon kepada Magelline untuk tidak menawan para Venerate Ierua, termasuk Aisling ibunya, sambil memperlihatkan gelang kekangan surgawi kepada perdana menteri Brizora itu.
“Gelang yang mampu mengekang kekuatan dari para Venerate layaknya menjadi manusia biasa… Kurasa itu adalah pilihan yang terbaik karena aku juga merasa sedikit kasihan dengan mereka yang ditinggal oleh dua World Venerate pengecut itu…” Ucap Magelline, menyetujui usulan yang diberikan oleh pemuda itu.
“Maaf Phyton jika aku terpaksa menghina kakekmu itu,” lanjut Magelline berkata.
“Tidak masalah nyonya Magelline… Aku juga tidak memperdulikan tentang hal itu,” respon Phyton, mengatakan bahwa pernyataan dari Magelline memang tidak ada salahnya.
***
Beberapa saat kemudian, para Venerate Ierua dikumpulkan ke satu tempat untuk satu per satu mulai dipakaikan gelang kekangan surgawi oleh Phyton dan para Venerate Pavonas.
Ketika Phyton akan memakaikan gelang kepada Aisling ibunya, pemuda itu sontak sejenak terdiam menatap Aisling dengan menunjukkan ekspresi kesal karena sebelumnya mengingat bahwa ibunya tersebut sempat ingin mencoba untuk menyerangnya.
Namun, Phyton tidak mau memikirkan hal tersebut lebih panjang lagi, dan langsung memakaikan gelanng tersebut kepada Aisling, hingga membuat perempuan itu yang merupakan World Venerate telah menjadi layaknya manusia biasa.
“Apakah kau baik-baik saja selama ini?” Tanya Aisling mengenai keadaan dari putranya tersebut.
“Tentu saja aku baik-baik saja… Walaupun sempat terpengaruh kekuatan dari cawan sebelumnya…” Jawab Phyton.
“Kau menjadi salah satu pemimpin wilayah di Pavonas…” Aisling pun lantas terkejut tidak menyangka mendengar pernyataan dari putranya tersebut.
“Memangnya kau pikir aku tidak bisa menjadi pemimpin di usiaku yang masih belum menginjak dua puluh tahun… Lagipula aku adalah Continent Venerate…”
“Tidak… Ibu malah merasa bangga denganmu,” ucap Aisling sambil tersenyum.
Phyton pun langsung membalas senyuman ibunya tersebut dengan membalas memperlihatkan ekspresi tersebut.
“Baiklah… Waktunya untuk peserta berikut…” Setelah selesai memakaikan gelang kekangan surgawi kepada Aisling, Phyton kemudian berpindah ke Venerate Ierua yang selanjutnya, yang tidak lain merupakan Hazelise.
Ketika akan menarik salah satu tangan Hazelise, tiba-tiba putri Ierua itu langsung menepis tangan Phyton.
Tidak mau menyerah, Phyton pun kembali mencoba menarik tangan Hazelise, namun tetap saja perempuan itu langsung menepisnya kembali.
“Hei bi… Maksudku kakak… Cepat berikan tanganmu sekarang,” ucap Phyton.
“Tidak mau… Memangnya kenapa?” Namun, Hazelise tetap menolak dan malah menantang pemuda itu.
Raquille yang berada di tempat tersebut seketika datang mendekat lalu mengambil gelang yang dipegang oleh Phyton.
“Eh…” Dengan kelincahannya, Raquille pun langsung bisa memakaikan gelang kekangan surgawi ke salah satu tangan Hazelise.
“Hei, kenapa denganmu?” Tanya Raquille, nampak keheranan melihat ekspresi yang nampak senang setelah pemuda Elfman itu memakaikan gelang tersebut ketangannya.
Hazelise pun dengan sigap langsung merangkul tangan Raquille, hingga membuatnya langsung terkejut.
“Pangeran Raquille… Aku sekarang tidak memiliki kekuatan lagi… Aku mohon tolong lindungi aku dari orang jahat,” ucap Hazelise.
“Tentu saja tuan putri… Walaupun kita berada di pihak yang berbeda, namun aku tidak akan membiarkan perempuan sepertimu diperlakukan buruk… Apalagi saat ini kau masih tidak bisa menggunakan kekutan.” Raquille pun langsung memanfaatkan keadaan tersebut dengan tidak lupa untuk sedikit menggoda putri negeri Ierua tersebut.
Hyphilia yang secara kebetulan berada di tempat itu, lantas langsung bereaksi ketika melihat Hazelise merangkul tangan Raquille. Tanpa pikir panjang Hyphilia datang menghampiri mereka dan langsung menarik rambut Hazelise, hingga rangkulan tangannya terlepas dari tangan Raquille.
“Ah… Apa yang kau lakukan? Lepaskan rambutku…” Ucap Hazelise, nampak kesakitan ketika rambutnya ditarik oleh Hyphilia.
“Beraninya kau menggoda dia,” ucap Hyphilia.
“Kakak, tolong jangan seperti ini…” Tidak mau membiarkan perbuatan Hyphilia menyakiti perempuan itu, Raquille pun langsung mencoba melepaskan cengkraman tangan Elfman perempuan itu dari rambut Hazelise.
Karena mendengarkan permintaan dari Raquille, Hyphilia pun langsung melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Hazelise.
“Hei rambut putih… Apa kau punya masalah denganku? Apa kau merasa cemburu jika aku menggodanya?” Tanya Hzelise sambil menatap tajam Hyphilia, tampak kesal mengingat Elfman perempuan itu menarik rambutnya.
“Tentu saja… Lagipula aku adalah tunangannya… Apa kau ada masalah dengan itu?” Balas Hyphilia, yang juga langsung menatap tajam putri tersebut.
“Tunangan… Dia adalah tunanganmu?” Hazelise pun langsung terkejut mendengar pernyataan dari Hyphilia, dan langsung bertanya kepada Raquille untuk memastikannya.