
“Yang mulia, setelah mendengar tertangkapnya saudaraku Cyffredinol oleh kubuh timur, aku bersama dengan saudaraku seketika berangkat kemari tanpa membawa pasukan,” ucap Aguirre.
“Seratus lima puluh prajurit Fuegonia yang berada di kota ini, hanyalah para prajurit yang berhasil selamat dari peperangan sebelumnya,” lanjutnya.
“Haah… Kau pikir ini sebuah lelucon? Apa kalian tidak tahu bahwa pasukan kubuh timur bahkan dua kali lebih banyak dari pasukan kita yang ada sekarang?” Salah satu perwakilan dari negeri Calferland sontak berdiri dan membentak Aguirre karena memberikan pernyataan seperti itu.
“Tapi, kami sebelumnya telah mengirim lebih dari seribu pasukan ke medan perang ini, yang bahkan hanya mati sia-sia. Dua Continent Venerate kami bahkan kini telah tetangkap oleh kubuh timur,” balas Aguirre, tidak mau kalah dengan bentakkan prajurit Calferland tersebut.
“Heh…” Prajurit itu kemudian kembali membalas Aguirre dengan memasang ekspresi sinis.
“Kurasa tuan gubernur letnan jendral benar. Setidaknya negeri-negeri dari Aizolica telah berkontribusi dengan mengirim prajurit ke peperangan ini,” ucap salah satu perwakilan negeri Erstleland, membela Aguirre.
“Benar sekali, bahkan dengan datangnya para pemimpin negeri Fuegonia dan negeri Lightio membantu kita melawan kubuh timur, itu sudah lebih dari cukup.” Geonard, raja negeri Frieden tersebut juga menyetujui hal tersebut.
Pria yang berasal dar negeri Calferland itu dengan kesal kembali duduk di kursinya karena tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan membahas tentang rencana penyerangan balik mereka pada negeri-negeri timur.
Para perwakilan negeri-negeri dari anggota organisasi GANCO tersebut sontak menyetujui untuk mengambil alih kembali wilayah yang telah direbut oleh negeri-negeri kubuh timur.
Penyerangan akan dimulai oleh para pasukan negeri Calferland dan negeri Serepusco dibantu dengan Raquille untuk merebut kembali wilayah mereka dari penguasaan negeri Gimoscha, negeri di bagian selatan benua Greune yang menjadi salah satu anggota dari kubuh timur.
Selanjutnya pasukan kedua negeri tersebut akan maju ke wilayah negeri Gimoscha untuk menahan pergerakkan mereka. Sebagian dari pasukan lain akan membantu pasukan negeri Nascunia untuk mengambil alih kembali wilayah Nascunia yang telah direbut oleh negeri Geracie.
Pasukan Nascunia dibantu oleh pasukan Calferland beserta Raquille yang telah merebut wilayah Nascunia kembali akan maju ke negeri Geracie untuk menahan pergerakkan negeri kubuh timur itu juga.
Lalu, para pasukan dari negeri lainnya akan melakukan penyerangan mereka pada negeri-negeri bangsa Slivan, Pavonas, Graina dan Riemic. Pasukan dari negeri Midauz dibantu pasukan Brizora akan merebut kembali wilayah Midauz dari dudukan negeri Graina. Pasukan negeri Erstleland bersama dengan pasukan Fuegonia yang dipimpin oleh Aguirre akan menyerang wilayah dudukan negeri Riemic pada wilayah Frieden. Sedangkan pasukan Frieden dan Lightio akan mengambil alih wilayah Frieden dari dudukan negeri Pavonas.
Setelah pengambilalihan wilayah tersebut dari negeri-negeri kubuh timur, pasukan Frieden, Lightio, Erstleland, Fuegonia, Midauz serta Brizora akan menyerang tiga kota negeri-negeri bangsa Slivan. Erstleland dan Fuegonia akan menyerang kota Nilivus yang berada di negeri Riemic, Midauz dan Brizora akan menyerang kota Lynerbyich negeri Graina, dan Frieden serta Lightio akan menyerang kota Vinks negeri Pavonas.
“Aku harap rencana awal ini akan berjalan sesuai yang kita harapkan… Jika tidak demikian, maka tinggal menunggu waktu kubuh timur akan menguasai benua ini,” ucap raja negeri Frieden.
“Pertemuan kita berakhir sampai disini saja. Untuk selanjutnya, aku sangat berharap kepada kalian semua.”
Setelah pria itu selesai berbicara, satu per satu dari perwakilan negeri anggota organisasi GANCO tampak meninggalkan ruangan tersebut.
Di dalam ruangan tersebut kemudian hanya tersisa Raquille dan Aguirre bersama dengan World Venerate wanita, salah satu perwakilan dari negeri Frieden.
“Hei, gadis cantik… Apa kau salah satu dari ras penghisap darah itu?” Tanya Raquille menduga perempuan tersebut merupakan ras Vampireman dengan melihat warna kulitnya yang pucat.
“Aku juga sedari tadi curiga terhadapmu. Tidak ada manusia atau bahkan ras campuran lain yang memiliki kulit sepucat dirimu… Tidak mungkin kau itu adalah mayat hidup kan?” Sambung Aguirre, menyindir perempuan itu.
Perempuan itu sontak langsung menatap tajam kedua Elfman itu ketika mendengar pertanyaan dan sindiran dari mereka.
“Kalau iya memangnya kenapa dengan hal itu? Ras penguping,” jawab perempuan itu dengan menyindir balik kedua Elfman itu.
Raquille dan Aguirre pun seketika terkejut mendengar jawaban serta sindiran dari perempuan yang merupakan salah satu dari ras Vampireman tersebut.
*
“Sialan… Ras penguping katamu?” Kata Raquille dalam hati.
“Ternyata benar… Tapi, bagaimana bisa perempuan itu diterima di negeri ini?” Kata Aguirre juga dalam hati,
**
“Hei, bocah-bocah… Apa orangtua kalian tidak pernah mengajari berbicara dengan sopan pada orang yang jauh lebih tua?” Kata Vampireman itu dengan nada tinggi.
“Cucu-cucuku bahkan lebih tua dari kalian berdua,” lanjutnya, yang kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Jadi gadis cantik itu sudah memiliki cucu yah…” Kata Raquille nampak terkejut.
“Hei, dia itu sudah nenek-nenek. Kenapa kau masih memanggilnya gadis,” kata Aguirre.
***
Beberapa saat kemudian, Raquille dan saudaranya, Aguirre kembali berada di dalam ruangan kastil, tempat mereka menunggu sebelumnya.
“Haah… Padahal sebenarnya aku ingin secepatnya menyelamatkan kak Cyffredinol dan kak Achilles.” Raquille duduk di sebuah sofa sambil mengangkat kakinya nampak mengkhawatirkan kedua saudaranya.
“Sepertinya kita harus menunggu sedikit lagi untuk menyelamatkan mereka,” kata Aguirre.
“Tapi, kakak… Kau pasti tahu kan bahwa negeri Pavonas yang luas itu pernah mengambil kristal berpijar dari Akalsa?” Tanya Raquille.
“Iya, aku tahu.”
“Beberapa minggu yang lalu… Eh, maksudku sepuluh tahun yang lalu, Guardian memakai batu itu untuk menghancurkan bangunan-bangunan tinggi di negeri benua Avanca.”
“Hanya sebongkah dari batu tersebut, bangunan-bangunan itu seketika bisa rata dengan tanah,” kata Raquille.
“Berarti, kita tidak boleh meremehkan negeri itu. Mereka saat ini memang menjadi ancaman terbesar kubuh barat, karena memiliki benda itu,” respon Aguirre.
Tak berapa lama kemudian, terlihat seseorang masuk ke dalam ruangan itu.
“Salam tuan-tuan dari Fuegonia, aku Mayorio Armadura, perwakilan dari negeri Serepusco… Aku ingin menginformasikan bahwa tuan Raquille akan ikut bersama kami ke kota Dramid, ibukota negeri Serepusco,” kata prajurit tersebut.
“Sepertinya sudah waktunya.” Raquille pun seketika berdiri dari sofa setelah mendengar kata prajurit bernama Mayorio itu.
“Kakak… Kalau begitu, aku pergi dulu,” lanjutnya, berpamitan pada Aguirre.
“Iya, berhati-hatilah,” balas Aguirre.
“Tenang saja, setelah aku mengalahkan Gimoscha dan Geracie, aku pasti akan datang membantu kalian menyerang Pavonas,” kata pemuda Elfman itu dengan percaya dirinya.
“Kawan, ayo kita pergi sekarang.”
Raquille bersama prajurit dari Serepusco itu pun kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
***
Beberapa saat kemudian Raquille dan prajurit Serepusco itu datang ke area landasan pendaratan pesawat tempur negeri Serepusco.
Prajurit itu bersama dengan Raquille lalu masuk ke dalam pesawat tersebut melewati pintu belakang yang telah terbuka.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam pesawat pintu belakang itu kemudian menutup dengan perlahan-lahan.
Terlihat dua prajurit perwakilan negeri Serepusco yang sebelumnya berada di ruangan pertemuan berada di dalam pesawat tersebut datang menghampiri Raquille.
“Tuan Raquille, senang bertemu dengan anda… Namaku Clava Armudura,” kata salah satu prajurit.
“Senang bertemu denganmu juga, tuan Clava,” respon Raquille.
“Senang bertemu dengan anda tuan Raquille… Aku Arepo Armadura,” kata salah satu prajuirt yang lain.
“Senang bertemu denganmu, tuan Arepo.”
Setelah Raquille berkenalan dengan para prajurit Serepusco, di saat yang bersamaan pesawat tersebut lepas landas dan terbang menuju negeri Serepusco.
***
Di negeri Pavonas, terlihat perempuan yang bernama Erissa tampak berjalan sendirian memasuki sebuah penjara yang sunyi. Dia berjalan menyusuri penjara itu lebih dalam, sampai pada kemudian perempuan itu tiba di depan sebuah ruangan tahanan.
Terlihat seorang pemuda yang pernah berusaha menyerang Rumen, pemimpin negeri Pavonas, namun akhirnya digagalkan oleh perempuan tersebut tampak duduk tertunduk di sebuah kursi dengan sebuah borgol yang telah membelenggu kedua tangan dan kakinya.
“Ternyata kau… Ada apa kau kemari?” Respon pemuda tersebut, melihat perempuan itu tiba-tiba masuk ke dalam.
Erissa kemudian berjalan mendekat dan membungkuk mendekatkan kepalanya pada pemuda tersebut.
“Kau prajurit dari negeri Erstleland yang sebelumnya kan?” Tanya Erissa.
“Heh…” Dengan sinis pemuda itu membuang wajahnya, tidak mau melihat perempuan itu.
Melihat pemuda itu memalingkan wajahnya, Erissa sontak memegang kepala pemuda itu agar kembali menatapnya.
“Aku ingin memberikan sebuah tawaran padamu… Bergabunglah bersamaku untuk mengalahkan Rumen Sayruz,” kata perempuan itu.
“Mengalahkan Rumen Sayruz katamu?” Ekspresi pemuda itu sontak terkejut setelah mendengar pernyataan dari perempuan itu.
“Sebenarnya orang itu menyuruhku untuk mengendalikan kalian para tahanan untuk menjadi patuh padanya… Namun, aku lebih memilih untuk tidak melakukannya. Akan lebih baik jika kalian bergabung bersamaku untuk mengusir penindas itu dan bersama-sama membangun negeri ini menjadi lebih baik lagi.”
“Maukah bergabung denganku?”
Sambil menatap Erissa, pemuda itu sontak termenung setelah mendengar tawaran untuk bergabung dengan perempuan itu.
“Jika itu pilihan terbaik, maka aku menerimanya.” Seketika pemuda itu setuju dengan tawaran dari Erissa.
Erissa pun tersenyum mendengar persetujuan dari pemuda itu. Dengan sekejap borgol yang membelenggu tangan kakinya terbuka dan jatuh ke lantai.
Pemuda tersebut sontak terkejut, namun seketika tangannya ditarik oleh Erissa, yang membuatnya langsung berdiri.
“Kalau begitu, siapa namamu?” Tanya Erissa.
“Verre Agde…” Jawab pemuda itu.
***
Di lain tempat, berpindah ke pesawat yang dinaiki oleh Raquille, yang kini telah memasuki wilayah dari negeri Serepusco.
Terlihat di dalam, Raquille berdiri didepan salah satu jendela pesawat sambil memperhatikan keluar dari daratan negeri Serepusco yang didominasi oleh daratan tinggi dan rangkaian pegunungan yang menjulang tinggi ke langit.
Tak berapa lama, pria bernama Clava datang menghampiri pemuda Elfman yang sedang memperhatikan pemandangan negeri tersebut.
“Tuan Raquille, selamat datang di negeri Serepusco, negeri yang terletak di semenanjung Airebi, dan salah satu negeri dari bangsa Seremoschan.”
“Bukankah negeri ini merupakan perbatasan benua?” Tanya Raquille.
“Iya tuan… Dan lebih penting lagi, negeri ini juga merupakan tempat penyebrangan ke benua Avanca,” jawab pria bernama Clava sambil memberikan suatu fakta lain.
“Jadi, selain Geracie dan negeri didekatnya, negeri ini juga merupakan jalan masuk ke benua itu?” Raquille pun sontak terkejut setelah mendengar hal tersebut dari pria Serepusco itu.
“Ngomong-ngomong... Aku mendengar bahwa wilayah pesisir Serepusco dan Calferland telah diduduki oleh Gimoscha.” Raquille kemudian mengganti pembahasannya mengenai wilayah kubuh barat yang dikuasai oleh kubuh timur.
“Benar sekali tuan, wilayah yang direbut oleh Gimoscha seluas tiga ratus ribu kilometer persegi, mencakup wilayah pesisir timur, wilayah pesisir selatan dan pulau-pulau dari negeri Serepusco maupun Calferland.”
Saat menjelaskan hal tersebut pada Raquille, tiba-tiba seorang prajurit datang dengan tergesa-gesa sampai menabrak pria bernama Clava tersebut.
“Hei, ada apa?” Tanya Clava sambil menahan prajurit itu agar tidak terjatuh.
“Tuan, ternyata anda disini… Ini gawat, pasukan Giimoscha yang menduduki wilayah pesisir timur telah maju dan menyerang kota Ceabalte.”
“Apa…? Jadi mereka lebih dulu melakukan pergerakkan lagi…” Sontak pria bernama Clava itu terkejut setelah mendengar hal tersebut.
“Tuan Juaferrex telah memerintahkan untuk langsung menuju kota Ceabalte,” kata prajurit tersebut.
“Tuan Raquille, maaf jika ini sangat terburu-buru, tapi sepertinya kita harus segera bergerak duluan,” kata Clava.
“Tidak masalah… Lagipula aku datang kemari ingin menundukkan kubuh timur,” respon Raquille.
Pria bernama Clava itu sontak berjalan mendekati salah pintu pesawat dan langsung membukanya disaat pesawat tersebut sedang mengudara di langit.
“Tuan Clava… Apa anda lakukan?” Tanya prajurit tersebut, tidak mengerti mengapa pria itu membuka pintu pesawat.
“Aku duluan,” jawab Clava.
Tanpa pikir panjang, pria itu kemudian melompat keluar pesawat dan terbang dengan kecepatan tinggi.
“Wuu… Huu…” Dengan berteriak, Raquille pun melompat keluar mengikuti pria itu terbang dengan kecepatan tinggi mendahului pesawat tersebut.
***
Tampak beberapa mil dari kota yang akan dituju oleh Raquille dan Clava, terlihat barisan artileri dari pasukan negeri Gimoscha telah siap untuk ditembakkan.
“Tembak…!”
Dengan aba-aba dari salah satu prajurit Gimoscha, sepuluh sampai dua puluh lebih tembakan proyektil dari artileri yang membaris tersebut meluncur dengan kencangnya ke arah kota dan seketika menghancurkan bangunan-bangunan kota tersebut.
Namun anehnya, saat tembakkan-tembakkan tersebut meluncur ke arah kota tersebut, tidak ada satupun dari para prajurit atau para warga yang berada di tempat itu.
**
“Kakak… Sebenarnya kita tidak perlu melakukan hal ini. Para warga juga sudah lebih dulu meninggalkan kota itu,” kata prajurit yang memberikan perintah sebelumnya.
“Mau mereka masih ada ataupun tidak, kita tetap harus menyerang kota itu sampai porak-poranda.” Nampak seorang pria sedang duduk santai di sebuah kursi sambil memerintahkan para bawahannya untuk terus menyerang kota di depan mereka.
“Tapi… Akan lebih baik jika kita memakai kota itu sebagai pangkalan kita,” kata prajurit yang sebelumnya, nampak tidak setuju dengan perintah pria yang duduk tersebut.
“Apa? Sejak kapan aku mengijinkan kalian untuk menginap. Kita harus tetap maju sampai ke ibukota Serepusco setelah menghancurkan kota itu.” Pria itu sontak berdiri dari kursinya dan mendekati prajurit yang tidak mengindahkan perkataannya tersebut.
“Aku menolaknya.” Kata prajurit itu, tetap tidak mau memberikan perintah untuk melakukan serangan kembali.
Mendengar hal tersebut, pria itu sontak mencengkram leher dari prajurit tersebut dan mendorongnya hingga terjatuh.
“Semua bersiap…!” Pria kemudian memberi aba-aba kepada para prajurit untuk bersiap melakukan serangan kembali.
“Tembak…!”
Seketika tembakkan dari artileri itu pun meluncur kembali dengan kencangnya ke arah kota di depan mereka.
“Ice shaping… Mythical ice dragon…”
Tiba-tiba seekor naga es muncul dan langsung menyambar seluruh tembakkan proyektil tersebut hingga lenyap.
“Apa…?” Pria itu bersama para prajurit Gimoscha seketika terkejut melihat hal tersebut.
Di saat yang bersamaan, seketika Clava datang meluncur ke arah para prajurit Gimoscha dan mengeluarkan tekanan kekuatannya, sehingga membuat para prajurit itu bersama dengan senjata-senjata artileri mereka terhempas ke berbagai arah.
“Clava Armadura…” Namun, hanya pria yang sebelumnya memberikan perintah tampak tidak bergeming sedikitpun dengan tekanan kekuatan dari pria Serepusco itu.