The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 249 - Phyton mengingat masa lalunya



Refleksi masa lalunya kemudian memperlihatkan ketika Cadhan datang, dan dengan paksa membawa Phyton yang masih berusia kurang dari enam tahun tersebut, bersama dengan Aisling ibunya yang sudah tidak sadarkan diri. Selanjutnya memorinya berpindah ketika saat Cadhan menjebak Phyton agar Barnedict mampu untuk menghapus ingatannya atas perintah dari perdana menteri Ierua tersebut.


“Aku mengingatnya kembali sekarang…” Gumam Phyton, nampak merasa senang bercampur sedih ketika bisa kembal mengingat memori masa lalunya, yang ternyata sangat mengenal Cyffredinol sebagai ayahnya.


****


“Eh…” Dalam sekejap Phyton pun membuka kedua matanya, dan akhirnya bisa tersadar kembali dari halusinasi yang dibuat oleh Raquille serta Haltryg.


Saat pertama kali tersadar, pemuda itu langsung melihat ke arah Cyffredinol, hingga membuatnya sontak meneteskan air mata.


“Ayah…” Tanpa pikir panjang, Phyton pun langsung menghampiri Cyffredinol kemudian memeluk pria Elfman itu dengan erat.


“Phyton… Apa kau sudah mengingatnya kembali?” Hal tersebut lantas membuat Cyffredinol pun terkejut, hingga langsung bertanya kepada putranya tersebut.


“Tentu saja ayah… Maafkan aku karena sebelumnya melupakan bahwa kau adalah ayahku… Padahal beberapa tahun yang lalu aku memang sangat mengenalmu,” jawab Phyton.


Cyffredinol pun langsung merasa senang ketika mendengar bahwa putra satu-satunya tersebut kini kembali bisa mengingat dirinya lagi.


“Aku bersyukur kau bisa mengingat ayah kembali Phyton… Sudah lama kita tidak bertemu, ternyata kau sudah sebesar ini,” ucap Cyffredinol, merasa bangga sambil membalas pelukan dari putranya tersebut.


“Aku tidak akan pernah lupa dengan pengorbananmu pada saat itu… Terima kasih karena telah berusaha melindungiku bersama ibu,” ucap Phyton.


Setelah melepas rindunya ketika kembali mengingat Cyffredinol sebagai ayahnya, Phyton kemudian datang menghempiri Aisling, dan seketika juga memeluk ibunya tersebut.


“Ibu… Walaupun saat kehilangan ingatan kau bisa meyakinkanku kembali bahwa kau adalah ibuku, namun aku tahu bahwa kau sangat sedih ketika kenanganmu bersama denganku telah hilang dari ingatanku… Aku sangat senang bisa mengingat kembali ingatanku tentangmu sebelum hal itu terjadi,” ucap Phyton kepada Aisling.


“Iya Phyton… Ibu juga merasa bahagia kini kau bisa kembali ke dirimu yang dulu,” respon Aisling, merasa bahagia mendengar putranya tersebut bisa kembali mengingat potongan masa lalunya yang sempat dilupakan.


“Walaupun begitu, kau harus berterima kasih kepada pamanmu itu… Karena berkatnya, kau bisa kembali mengingat kenangan masa lalumu kembali,” lanjut Aisling berkata, menyuruh putranya tersebut untuk berterima kasih kepada Raquille, yang tidak lain merupakan paman dari pemuda tersebut.


Mendengar hal tersebut, Phyton pun melepaskan pelukannya pada Aisling, kemudian datang menghampiri Raquille.


“Paman Raquille… Terima kasih karena telah membantuku mengembalikan ingatanku kembali… Aku sekarang jadi ingat bahwa kau juga merupakan orangtua ketiga selain ayah dan ibu ketika kita semua berada di pulau Manyca,” ucap Phyton, berterima kasih kepada Raquille yang kini telah mengubah sebutannya kepada pemuda Elfman itu sebanagi paman, sambil memperlihatkan ekspresi senyuman.


“Walaupun saat itu aku masih sangat kecil, namun aku tetap tidak pernah menyalahkanmu atas apa yang terjadi kepada kami… Aku bahkan saat itu mengkhawatirkan keadaanmu paman ketika mendengar bahwa kau menghilang dan tidak tahu bagaimana kabarmu,” lanjut Phyton berkata.


“Jangan khawatir Phyton… Sudah seharusnya aku membantumu mengingat kembali kenangan masa lalumu yang sempat hilang…”


“Walaupun kau tidak pernah menyalahkanku, namun aku tetap merasa tidak nyaman ketika mendengar bahwa kalian saat itu sempat kesusahan… Tapi, aku bersyukur bahwa kau dan kedua orangtuamu masih bisa selamat setelah kejadian itu,” respon Raquille, setelah mendengar pernyataan dari Phyton.


“Tapi… Ada satu hal yang sebenarnya harus kau ketahui.” Tiba-tiba wajah Raquille berubah menjadi serius ketika mengatakan hal tersebut.


“Ekh… Maksudnya apa paman?” Tanya Phyton, merasa kebingungan melihat ekspresi dari pamannya itu yang tiba-tiba berubah menjadi serius.


“Jadi aku harus memanggilmu apa?” Tanya Phyton lagi, setelah mendengar pernyataan dari pemuda Elfman itu yang tidak mau dipanggil oleh Phyton dengan sebutan paman.


“Panggil aku kakak… Karena jika seorang pemuda sepertimu memanggilku dengan sebuatan paman itu akan membuatku terlihat tua,” jawab Raquille.


“Kakak… Apa tidak bisa memanggilmu?”


“Tidak bisa… Kau harus membiasakan panggilan itu kepadaku,” ucap Raquille dengan tegas.


“Baiklah… Kakak Raquille, walaupun begitu kau tetap menjadi pamanku…”


“Haah… Ternyata kau sama saja seperti bibi Hazelise, walau dalam kasus ini kau sebenarnya dalam kasus ini kau sekarang memang jauh lebih muda dibandingkan dengan perempuan itu,” gumam Phyton.


Mendengar perbincangan dari Phyton dan Raquille, membuat Aisling pun nampak kebingungan karena perempuan itu masih belum mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai Raquille yang telah melompat ke masa depan.


“Tunggu dulu… Aku tidak paham dengan pembicaraan kalian… Kau sekarang berbeda tiga sampai empat tahun dengan Phyton?”


“Aisling setidaknya kau adalah orang kesekian kalinya yang harus kujelaskan bahwa mengenai ini…”


Raquille pun tidak henti-hentinya merasa bosan ketika harus menjelaskan mengenai kejadian sepuluh tahun, dimana dirinya saat itu masuk ke dalam lubang dimensi yang mengirimnya sampai ke masa sepuluh tahun ke depan, yang membuat Aisling pun nampak kebingungan dan harus berpikir lebih keras untuk memahaminya.


“Jadi, bisa dibilang bahwa kau adalah Raquille yang berasal dari sepuluh tahun yang lalu, dan pada masa kini kau masih berusia sekitar dua puluh tahun?”


Raquille pun mengangguk, merespon pertanyaan dari Aisling bahwa hal tersebut memanglah benar adanya.


“Bagaimana mungkin ini terjadi? Tapi, jika seperti itu, maka perbedaan umur kita dengan Raquille sudah terpaut sekitar empat belas tahun…” Ucap Aisling pada Cyffredinol.


“Iya… Seperti itulah, aku bahkan tidak menyangka bahwa perbedaan usia kita dengan Elfman ini sudah layaknya paman dan bibi kepada anak atau keponakannya,” respon Cyffredinol.


Aisling pun menggelengkan kepalanya, tidak menyangka bahwa hal tersebut memanglah benar.


Tiba-tiba Aisling mendekat ke arah Raquille kemudian langsung mencengkram kerah pakaian pemuda Elfman tersebut.


“Aisling… Apa-apaan kau? Apa kau masih belum menyerah setelah pasukan Ierua telah dikalahkan sebelumnya?”


“Tidak… Bukan itu… Karena usia kita sudah berbeda jauh, maka kau harus menunjukan rasa hormatmu kepadaku, dengan memanggilku kakak, seperti Cyffredinol.”


“Kenapa harus seperti itu? Tentu saja aku tidak mau…” Raquille pun langsung menolak ucapan dari Aisling.


Mendengar hal tersebut, Aisling tiba-tiba merasa kesal hingga langsung mengangkat salah satu tangannya, kemudian mengarahkannya ke arah Raquille.


“Eh… Apa yang sebenarnya terjadi?” Perempuan itu pun kebingungan ketika ingin hendak melancarkan sebuah serangan proyeksi, namun hal tersebut sontak tidak berhasil.